My WordPress Blog

Belasan Siswa dari 4 Sekolah Dirawat Usai Konsumsi Menu MBG, Wakil Ketua BGN Minta Maaf

Kecurigaan Keracunan Makanan di Sekolah-sekolah Duren Sawit

Sebanyak 72 siswa dari empat sekolah di Duren Sawit, Jakarta Timur, mendapat perawatan medis setelah mengalami gejala keracunan makanan. Insiden ini terjadi usai para siswa mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan pada hari Kamis (2/4/2026).

Keracunan diduga berasal dari menu MBG yang disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Kelapa 2. Data menunjukkan bahwa korban keracunan berasal dari SDN Pondok Kelapa 01, SDN Pondok Kelapa 09, dan SDN Pondok Kelapa 07. Setelah kejadian ini viral di media sosial, Badan Gizi Nasional (BGN) menyampaikan permintaan maaf pada Sabtu (4/4/2026).

BGN memastikan akan menanggung seluruh biaya pengobatan korban serta menghentikan operasional SPPG yang terkait. Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menjelaskan bahwa pihaknya tetap bertanggung jawab atas insiden tersebut.

“Kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini,” ujar Nanik. Ia juga memastikan bahwa SPPG Pondok Kelapa telah dihentikan sementara hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Alasan penghentian operasional adalah karena kondisi dapur, termasuk tata letak dan instalasi pembuangan air limbah (IPAL), masih belum memenuhi standar.

Menurut Nanik, SPPG menerima laporan dari guru tentang sejumlah siswa yang mengalami gejala seperti sakit perut, diare, dan mual setelah mengonsumsi makanan pada Kamis lalu. Menu yang disajikan saat itu meliputi spaghetti bolognese, bola-bola daging, scramble egg tofu, sayuran campur, serta buah stroberi.

“Seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis dan dilaporkan dalam kondisi membaik,” kata Nanik. Meski demikian, penyebab kejadian masih dalam penyelidikan. Sementara ini, dugaan sementara mengarah pada makanan yang tidak dalam kondisi segar. Jeda waktu yang terlalu lama antara proses memasak dan konsumsi berpotensi menurunkan kualitas makanan dan memicu gangguan kesehatan.

BGN berkomitmen untuk memperketat pengawasan guna mencegah kejadian serupa terulang dan menjamin keamanan pangan dalam pelaksanaan Program MBG.

Pengalaman Orang Tua Murid

Orangtua murid berinisial Z mengungkapkan bahwa kasus dugaan keracunan bermula ketika anaknya dan siswa lain mendapatkan MBG dengan menu spageti, tumis sayur, dan stroberi. “Biasanya menunya nasi. Anak-anak jarang dimakan. Nah kebetulan hari itu menunya spageti, anak-anak mungkin suka jadi banyak yang langsung dimakan di sekolah,” cerita Z.

Menurut keterangan anak Z, makanan yang disajikan tampak normal secara kasat mata. Tidak ada bau atau tekstur yang mencurigakan. Namun beberapa waktu setelah mengonsumsi MBG, para murid dan guru mengalami gangguan kesehatan, sehingga harus dibawa ke fasilitas kesehatan.

Beberapa orangtua murid yang turut mengonsumsi MBG pada hari itu juga mengalami gangguan kesehatan serupa. “Anak saya makannya enggak terlalu banyak, enggak habis. Tapi itu aja dia masih demam. Rata-rata sih (keluhannya) demam, pusing, paling parah ada sesak juga, ada yang sesak,” ujar Z.

Setelah kejadian, Dinas Kesehatan DKI Jakarta melakukan pengambilan sampel MBG yang dikonsumsi anak-anak dan guru untuk selanjutnya dilakukan uji laboratorium. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Sri Puji Wahyuni, mengatakan hingga kini hasil uji laboratorium masih menunggu.

“(Terdampak) Ada murid, guru dan orangtua. (penyebab) Masih dicurigai, karena hasil pemeriksaan laboratorium sampel makanannya belum keluar,” tutur Puji Wahyuni.


Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *