My WordPress Blog

Kepala SPPG Bunaken-Molas Jelaskan Alasan Layani Sekolah di Luar Wilayah

Kepala SPPG Bunaken-Molas Berkomitmen Lanjutkan Layanan Makanan Bergizi Gratis

Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bunaken–Molas, Vorianus BT, menunjukkan komitmennya untuk terus menyalurkan Makanan Bergizi Gratis (MBG) ke sejumlah sekolah yang membutuhkan. Meskipun lokasi beberapa sekolah berada di luar aturan Badan Gizi Nasional (BGN) yang menetapkan jarak maksimal 6 kilometer dari dapur, pihaknya tetap melayani tiga sekolah di Kelurahan Pandu yang jaraknya mencapai 9-10 kilometer.

Vorianus mengungkapkan bahwa ia sempat berencana untuk menghentikan atau mengurangi layanan tersebut. Namun, rencana itu urung dilakukan karena pertimbangan kemanusiaan dan kebutuhan siswa yang sangat mendesak.

“Saya sebenarnya ingin melepas karena sudah tidak sesuai ketentuan. Tapi tidak bisa, jadi tetap saya jalankan. Saya kasihan dengan anak-anak,” ujarnya pada Kamis (16/4/2026).

Tiga sekolah yang dilayani di Pandu mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meskipun tidak ada memorandum of understanding (MoU) antara SPPG dan sekolah-sekolah tersebut, Vorianus tetap menjalankan program ini sebagai bentuk pengabdian.

“Saya tidak ada MoU dengan mereka, karena itu tambahan. Tapi tetap saya salurkan karena pertimbangan kemanusiaan,” katanya.

Meski menghadapi keluhan dari tenaga kerja maupun pihak sekolah, Vorianus tetap menegaskan bahwa pelayanan akan terus berjalan sebagai bentuk tanggung jawab sosial.

“Pekerja juga mengeluh, tapi saya bilang ini bentuk pengabdian. Jangan cari enak, tetap jalan,” ungkapnya.

Ia juga mengakui bahwa hingga saat ini belum mengurangi jumlah penerima MBG meskipun anggaran tidak cukup. Seluruh biaya operasional dialihkan untuk kebutuhan makanan siswa.

“Anggaran saya hanya untuk 3.000 orang, tapi berjalan di hampir 3.800 bahkan sekarang sudah mendekati 3.900. Jadi anggaran operasional kami hilang, semua dialihkan ke makanan,” jelasnya.

Pada awalnya, wilayah Pandu tidak terlayani program MBG karena keterbatasan kapasitas dapur yang ada. Namun, melihat kebutuhan di lapangan, pihaknya tetap berupaya menjangkau sekolah-sekolah tersebut.

“Waktu itu belum ada SPPG di sana, sementara dapur lain yang lebih dekat juga sudah penuh. Jadi kami upayakan masuk karena kasihan anak-anak belum tersentuh program,” katanya.

Beruntung, saat ini sudah mulai ada penambahan fasilitas dapur untuk mengatasi kelebihan beban layanan. Vorianus telah melaporkan hal ini kepada atasan karena memang sudah over.

“Saya sudah laporkan ke atasan karena memang sudah over. Jadi sekarang mulai dibagi wilayah pelayanannya,” tambahnya.

Setidaknya dua dapur baru sedang disiapkan, termasuk di sekitar wilayah Pandu. “Sekarang sudah ada dua dapur. Satu di Pandu akan segera jalan, satu lagi di sekitar Batalyon Rider. Kalau itu sudah berjalan, kami bisa lepas sebagian wilayah,” ujarnya.

Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi beban layanan yang selama ini ditanggung SPPG Bunaken–Molas. Vorianus juga menyinggung tingginya antusiasme masyarakat terhadap program MBG, terutama di wilayah dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.

“Di wilayah ini, masyarakat sangat antusias karena memang sangat membutuhkan. Anak-anak juga senang sekali bisa dapat makanan di sekolah,” katanya.

Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, ia menegaskan komitmennya untuk tetap menjalankan program selama masih memungkinkan, sembari menunggu penyesuaian sistem dan dukungan anggaran dari pemerintah pusat.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *