Program WASH di Sekolah: Kolaborasi Lintas Pihak untuk Menciptakan Lingkungan Belajar yang Sehat
Dalam upaya memastikan lingkungan belajar yang sehat dan nyaman bagi siswa, berbagai pihak terlibat dalam program peningkatan infrastruktur Air, Sanitasi, dan Higiene (WASH) di lingkungan sekolah. Salah satu inisiatif yang dilakukan adalah lokakarya partisipatif yang diselenggarakan oleh UNICEF melalui Yayasan Aceh Hijau di SMPN 9 Banda Aceh. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan masukan dan umpan balik terhadap rencana pembangunan infrastruktur WASH di sekolah tersebut.
Tujuan dan Pelibatan Berbagai Pihak
Lokakarya yang berlangsung di aula sekolah ini melibatkan kolaborasi lintas sektor, termasuk Pemerintah Kota Banda Aceh, dinas teknis terkait, komite sekolah, serta siswa sebagai pengguna utama fasilitas. Pendekatan partisipatif ini menjadi kunci dalam memastikan perencanaan yang tepat sasaran, inklusif, dan berkelanjutan.
Acara ini dibuka oleh Staf Ahli Wali Kota Banda Aceh Bidang Keuangan, Pembangunan, dan Ekonomi, Said Fauzan, S.STP, MA, serta dihadiri oleh Kepala UNICEF Perwakilan Aceh (Andi Yoga Tama), Direktur Yayasan Aceh Hijau Syarifah Marlina Al-Mazhir. Selain itu, hadir juga perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Banda Aceh, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Banda Aceh, Badan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Aceh, dan Biro Administrasi Pembangunan Setda Aceh.
Apresiasi dari Kepala Sekolah
Kepala Sekolah SMPN 9 Banda Aceh, Nurdin, S.Ag., M.Pd, menyampaikan apresiasi atas terpilihnya sekolah tersebut sebagai penerima program Water, Sanitation and Hygiene (WASH) in School. Program ini mencakup pembangunan tiga unit toilet baru, rehabilitasi fasilitas sanitasi yang ada, serta penyediaan dua titik air minum bagi warga sekolah. Ia juga menekankan pentingnya komitmen bersama dalam menjaga dan merawat fasilitas yang akan dibangun.
Pengalaman Sebelumnya dan Visi Jangka Panjang
Direktur Yayasan Aceh Hijau, Syarifah Marlina menjelaskan bahwa program peningkatan WASH di sekolah ini sebelumnya telah dilaksanakan di empat sekolah dasar di Kabupaten Pidie pada periode 2024–2025. “Program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga mengedepankan proses perencanaan yang inklusif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, terutama siswa sebagai pengguna utama,” ujarnya.
Selain itu, program ini juga mendukung penguatan kapasitas warga sekolah dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran, mendorong perubahan perilaku, dan memastikan keberlanjutan pemanfaatan dan perawatan fasilitas yang dibangun nantinya.
Harapan dari UNICEF dan Pemerintah Daerah
Kepala Perwakilan UNICEF untuk Aceh, Andi Yoga Tama, mengharapkan agar pihak sekolah memastikan perawatan fasilitas air sanitasi yang dibangun nantinya dengan baik termasuk melakukan penyedotan septik tank secara rutin dan mengelola sampah di lingkungan sekolah.
Mewakili Wali Kota Banda Aceh, Said Fauzan menyampaikan apresiasi kepada UNICEF dan Yayasan Aceh Hijau atas kontribusinya dalam mendukung program sanitasi sekolah. Ia menegaskan bahwa program ini diharapkan menjadi model inspiratif bagi sekolah lain di Aceh, sekaligus mendorong perubahan perilaku siswa dalam menjaga kebersihan, mengurangi sampah plastik, dan memanfaatkan fasilitas sanitasi secara berkelanjutan.
Lebih lanjut, ia menekankan tiga pendekatan utama yang menjadi fondasi program, yaitu ketahanan iklim, inklusivitas, dan partisipasi. Dengan dukungan lintas sektor, Pemerintah Kota Banda Aceh menargetkan pencapaian 100 persen sekolah dengan fasilitas yang ramah anak dan inklusif.
Hasil dan Langkah Selanjutnya
Lokakarya ini menghasilkan sejumlah masukan dan kesepakatan strategis dari para peserta, termasuk siswa dan orang tua, yang akan menjadi dasar penyusunan dokumen teknis pembangunan fasilitas sanitasi di SMPN 9 Banda Aceh. Melalui inisiatif ini, diharapkan terwujud lingkungan sekolah yang sehat, aman, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Kota Banda Aceh.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."









