Kunci Jawaban Biologi Kelas 11 Semester 2 Kurikulum Merdeka Halaman 197
Aktivitas 6.11: Ayo Bereksplorasi
Pada halaman 197 buku Biologi Kelas 11 Semester 2 Kurikulum Merdeka, terdapat aktivitas yang berjudul “Ayo Bereksplorasi” yang mengajak siswa untuk memahami bagaimana penderita lumpuh dapat kembali berjalan dengan bantuan eksoskeleton. Berikut adalah penjelasan dan jawaban yang bisa menjadi panduan bagi siswa.
Kegiatan 1: Modifikasi Teknologi untuk Penderita Lumpuh
Untuk memahami lebih dalam tentang teknologi eksoskeleton yang digunakan oleh penderita lumpuh, siswa diharapkan menonton video dari DW Indonesia melalui tautan berikut: youtu.be/IK7IRhO9XEQ.
Setelah menonton video tersebut, siswa diminta memberikan dua usulan modifikasi teknologi inovatif yang bisa membantu penderita lumpuh kembali berjalan. Berikut beberapa contoh jawaban:
-
Membuat chip pengganti eksoskeleton
Chip ini akan berfungsi sebagai penghubung antara otak dan tubuh, mampu mengirimkan impuls listrik dari otak ke otot dan sebaliknya. Dengan demikian, penderita lumpuh dapat kembali menggerakkan kakinya tanpa perlu alat fisik seperti eksoskeleton konvensional. -
Alat pemperbaiki sel saraf
Alat ini dirancang untuk memperbaiki sel saraf yang tidak mampu melakukan regenerasi. Dengan memperbaiki kerusakan pada sistem saraf, penderita lumpuh bisa kembali memiliki kemampuan motorik yang normal.
Kegiatan 2: Simulasi Virtual Laboratorium Neurofisiologi dan Neurotoksik
Siswa juga diminta untuk melakukan simulasi virtual laboratorium tentang neurofisiologi dan neurotoksik serta hubungannya dengan pergerakan otot. Untuk mengakses simulasi tersebut, kunjungi tautan berikut: s.id/1rOUJ (tautan lengkap: www.labxchange.org/library/items/lb:LabXchange:71d4b3e8:lx_simulation:1).
Setelah melakukan simulasi, siswa diminta mencatat semua pengamatan dan mendiskusikannya dengan teman atau guru.
Berikut penjelasan mengenai mekanisme kerja normal (neurofisiologi), gangguan akibat zat kimia (neurotoksik), dan hubungan di antara keduanya:
1. Neurofisiologi Pergerakan Otot
Neurofisiologi adalah studi tentang bagaimana sel saraf (neuron) mengirimkan sinyal untuk menghasilkan kontraksi otot. Proses utama ini terjadi di Neuromuscular Junction (NMJ) atau sambungan saraf-otot.
- Potensial Aksi: Otak mengirimkan impuls listrik melalui neuron motorik menuju ujung saraf.
- Pelepasan Neurotransmitter: Ketika impuls mencapai ujung saraf, gelembung kecil (vesikel) melepaskan zat kimia bernama Asetilkolin (ACh) ke celah sinapsis.
- Aktivasi Reseptor: ACh menempel pada reseptor di permukaan otot, memicu perubahan listrik pada membran otot.
- Kontraksi Otot: Perubahan listrik ini melepaskan ion kalsium di dalam sel otot, yang menyebabkan protein aktin dan miosin bergeser dan memendek (berkontraksi).
- Terminasi: Enzim Asetilkolinesterase (AChE) kemudian memecah ACh agar otot bisa berelaksasi dan bersiap untuk gerakan berikutnya.
2. Neurotoksik (Neurotoksisitas)
Neurotoksik merujuk pada zat (toksin) yang mampu merusak, menghambat, atau mengganggu fungsi jaringan saraf. Dalam konteks pergerakan, racun ini biasanya menargetkan titik-titik kritis dalam komunikasi saraf-otot.
Zat neurotoksik dapat berasal dari:
- Logam berat: Merkuri, timbal.
- Biotoksin: Bisa ular, racun laba-laba, atau bakteri (Clostridium botulinum).
- Zat Kimia Buatan: Pestisida organofosfat, gas saraf.
3. Hubungan Neurotoksik dengan Pergerakan Otot
Neurotoksin mengganggu “jalur komunikasi” neurofisiologi di atas dengan beberapa cara utama:
-
Penghambatan Pelepasan Neurotransmitter
Beberapa toksin mencegah saraf melepaskan sinyal. Contoh: Botulinum Toxin (Botox).
Dampak: Sinyal tidak sampai ke otot, menyebabkan kelumpuhan flaksid (otot lemas dan tidak bisa kontraksi). -
Pemblokiran Reseptor Otot
Toksin menempel pada reseptor otot sehingga Asetilkolin (ACh) tidak bisa masuk.
Contoh: Racun Kurare (digunakan pada sumpit berburu) atau bisa ular kobra tertentu.
Dampak: Otot tidak menerima perintah untuk bergerak, menyebabkan kelumpuhan total termasuk otot pernapasan. -
Stimulasi Berlebihan (Overstimulasi)
Beberapa zat menghambat enzim pembersih (Asetilkolinesterase).
Contoh: Pestisida organofosfat dan gas saraf (Sarin).
Dampak: ACh terus menumpuk di celah sinapsis. Otot terus-menerus berkontraksi tanpa henti, menyebabkan kejang, kram hebat, dan kelelahan otot yang berujung pada gagal napas.
Demikian kunci jawaban Biologi Kelas 11 Semester 2 Kurikulum Merdeka halaman 197, kegiatan siswa Aktivitas 6.11: Ayo Bereksplorasi sesuai dengan Kurikulum Merdeka edisi tahun 2022.
Disclaimer:
Kunci jawaban di atas bersifat alternatif jawaban sehingga para siswa bisa memberikan eksplorasi jawaban lain. Kunci jawaban soal di atas bisa saja berbeda sesuai dengan pemahaman tenaga pengajar atau murid.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











