Petani Jembrana Diimbau Waspada Hadapi Musim Kemarau 2026
Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Jembrana telah memperingatkan para petani untuk mulai waspada terhadap dampak musim kemarau yang diperkirakan akan berlangsung pada April 2026. BMKG memprediksi bahwa musim kemarau akan dimulai pada bulan April mendatang, dengan puncaknya di bulan Agustus dan bisa berlangsung hingga Oktober. Untuk menghadapi situasi ini, petani diimbau untuk segera melakukan langkah-langkah antisipasi.
Salah satu cara yang disarankan adalah menerapkan skema pola tanam yang sesuai dengan kondisi cuaca saat ini. Dari data yang diperoleh, sedikitnya belasan subak di empat kecamatan wilayah Jembrana (kecuali Pekutatan) berpotensi terdampak oleh musim kemarau yang diprediksi berkepanjangan.
Kabid Pertanian, Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Jembrana, I Komang Ngurah Arya Kusuma menjelaskan bahwa secara umum, pemetaan wilayah atau subak yang rawan terhadap musim kemarau masih sama seperti tahun 2024. Namun, karena tahun lalu merupakan kemarau basah, masih terjadi hujan selama musim kemarau.
Arya menambahkan bahwa para petani khususnya di Gumi Makepung harus lebih waspada terhadap ancaman cuaca ekstrem. Beberapa tahun terakhir, cuaca yang tidak menentu menjadi salah satu kendala utama bagi petani. Cuaca ekstrem seperti musim kemarau yang berkepanjangan dapat menyebabkan lahan mengering hingga mengakibatkan gagal panen.
Untuk menghadapi hal ini, petani dapat melakukan berbagai langkah seperti efisiensi penggunaan air, optimalisasi pompa air, serta penggunaan varietas padi yang tahan terhadap kekeringan. Contohnya adalah varietas Batutegi, Sarinah, dan Inpari. Selain itu, petani juga diminta untuk tidak memaksakan diri menanam padi jika ketersediaan air benar-benar tidak memungkinkan, karena risiko gagal panen sangat tinggi.
Saat ini, berdasarkan laporan petugas di lapangan, lahan pertanian di Jembrana relatif aman. Belum ada laporan tentang tanaman padi yang terancam kekeringan. Namun, Arya tetap menyarankan agar para petani tetap waspada, karena cuaca yang tidak menentu bisa berdampak signifikan dalam waktu singkat.
Masalah Irigasi di Kecamatan Dawan
Di sisi lain, pendangkalan di sekitar bendung Sungai Unda, Kecamatan Dawan, Klungkung, membuat para petani khawatir akan gagal panen. Sedimentasi pasir di sekitar aliran sungai dan di pintu bendung menyebabkan air irigasi tidak mengalir lancar ke lahan pertanian warga di Kecamatan Dawan.
Seorang petani di Kecamatan Dawan, I Wayan Mardika, mengatakan bahwa kondisi ini telah terjadi sekitar satu minggu terakhir. Air irigasi yang mengalir ke lahan pertanian sangat kecil, terlebih sebagian lahan pertanian di Kecamatan Dawan sedang memasuki musim tanam padi.
Ia menjelaskan bahwa di hilir seperti Subak Gunaksa dan Subak Dawan, usia padi sekitar 50 hari. Jika tidak kunjung mendapatkan air irigasi yang cukup, padi milik petani bisa mati. Ia dan petaninya telah mencoba melakukan penanganan secara manual ke bendung Sungai Unda, namun ternyata sedimentasi pasir sangat banyak, terutama di sekitar pintu bendung Sungai Unda.
Banyaknya sedimentasi pasir yang terbawa banjir dari hulu menyebabkan alur sungai mengalami pendangkalan. Penanganannya pun memerlukan alat berat. Ia sudah berkoordinasi dengan BWS Bali Penida dan PU Provinsi, tetapi sampai saat ini belum ada tindakan yang dilakukan.
Ia berharap pemerintah segera turun tangan untuk menangani pendangkalan di sekitar bendung Sungai Unda. Hal ini penting agar aliran air irigasi ke lahan pertanian di Kecamatan Dawan seluas sekitar 550 hektar kembali lancar, sehingga petani terhindar dari gagal panen.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











