Perilaku Tak Biasa Pengendara Saat Melewati Tikungan Tajam Gunung Kayangan
Di kawasan Desa Ambungan, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), terdapat jalur tikungan tajam yang dikenal sebagai salah satu titik rawan kecelakaan. Nama Gunung Kayangan sering dikaitkan dengan nuansa “angker” oleh masyarakat setempat. Dulu, pengendara sering membunyikan klakson saat melintas, bukan hanya sebagai penanda bagi kendaraan dari arah berlawanan, tetapi juga sebagai bentuk “permisi” sesuai kepercayaan setempat.
Jalur ini memiliki kondisi geometrik jalan yang berkelok, sehingga mengundang risiko kecelakaan jika pengendara tidak hati-hati. Meski jalan poros di kawasan ini telah dipecah menjadi dua lajur satu arah sejak era kepemimpinan Bupati Tanahlaut H Adriansyah (Aad) sekitar 20 tahun silam, risiko kecelakaan belum sepenuhnya hilang. Terutama pada jalur dari Pelaihari menuju Banjarmasin, rangkaian tikungan patah yang saling berdekatan kerap “menjebak” pengendara yang lengah.
Keberanian dan Kesadaran Pengendara
Rahmat (34), warga Pelaihari yang kerap melintasi kawasan tersebut, mengungkapkan bahwa ia selalu mengurangi kecepatan setiap memasuki lintasan Gunung Kayangan. Bahkan, ia masih membunyikan klakson terutama saat melintas saat senja. Menurutnya, kalau tidak benar-benar fokus, motor bisa melebar sendiri saat di tikungan.
Siti Aminah (41), warga asal Tanahlaut lainnya, menambahkan bahwa meski kini jalur sudah satu arah dan lebih aman dibanding dulu, potensi kecelakaan tunggal tetap ada. Ia menyebutkan bahwa kadang kita merasa sudah aman karena jalurnya satu arah, tapi justru di tikungan itu yang sering bikin kaget. Kalau tidak siap, bisa saja melebar.
Sejarah dan Mitos di Balik Gunung Kayangan
Secara historis, Gunung Kayangan dikenal sebagai salah satu titik rawan kecelakaan di Tanahlaut. Pada awal 1990-an, pernah terjadi kecelakaan tragis di salah satu tikungan tajam yang merenggut nyawa seorang pejabat daerah. Bahkan, sebelum jalan dipecah, sejumlah kecelakaan fatal kerap terjadi, termasuk insiden yang menewaskan satu keluarga di lokasi kejadian.
Di luar faktor teknis jalan, sebagian masyarakat juga meyakini kawasan ini memiliki nuansa “angker”. Dulu, pengendara kerap membunyikan klakson saat melintas, bukan hanya sebagai penanda bagi kendaraan dari arah berlawanan, tetapi juga sebagai bentuk “permisi” menurut kepercayaan setempat.
Tips Berkendara di Jalanan Berkelok
Kondisi jalan di Indonesia sangat beragam, terutama di daerah pegunungan atau perbukitan, ini membuat pengendara harus menghadapi jalanan yang berkelok-kelok. Jalan berkelok tidak hanya membutuhkan konsentrasi tinggi, tapi juga keterampilan mengemudi yang baik agar tidak berisiko kecelakaan.
Berdasarkan unggahan akun Instagram @pupr_bpjt, ada empat cara aman berkendara melewati jalan berkelok yang perlu dilakukan:
-
Pertahankan posisi mobil tetap berada di lajur kiri
Cek spion untuk menghitung jarak mobil dengan tepian jalan di sisi kiri. Jika terlalu mepet akan berbahaya, apalagi jika di sisi kiri ada tebing dan jurang. -
Arahkan mobil ke titik terluar
Jika berbelok tajam ke kanan, gerakkan mobil sejauh mungkin ke kiri. Jika ingin berbelok ke kiri, arahkan mobil ke kanan. Tujuannya supaya pengemudi bisa berbelok di lengkungan yang lebih lebar. -
Lambatkan mobil ketika mendekati tikungan sambil menyentuh rem
Jika menggunakan mobil manual, kurangi persneling saat mendekati tikungan tajam. Cobalah masuk ke tikungan dengan akselerasi yang tinggi, lalu jalankan mobil secara lambat. Jika memasuki tikungan tajam terlalu cepat, kendaraan akan sulit dikendalikan secara penuh. -
Gunakan kecepatan sewajarnya
Hal ini harus dilakukan, apalagi kalau tikungan yang dilewati memiliki blind spot sehingga ada sebagian jalan yang tidak terlihat. Situasi seperti ini sering ditemukan di jalanan pegunungan atau perbukitan yang kelokannya terhalang pohon atau tebing tinggi.
Penutup
Tikungan-tikungan tajam di Gunung Kayangan masih menuntut disiplin berkendara—mengurangi kecepatan, menjaga fokus, dan tidak lengah—agar perjalanan tetap aman hingga tujuan. Meski kondisi jalan telah jauh lebih baik dengan sistem satu arah yang mengurangi potensi tabrakan frontal, kewaspadaan tetap menjadi kunci utama.
Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."











