My WordPress Blog
Daerah  

Pemkab Kotim Cari Solusi Atasi Kios Kosong PPM Sampit dengan Konsep Usaha dan Musik Live

Upaya Pemkab Kotim untuk Menghidupkan Pasar PPM Sampit

Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus berupaya mengembangkan kawasan Pasar Pusat Perdagangan Masyarakat (PPM) Sampit agar kembali ramai dan produktif. Berbagai langkah dilakukan, termasuk memanfaatkan ruang yang masih kosong di lantai atas pasar untuk menjadi tempat usaha baru yang menarik bagi masyarakat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Kotim, Muslih, menjelaskan bahwa pihaknya sedang mencari konsep yang tepat agar area tersebut bisa lebih hidup. “Alhamdulillah malam ini cerah, kelihatan potensinya. Kami memang sedang mencari formula supaya tempat yang masih kosong ini bisa dimanfaatkan dan lebih hidup,” ujarnya.

Beberapa pelaku usaha mulai menunjukkan ketertarikan terhadap kios yang tersedia di lantai atas. Bahkan, beberapa di antaranya telah datang langsung untuk mengecek lokasi. Muslih menyebut, kios di lantai tiga memiliki ruang terbuka yang luas dan potensi pengembangan usaha yang besar.

“Kemarin ada beberapa pengusaha yang menghubungi saya untuk melihat langsung. Saya bilang, silakan cek dulu potensi usahanya seperti apa. Kalau cocok, nanti mekanisme sewa bisa kita atur,” jelasnya.

Muslih juga menyoroti keunggulan dari area lantai atas PPM. Menurutnya, suasana yang terbuka dan pemandangan yang baik cocok untuk berbagai aktivitas, mulai dari kuliner hingga hiburan. Ia bahkan menyarankan adanya live musik pada malam minggu sebagai daya tarik tambahan.

Saat ini, dari total sekitar 25 kios yang tersedia di lantai satu hingga lantai dua, hanya sebagian kecil yang terisi. Muslih menyebut, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah.

“Kalau kita lihat, yang terisi mungkin hanya sekitar 4 sampai 8 kios. Ini yang sedang kita dorong supaya bisa lebih banyak terisi,” ungkapnya.

Salah satu kendala utama adalah status kepemilikan kios yang sebagian sudah dikontrak dalam jangka panjang, namun tidak dimanfaatkan oleh pemiliknya. “Informasinya, ada yang sudah kontrak sampai 15 tahun. Tapi kalau mereka tidak membuka usaha, kita juga tidak bisa menarik retribusi bulanan. Ini yang jadi kendala,” terangnya.

Untuk besaran retribusi, Muslih menyebut berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per bulan, tergantung lokasi kios. Angka ini relatif lebih tinggi dibandingkan pasar lain di wilayah Kotim seperti Samuda dan Parenggean yang berada di kisaran Rp100 ribu hingga Rp125 ribu.

Ke depan, Pemkab Kotim berkomitmen untuk terus melakukan pembenahan dan pendekatan kepada pemilik maupun calon pelaku usaha, agar kawasan PPM Sampit bisa kembali ramai dan memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD).

“Mudah-mudahan dengan konsep yang kita siapkan dan kegiatan yang kita hidupkan, kawasan ini bisa ramai lagi dan memberi manfaat, baik bagi pelaku usaha maupun daerah,” tutup Muslih.

Strategi Pengembangan PPM Sampit

Berikut beberapa strategi yang sedang dipertimbangkan oleh Pemkab Kotim untuk mengembangkan PPM Sampit:

  • Pemanfaatan Ruang Kosong

    Fokus utama saat ini adalah memanfaatkan kios yang masih kosong, terutama di lantai atas. Area ini dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pusat aktivitas yang menarik.

  • Pelibatan Pelaku Usaha

    Pemkab Kotim aktif melakukan komunikasi dengan para pelaku usaha untuk menarik minat mereka berinvestasi di PPM Sampit. Beberapa pengusaha telah menunjukkan ketertarikan dan ingin melihat langsung potensi usaha di sana.

  • Peningkatan Daya Tarik

    Salah satu ide yang ditawarkan adalah mengadakan acara hiburan, seperti live musik pada malam minggu. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah pengunjung dan membuat kawasan lebih dinamis.

  • Pembenahan Struktur

    Selain itu, Pemkab Kotim juga berencana melakukan pembenahan struktur fisik pasar agar lebih nyaman dan menarik bagi pengunjung.

  • Penyesuaian Retribusi

    Meski retribusi cukup tinggi, pihak terkait akan terus berupaya menyesuaikan harga sewa agar lebih menarik bagi pelaku usaha, terutama yang baru ingin masuk ke pasar ini.

Dengan berbagai strategi ini, diharapkan PPM Sampit dapat kembali menjadi pusat perdagangan yang vital bagi masyarakat dan daerah.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *