My WordPress Blog
Daerah  

Kisah Relawan IYD Fakfak: Menyeberangi Laut 3 Hari untuk Ikut Pelatihan di Sorong

Kisah Unik Peserta Animasi Volunteer Komsos untuk Indonesian Youth Day

Ada kisah menarik dari peserta Animasi Volunteer Komsos yang mengikuti kegiatan Indonesian Youth Day (IYD). Salah satu peserta yang menceritakan pengalamannya adalah Cindy Marsella Kabes, seorang gadis dari Paroki Santa Maria Merapi, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat. Ia bekerja di bidang kewirausahaan dan ikut dalam animasi volunteer ini sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Cindy bersama empat teman lainnya berangkat menggunakan Kapal Sabuk menuju Sorong. Mereka berangkat dari Kota Pala, julukan Kabupaten Fakfak, pada 18 Maret 2026 pukul 22.00 WIT. Perjalanan memakan waktu tiga hari karena kapal singgah di beberapa pelabuhan. Mereka akhirnya tiba di Sorong pada 21 Maret 2026 sekitar pukul 04.00 pagi.

“Awalnya saya takut, tapi setelah sampai di sini bersama teman-teman, rasa takut itu hilang dan saya justru senang dengan kota ini,” ujarnya sambil tersenyum.

Pengalaman perjalanan tidak selalu mulus. Cindy dan teman-temannya sempat kelaparan karena stok makanan habis. “Kami pikir hanya perjalanan sehari, jadi tidak membawa persediaan makanan. Kapal Sabuk memang tidak menyediakan makanan selama perjalanan,” katanya.

Rasa lapar mereka teratasi ketika kapal singgah di Pelabuhan Welu. Meski kapal tidak sandar di pelabuhan, ada longboat yang datang ke kapal dan menjual makanan kepada para penumpang. Cindy dan rekan-rekannya bisa membeli makanan dari warga setempat.

Lulusan SMA tahun 2025 ini mengatakan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kemajuan paroki. Ia berharap Komsos paroki lebih aktif dan giat dalam mewartakan sukacita melalui karya-karya Komsos.

Berbeda dengan kisah dari peserta Paroki Santo Ambrosius Suswa Mare, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Yonas Yewen menempuh perjalanan darat sekitar empat jam ke Sorong. “Perjalanan saya dan teman-teman aman-aman saja sampai di Sorong,” katanya.

Ia dan teman-temannya dari beberapa paroki menginap di Gereja Stasi Santo Wenseslaus, Paroki Santo Petrus Remu. Lulusan Uncen Jayapura ini merasa senang ikut pelatihan ini karena bisa bangkitkan semangat menulis lagi. “Dulu saya juga pernah jadi wartawan di beberapa media, mulai dari Jayapura sampai terakhir di Sorong,” ujarnya.

Lelaki 39 tahun ini mengatakan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari persiapan tim Komsos Keuskupan Manokwari-Sorong untuk menyambut IYD 2027. “Persiapan lebih awal begini lebih mantap supaya berita-berita tidak telat dan terus diupdate,” katanya.

Materi pelatihan yang disampaikan sangat konkret dan mudah dicermati. Terutama pada materi penulisan berita yang ia ikuti selama dua hari. “Narasumbernya langsung wartawan Kompas, jadi saya sangat bersemangat mengikuti materi khusus pemberitaan,” ujarnya.

Animasi Volunteer Komsos untuk IYD 2027 berlangsung dua hari mulai 23–24 Maret 2026 di Aula Rex Mundi Kompleks Gereja Katolik Paroki Santo Kristus Raja (Katedral Sorong). Kegiatan ini dibuka dengan misa yang dipimpin oleh Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong Mgr Hilarion Datus Lega, didampingi Ketua Komisi Komsos Keuskupan Manokwari-Sorong, Pater Fransiskus Katino, Pr, dan sejumlah imam konselebran.

Peserta animasi berasal dari berbagai paroki di wilayah pastoral Sorong, Aimas, Maybrat, Tambrauw, Fakfak, dan Kaimana. Para peserta merupakan kaum muda yang dipersiapkan sebagai volunteer dalam mendukung pelaksanaan IYD 2027, khususnya dalam bidang komunikasi dan publikasi.

Selama kegiatan, para peserta dibekali berbagai keterampilan praktis seperti jurnalistik, videografi, reportase, serta produksi podcast. Hadir sebagai narasumber tiga orang dari Komsos Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yakni Stephanus Yogipranata, Aloysius Budi Kurniawan, dan Samuel Krismanto.

Dalam homilinya, Mgr. Hilarion Datus Lega menegaskan pentingnya peran kaum muda dalam mewartakan Injil melalui media sosial. Ia mengajak para peserta untuk memanfaatkan pelatihan ini sebagai kesempatan mengembangkan keterampilan sekaligus menemukan panggilan hidup yang lebih luas.

“Saya ingin memberi sharing, semoga memotivasi Anda ikut dalam pelatihan ini. Ini bukan sekadar belajar keterampilan menulis, kamera, atau audio, tetapi juga bagian dari panggilan yang mulia,” kata Uskup.

Selain itu, Uskup juga mengingatkan bahwa proses belajar tidak lepas dari kesalahan. Menurutnya, kritik dan koreksi adalah bagian penting dalam pembentukan keterampilan, terutama dalam dunia jurnalistik. Ia juga menekankan pentingnya sikap mau belajar, terutama dengan bertanya dan membuka diri terhadap bimbingan dari mereka yang lebih berpengalaman.

“Semangat saling belajar dan kerja sama menjadi kunci untuk berkembang,” katanya.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *