Sulawesi Selatan Jadi Kandidat Kuat Pusat Pengolahan Rumput Laut Nasional
Sulawesi Selatan (Sulsel) menunjukkan potensi besar sebagai pusat pengolahan rumput laut nasional. Sebagai salah satu daerah dengan produksi terbesar di Indonesia, Sulsel menjadi perhatian pemerintah pusat dalam upaya meningkatkan nilai tambah dari komoditas ini.
Presiden Prabowo Subianto memiliki 28 komoditas prioritas nasional yang menjadi fokus hilirisasi. Tujuan dari hilirisasi adalah mengolah bahan mentah menjadi produk jadi agar dapat meningkatkan nilai tambah, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi nasional. Dari 28 komoditas tersebut, beberapa di antaranya seperti tuna, tongkol, cakalang, rumput laut, rajungan, dan udang menjadi prioritas utama untuk pengolahan.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (DPM-PTSP) Sulsel, Asrul Sani, menyatakan bahwa sebanyak 6-7 komoditas dari 28 tersebut ada di Sulsel. “Selama ini ekspor masih bertumpu pada bahan mentah. Karagenan hanya sekitar 10-20 persen yang diekspor, sedangkan sisanya masih berupa bahan mentah,” ujarnya.
Potensi Produksi Rumput Laut Sulsel
Data produksi rumput laut tahun 2025 menunjukkan bahwa Sulsel menjadi wilayah dengan produksi terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi rumput laut mencapai sekitar 9.853.606 ton. Dari jumlah tersebut, Sulsel menyumbang 4.018.691 ton, jauh lebih tinggi dibandingkan Nusa Tenggara Timur yang berada di posisi kedua dengan 1.467.663 ton.
Dari total produksi 4 juta ton di Sulsel pada 2024, Kabupaten Luwu menjadi yang terbesar dengan kontribusi 636.144 ton. Disusul oleh Kabupaten Takalar dengan 619.864 ton, Wajo dengan 490.910 ton, Bone dengan 435.739 ton, dan Pangkep dengan 394.900 ton.
Asrul Sani menjelaskan bahwa selama ini ekspor rumput laut masih terbatas pada bahan mentah. “Kalau kita lihat produk ekspor masih raw material, karagenan hanya sekitar 10-20 persen paling banyak di ekspor. Semuanya raw material, kita tidak dapat nilai tambah,” katanya.
Langkah Pemerintah untuk Meningkatkan Ekspor
Terbaru, Menteri Perdagangan Budi Santoso melepas ekspor 75 ton rumput laut jenis Eucheuma cottonii senilai USD 100.215 atau setara Rp1,7 miliar ke Tiongkok. Pelepasan ekspor dilakukan dari Gudang SRG PT Asia Sejahtera Mina (AsiaMina) di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pada Rabu (4/3/2026).
Gudang SRG AsiaMina merupakan salah satu dari tujuh gudang yang dikelola oleh Pengelola Gudang PT Wahana Pronatural, Tbk (PT WAPO). Perusahaan ini aktif dalam mengimplementasikan Sistem Resi Gudang (SRG) untuk mendukung ekspor komoditas ke pasar global.
Peran Sistem Resi Gudang dalam Mendukung Ekspor
Budi Santoso menjelaskan bahwa Kemendag memberikan dukungan melalui program DBE (Dukungan Bisnis Ekspor) untuk memperkuat daya saing produk di tingkat produsen. Program ini membantu petani dan nelayan dalam menyimpan produk di gudang SRG dan menjualnya saat harga pasar menguntungkan.
Program DBE bertujuan untuk memperkuat ekosistem ekspor di desa melalui enam pilar strategi, yaitu penguatan sumber daya manusia ekspor, pengembangan produk, produktivitas dan teknologi, logistik, pembiayaan, serta promosi dan akses pasar.
Di tengah tantangan perdagangan global dan penurunan harga komoditas, Indonesia tetap berupaya meningkatkan ekspor ke berbagai negara. Pemerintah juga melakukan langkah antisipatif terhadap dinamika dan ketidakpastian situasi geopolitik global untuk menjaga stabilitas perdagangan nasional.











