Kepedulian dan Pendidikan dalam Membentuk Karakter Generasi Masa Depan
Kisah berpulangnya seorang bocah SD (YBR) berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada menggugah kita untuk kembali mempertanyakan sejauh mana kepekaan kita terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal dalam praktik lokal. Peristiwa ini mencoreng wajah kemanusiaan kita yang jauh dari hakikat dasarnya sebagai homo socius, makhluk sosial yang tak bisa hidup sendiri dan saling tergantung satu sama lain.
Kita memiliki begitu banyak institusi yang mestinya mampu memberikan perlindungan kepada setiap warga Negara agar dapat bertahan hidup. Ada institusi negara mulai dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa/kelurahan hingga RT/RW. Ada juga institusi agama mulai dari yang tertinggi hingga yang terkecil. Selain itu, ada pula beragam lembaga sosial kekerabatan, budaya, dan adat yang menaungi dan mengayomi setiap anggotanya untuk setidaknya mampu bertahan menghadapi tekanan hidup yang tidak mudah.
Sayangnya, kelimpahan institusi pengayom tidak mampu melindungi segenap anggotanya. Selalu ada yang teralienasi dan tak tergapai layanan. Kelompok terpinggirkan yang luput dari perhatian. Kisah bocah kecil di Ngada hanyalah salah satu di antara sekian banyak kisah lain yang sama-sama mengayat hati manusiawi kita.
Jerat Individualisme
Individualisme adalah suatu paham yang menganggap diri sendiri lebih penting daripada kepentingan orang lain. John Locke menganjurkan penegakan hak dasar individu atas hidup, kebebasan, dan kepemilikan. Sementara Adam Smith mendukung individualisme dalam bidang ekonomi. Pandangan ini kemudian dikembangkan pada berbagai segi kehidupan manusia oleh pemikir-pemikir lain seperti John Stuart Mill (Sosial dan politik) dan Herbert Spencer.
Dalam pandangan mereka, individu dengan segala kepentingannya adalah faktor terpenting yang tidak boleh diabaikan oleh kepentingan umum sekalipun. Dirinya atau individu adalah penentu utama dalam membangun kemandirian, otonomi diri, dan pencapaian tujuan pribadi.
Dalam realitas kehidupan sehari-hari, individualisme mengambil rupa apatisme antar tetangga, kesibukan dengan gawai pribadi tanpa peduli pada teman/tetangga, ketidakterlibatan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan serta lemahnya sikap tenggang rasa. Manusia yang individualistis biasanya tidak mengenal tetangganya, rendah interaksi sosial, dan terlihat sangat mengutamakan kepentingan diri pribadi di atas kepentingan bersama.
Seorang individualis juga biasanya tidak peduli dengan situasi di sekitarnya dan bahkan tidak peduli dengan sesamanya. Fakta yang terjadi belakangan ini menegaskan betapa individualisme benar-benar menjerat manusia dalam ikatannya. Peristiwa tragis bunuh diri murid SD juga dipicu oleh tidak pedulinya orangtua, keluarga, tetangga, institusi pemerintah, sosial budaya, dan agama terhadap penderitaannya. Andai para pihak ini peduli dengan situasi buruk yang dialaminya maka mungkin ia tidak akan pernah melakukan tindakan konyol tersebut.
Sekolah sebagai Pembentuk Karakter
UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah menggariskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi murid agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Serupa dengan tujuan di atas, dalam bahasa yang lebih ringkas Driyarkara menyebut tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia muda. Yang dimaksud dengan manusia muda adalah makhluk yang sedang dalam proses “pemanusiaan” (hominisasi dan humanisasi), yang belum selesai, dan memiliki potensi besar untuk menjadi persona penuh.
Karakteristik utamanya adalah butuh dididik agar berkembang dari makhluk biologis menjadi manusia berbudaya, bermoral, dan bertanggung jawab. Sejalan dengan tujuan pendidikan di atas, maka sekolah sebagai institusi resmi yang menyelenggarakan proses pendidikan bagi generasi muda bertanggung jawab memastikan karakter anak didik dibentuk dengan tepat.
Karakter tersebut teridentifikasi dalam perilaku yang disiplin, bertanggung jawab, peka dan peduli dengan orang lain, jujur, toleran, percaya diri, serta berintegritas. Semua perilaku tersebut mesti menjadi bagian dari tanggung jawab sekolah untuk dikembangkan dalam diri anak didik.
Mengembangkan Kepedulian pada Anak Didik
Mengembangkan kepedulian pada anak didik tentu tidak bisa dilakukan secara parsial. Ketika kepedulian anak didik dikembangkan di saat bersamaan karakter-karakter lain juga ditumbuhkan. Karena itu sekolah mesti mendorong terciptanya kegiatan yang mendukung tumbuh kembang karakter anak didik.
Ada banyak kegiatan yang secara praktis dapat dilakukan untuk mendukung pengembangan karakter anak didik. Beberapa di antaranya adalah Pramuka, olahraga tim, seni, paskibraka, palang merah remaja (PMR), Pencinta Alam. Selain itu dapat pula dilakukan dengan melaksanakan kegiatan social karitatif kepada anak-anak yang kurang beruntung di saat acara ulang tahun sekolah atau saat acara keagamaan seperti Natal dan Tahun Baru Bersama, Idul Fitri Bersama di tingkat sekolah.
Kunjungan ke panti asuhan/kampung pemulung atau langsung ke rumah-rumah warga yang sungguh membutuhkan bantuan adalah bentuk lain kegiatan yang membangun kepekaan anak didik. Melalui implementasi kegiatan-kegiatan tersebut harapan akan terbentuknya karakter anak didik sebagaimana tertuang dalam tujuan pendidikan nasional dapat sungguh dilihat dan dirasakan.
Sikap peduli anak didik terutama bagi mereka yang miskin dan teralienasi dan pada lingkungan alam dapat ditumbuhkan. Di kemudian hari, kisah-kisah kelam karena ketidakpedulian pada sesama sebagaimana kita alami hari-hari ini dapat direduksi.











