Dua Relawan Muda Bantu Proses Pencarian Korban Tenggelam di Kali Sentiong
Proses pencarian korban tenggelam di Kali Sentiong, kawasan Jembatan Item, Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (18/2/2026), melibatkan petugas pemadam kebakaran bersama sejumlah relawan. Di tengah upaya evakuasi tersebut, dua relawan muda tampak turut membantu penanganan di lokasi kejadian. Mereka adalah Muhamad Faruq (19) dan Naufal Hakim (21).
Muhammad Faruq adalah Relawan Damkar asal Johar Baru, Jakarta Pusat. Ia sudah datang ke lokasi pencarian korban tenggelam sejak pagi. Faruq sesekali membantu memegangi peralatan, matanya awas menghalau warga yang mencoba mendekat ke titik pencarian.
“Saya jadi relawan dari 2023,” ujar Faruq kepada saat ditemui di sela proses evakuasi, Rabu siang. Awal mula menjadi relawan, ia mendapat telepon dari rekan ayahnya yang merupakan anggota pemadam kebakaran. Ia diajak mengikuti latihan dasar di lapangan, dekat rumahnya. Sejak itu, langkahnya mantap.
Latihan yang ia jalani bukan sekadar formalitas. Ia belajar cara menggunakan apar, teknik pemadaman sederhana dengan karung goni atau kain basah, hingga membantu penataan selang dan nozzle usai operasi.
“Saya memang dari kecil cita-cita jadi damkar,” katanya. Kini Faruq duduk di kelas 3 di SMA Negeri 27 Jakarta dan segera lulus. Cita-citanya tak goyah meski masih menyelesaikan beberapa materi pembelajaran. Ia ingin suatu hari resmi menjadi anggota pemadam kebakaran.
Selama tiga tahun menjadi relawan, ia sudah terlibat dalam berbagai kejadian. Salah satu yang paling membekas adalah kebakaran besar di Glodok Plaza, Jakarta Barat. “Itu paling saya ingat, karena makan banyak korban jiwa,” ucapnya pelan. Malam itu ia berada di lokasi sejak pukul 21.00 WIB hingga sekitar pukul 03.00 WIB keesokan harinya. Tugasnya menghalau warga agar tidak terlalu dekat dengan titik api.
Apa yang ia lakukan itu mungkin sederhana, tapi krusial. Bagi Faruq, kebahagiaan terbesar bukanlah sorotan atau pujian. “Senang banget bisa bantu orang yang lagi musibah. Kayak ada rasa bahagia sendiri,” ucap Faruq.
Relawan lainnya, Naufal Hakim (21) asal Kebon Jeruk, Jakarta Barat, ikut membantu proses pencarian. Ia lebih dulu aktif sebagai relawan ambulans pada 2024. “Awalnya saya relawan ambulans, bagian kawal. Keluarga korban sering berterima kasih. Rasanya bahagia banget bisa bantu,” ujarnya. Perjalanan itu membawanya pada peristiwa kebakaran besar di wilayahnya, Jalan Asofa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada 2024 lalu.
Saat itu, akses air sulit dan petugas masih mencari jalur penyedotan. Sambil menunggu, Naufal membantu memegangi selang. “Waktu air sudah mengalir ke nozzle, saya arahin dulu. Kalau petugas sudah datang, saya balikin lagi ke petugas,” katanya. Sejak itu, ia mantap bergabung menjadi Relawan Damkar.
Tugasnya beragam, mulai dari membantu penggulungan selang, pendinginan pascakebakaran, mengarahkan jalur mobil rescue, hingga trauma healing bagi korban yang harus tinggal sementara di tenda pengungsian. Bagi Naufal, menjadi relawan tak selalu tentang rasa haru. Ia pernah dimarahi warga saat menangani kebakaran di wilayah Tugu Manggis, Jakarta Barat. Saat itu, ia baru saja berbuka puasa.
Selang sudah disambung berkali-kali karena jarak sumber air yang jauh, namun tekanan air belum juga maksimal. “Saya minta air, tapi warga malah marah-marah. Padahal jelas-jelas lagi nyemprot. Daripada saya dikebukin, saya mundur,” ucap Naufal. Menurutnya, risiko di lapangan bukan hal sepele. Ada rekan sesama relawan yang pernah dipukul balok, diancam golok, bahkan dilempar sambal hingga mengenai mata.
Meski begitu, ia tetap datang setiap kali ada panggilan. Dengan status pekerja freelance gudang, ia siaga lewat ponsel. Jika ada informasi dari radio komunikasi atau rekan yang piket, ia segera bergerak. “Capek sih capek. Tapi kalau sudah bantu orang, itu nggak bisa dinilai pakai apa pun,” pungkasnya.











