Pengalaman dan Perkembangan Najua Fara Diana dalam Public Speaking
Sejak usia dini, Najua Fara Diana telah aktif dalam berbagai panggung. Dari lomba puisi hingga pidato dan pementasan seni, pengalaman ini membantunya menjadi sosok yang percaya diri dan berani. Berbagai aktivitas organisasi dan pendidikan semakin mengasah kemampuan komunikasinya serta mentalnya.
Public speaking tidak hanya menjadi keahlian bagi Najua, tetapi juga jalan untuk menemukan jati dirinya. Awalnya ia mulai dari lomba puisi saat kecil, kini ia berhasil menembus ajang Duta Budaya Jawa Timur 2024. Gelar Berbakat Duta Budaya Jawa Timur 2024 yang ia raih adalah bukti dari dedikasinya dalam mengasah kemampuan public speaking.
Masa Kecil dan Lingkungan yang Mendukung
Najua Fara Diana lahir di Tulungagung pada 12 Januari 2005. Ia tumbuh di lingkungan yang mendorongnya untuk selalu aktif. Dorongan ini membuatnya memiliki keberanian, kepercayaan diri, dan ketangguhan mental. Sejak sekolah dasar, ia sudah mengenal berbagai panggung, baik itu lomba baca puisi atau geguritan, pidato, hingga pementasan seni.
Pengalaman tersebut secara tidak sengaja menjadikan kegiatan luar akademik sebagai sesuatu yang menyenangkan baginya. Menurutnya, kegiatan-kegiatan ini memberinya banyak pelajaran tentang cara berbicara di depan publik.
Mengasah Kemampuan Lewat Pramuka dan Mengajar Les
Minat Najua terhadap public speaking semakin kuat seiring dengan keterlibatannya dalam bidang pendidikan dan organisasi. Bertahun-tahun aktif dalam kegiatan Pramuka, ia sering kali menjadi pendamping yang dituntut untuk mampu menyampaikan materi dan berkomunikasi secara efektif dengan peserta.
Selain itu, pengalaman mengajar les juga membuat mentalnya lebih kuat karena ia terbiasa tampil sebagai tokoh teladan. Aktivitas ini memperkuat kepercayaan dirinya dan meningkatkan kemampuan komunikasinya.
Berproses di Organisasi Kampus
Memasuki dunia perkuliahan, Najua memutuskan untuk bergabung dalam organisasi kemahasiswaan guna mengasah kembali kemampuan public speaking-nya. Ia bergabung menjadi bagian dari Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari tahun 2024 hingga 2025.
Di sana, ia menjalani proses belajar kembali dari nol. Pada tahun pertama himpunan, ia kerap tampil sebagai pembawa acara dan moderator. Sedangkan pada tahun kedua, ia diamanahi menjadi Wakil Ketua Himpunan. Tidak hanya menjadi pembawa acara dan moderator, ia juga menjadi juru bicara atau pemateri dalam berbagai kegiatan akademik dan nonakademik.
Tantangan Terbesar
Berbagai pengalaman yang dilalui Najua tidak luput dari tantangan. Bahkan tantangan terbesarnya justru datang dari dalam diri sendiri. “Sampai saat ini ketika hendak ke panggung rasa gugup itu masih muncul,” katanya.
Namun, tantangan itu tidak membuat keberanian dan percaya dirinya menurun. Ia justru mencari cara tersendiri untuk mengatasinya. Salah satunya dengan membangun kedekatan dengan audiens sejak awal dan menanamkan prinsip bahwa semua akan berjalan dengan lancar.
Public Speaking Membentuk Cara Pandang Hidup
Menurut Najua, public speaking memiliki peran besar dalam hidupnya. Public speaking lah yang membentuk tata cara pandangnya terhadap kehidupan. Keberanian dan kepercayaan diri berbicara di depan publik merupakan langkah awal mengembangkan keyakinan teguh pada kemampuan diri sendiri.
“Karena ketika kita sudah berani untuk tampil di depan tandanya kita sudah satu langkah untuk membangun kepercayaan diri yang dimiliki,” ujarnya.
Masih kata Najua Fara Diana, semakin kita sering berperan di depan layar rasa kepercayaan diri itu akan tumbuh dengan sendirinya. “Kita akan terbiasa untuk percaya dengan diri kita sendiri dan tidak takut akan perspektif orang lain dari hal yang sedang kita kerjakan,” imbuhnya.
Menembus Ajang Duta Budaya Jawa Timur 2024
Public speaking sebagai modal utama berhasil membawa Najua ke ajang yang lebih luas melalui Duta Budaya Jawa Timur 2024. Lagi-lagi, ia diuji untuk tampil dan mengekspresikan diri di depan hadapan banyak orang. Najua dituntut untuk mempertontonkan bakat yang ia miliki. Rasa tidak percaya diri kembali muncul terlebih melihat potensi peserta lain.
Namun, pilihannya untuk tampil apa adanya justru membuahkan hasil yang positif. Pembacaan geguritan yang dipertontonkan berhasil menyentuh hati penonton dan memberinya kesempatan meraih gelar Berbakat Duta Budaya Jawa Timur 2024.
Tips Manajemen Waktu dan Pesan Untuk Generasi Muda
Di tengah padatnya aktivitas akademik, organisasi, dan kegiatan lain yang dilakukan, Najua menekankan pentingnya manajemen waktu. Tips dari Najua adalah dengan membiasakan untuk menulis daftar tugas yang perlu diselesaikan agar semua peran dapat dilaksanakan dengan optimal.
Bagi Najua, konsistensi dalam berproses jauh lebih penting karena hasil maksimal tidak bisa datang secara instan. Menutup perbincangan, Najua mengajak para generasi muda yang masih ragu melangkah ke ruang publik untuk tidak takut mencoba dan berdamai dari rasa takut dan gugup.
Kata Najua, public speaking bukan hanya soal bakat, tetapi tentang keberanian memulai dan kesiapan untuk terus belajar berkembang. “Jadi, jika tidak hari ini kapan lagi, karena hanya dengan mencoba kamu akan tahu sejauh mana kemampuanmu dan apa yang bisa kamu capai dan jangan pernah menunggu semuanya siap, tapi bersiaplah sejak sekarang dan ambil kesempatan yang ada di depan,” pungkasnya.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











