My WordPress Blog

Unnes Lantik Empat Profesor, Orasi Nugroho Soroti Martabat Pekerja Situ Perhatian

Pengukuhan Empat Profesor Baru di Unnes

Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengukuhkan empat profesor baru dalam acara yang digelar di Auditorium Prof. Wuryanto Unnes, Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, Rabu (11/2/2026). Pengukuhan ini menjadi bagian dari komitmen Unnes untuk memperkuat kontribusi keilmuan bagi masyarakat dan bangsa.

Empat guru besar yang dikukuhkan adalah:
* Prof. Dr. Bestari Dwi Handayani, S.E., M.Si. (Fakultas Ekonomi dan Bisnis)
* Prof. Dr. Bernadus Wahyudi Joko Santoso, M.Hum. (Fakultas Bahasa dan Seni)
* Prof. Dr. Nugroho Trisnu Brata, S.Sos., M.Hum. (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)
* Prof. Dr. Sri Rejeki Urip, M.Hum. (Fakultas Bahasa dan Seni)

Salah satu orasi yang menyita perhatian adalah dari Prof. Nugroho Trisnu Bintoro. Dalam pidato ilmiahnya dengan judul Bekerja Menjadi Representasi dan Eksistensi Diri; Perspektif Antropologi terhadap Dinamika Pembangunan Ketenagakerjaan, ia membahas persoalan ketenagakerjaan Indonesia secara komprehensif, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga sosial dan kultural.

Prof. Nugroho menekankan bahwa bekerja tidak dapat direduksi sekadar sebagai aktivitas ekonomi untuk memperoleh upah. Secara ekonomi, bekerja memang bertujuan memenuhi kebutuhan hidup. Namun secara sosial, pekerjaan membentuk identitas dan menentukan posisi seseorang dalam struktur sosial. “Pekerjaan menjadi simbol status sosial, menegaskan siapa diri kita di dalam stratifikasi masyarakat,” jelasnya.

Dalam perspektif kultural, pekerjaan juga sarat makna. Ada profesi yang dianggap bergengsi, ada pula yang dipandang rendah atau tabu. Dalam kajian budaya material, eksistensi dan penghormatan terhadap seseorang kerap dikaitkan dengan profesi yang dijalani. Karena itu, bekerja menjadi representasi harga diri dan eksistensi individu.

Ia juga menggarisbawahi bahwa motivasi bekerja tidak selalu berorientasi pada upah. Faktor pengabdian, ibadah, prestasi, hingga pencarian pengakuan sosial turut menjadi pendorong seseorang memilih dan menjalani profesi tertentu. Melalui pekerjaan, seseorang dapat melakukan mobilitas sosial, baik secara vertikal maupun horizontal.

Dalam orasinya, ia membeberkan sejumlah kisah tentang pekerjaan, Representasi dan Eksistensi Diri. Salah satunya adalah kisah “Pramugari Gadungan” yang sempat viral awal 2026 ini. Prof. Nugroho menyoroti kasus Khairun Nisa (23), yang sempat menjadi sorotan nasional setelah aksinya menyamar sebagai pramugari maskapai swasta terbongkar.

Nisa diketahui pernah mengikuti proses seleksi pramugari dengan biaya mencapai sekitar Rp 30 juta. Uang tersebut dikumpulkan orang tuanya dengan susah payah, bahkan dengan menjual harta benda, setelah dijanjikan kelulusan oleh oknum perantara. Namun pekerjaan yang dijanjikan tak kunjung didapat, dan perantara tersebut menghilang.

Terjebak antara rasa malu, tekanan ekspektasi keluarga, dan keinginan membanggakan orang tua, Nisa memilih membeli seragam pramugari secara daring dan mengenakannya saat terbang dari Palembang ke Jakarta. Ia ingin orang tuanya percaya bahwa dirinya telah diterima bekerja. “Tindakan itu memang keliru, tetapi kita perlu memahami motif di baliknya. Ia bukan berniat jahat, melainkan ingin menjaga perasaan orang tuanya,” ungkap dosen kelahiran Sleman, 14 Januari 1971 tersebut.

Menurutnya, kasus tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan antropologis dalam membaca fenomena sosial. Ia membedakan metode etik yang berangkat dari prasangka atau sudut pandang luar dengan metode emik, yakni memahami realitas dari perspektif pelaku. “Kalau hanya melihat dari luar, kita mudah menghakimi. Tapi pendekatan emik menggali alasan dan makna dari tindakan seseorang sehingga datanya lebih valid dan manusiawi,” jelasnya.

Prof. Nugroho menegaskan, dalam perspektif sosial dan kultural, pekerjaan menjadi simbol harga diri dan status sosial. Seragam pramugari yang dikenakan Nisa bukan sekadar pakaian, melainkan representasi mimpi, pengakuan, dan eksistensi diri. Ia juga mengaitkan fenomena tersebut dengan dinamika ketenagakerjaan nasional. Tingginya persaingan, tuntutan kualitas, serta dominasi pekerjaan bergengsi di ruang publik membuat banyak anak muda tertekan untuk memenuhi standar sosial tertentu.

“Bekerja tidak selalu soal upah. Ada motivasi lain: ingin dihargai, ingin berprestasi, ingin membanggakan keluarga. Pekerjaan menjadi jalan untuk memperoleh martabat,” tegasnya. Melalui pengangkatan kasus Khairun Nisa, Prof. Nugroho mengajak publik untuk tidak semata-mata melihat persoalan ketenagakerjaan dari angka dan regulasi, melainkan juga dari sisi kemanusiaan. Ia menilai, pembangunan ketenagakerjaan harus memuliakan manusia sebagai subjek yang memiliki mimpi, tekanan sosial, dan kebutuhan akan pengakuan.

“Pramugari itu kan pekerjaan yang prestis, indah, cantik, tampan. Kemudian selalu terbang yang tidak semua orang bisa lakukan. Maka itu salah satu contoh tentang pekerjaan yang penting sehingga orang terpaksa menipu. Menipu bukan untuk kejahatan, menipu karena ditipu lebih dulu. Dia menipu orang tuanya karena ditipu oleh calo tenaga kerja.” “Kita perlu empati sebelum menghakimi. Di balik seragam itu ada cerita tentang harapan, tekanan, dan perjuangan,” pungkasnya.

Sementara itu, rektor Unnes, Prof. S Martono menyampaikan selamat atas pengukuhan empat guru besar baru Unnes tersebut. Ia menilai bahwa setiap pengukuhan profesor selalu menghadirkan rasa bangga dan bahagia bagi seluruh sivitas akademika. Capaian tersebut dinilai sebagai bukti nyata upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas dosen dan pengembangan keilmuan.

“Profesor merupakan jabatan fungsional tertinggi seorang dosen. Namun di sisi lain, pencapaian ini juga membawa tanggung jawab yang lebih besar,” ujarnya. Ia menegaskan, dalam dunia akademik, profesor bukan sekadar pangkat atau jabatan, melainkan pengakuan atas kecemerlangan dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Karena itu, para profesor diharapkan mampu menjadi ‘api akademik’ yang terus menyala, memberikan inspirasi, serta menghadirkan karya nyata bagi sivitas akademika maupun masyarakat luas. Modal intelektual yang dimiliki profesor, lanjutnya, merupakan akumulasi kepakaran, kedalaman ilmu, serta pengalaman riset yang ditempa selama puluhan tahun. “Bahkan ada profesor yang telah menekuni bidang keilmuannya lebih dari 30 tahun. Ini menunjukkan dedikasi panjang dalam pengembangan ilmu pengetahuan,” tandasnya.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *