Kebakaran Gudang Insektisida di Taman Tekno, Tangsel
Kebakaran yang melanda gudang insektisida di kawasan Pergudangan Taman Tekno, Kelurahan Setu, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, terjadi pada Senin (9/2/2026) dini hari. Gudang tersebut berisi sekitar 5 ton bahan kimia pembasmi hama dan merupakan tempat penyimpanan dari sebuah perusahaan distributor. Meskipun tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, kerugian materi diperkirakan mencapai Rp 2 miliar. Selain itu, sejumlah petugas damkar tumbang akibat paparan asap pekat dan panas ekstrem.
Penyebab Masih Dalam Penyelidikan
Sampai saat ini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Tangsel, Omay Komarudin, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima laporan kebakaran sekitar pukul 04.15 WIB dan mulai melakukan penanganan sekitar pukul 04.30 WIB. Proses pemadaman berlangsung cukup lama karena bahan yang terbakar didominasi oleh bahan-bahan kimia.
“Jadi ada bahan kimia yang tidak mau dipadamkan oleh air. Kami coba padamkan menggunakan foam (busa) juga tidak berhasil, sehingga pada akhirnya kami menggunakan teknik terakhir dengan pasir,” kata Omay.
Untuk memadamkan api, Damkar Tangsel mengerahkan sedikitnya 16 unit mobil pemadam kebakaran dan 70 personel gabungan. Armada tersebut terdiri atas 14 unit mobil pemadam dari Damkar Tangsel, dua unit bantuan dari wilayah BSD, serta dua unit mobil tangki suplai air.
Dugaan Pencemaran Sungai Jalatreng
Kebakaran yang melanda gudang pestisida diduga menjadi pemicu pencemaran Sungai Jalatreng. Gudang tersebut berjarak sekitar 3,3 kilometer dari sungai dan memiliki saluran pembuangan air yang mengarah ke arah sungai. Bahan insektisida yang berbentuk cair dengan jumlah sekitar 5 ton diduga kuat mengalir hingga ke Sungai Jalatreng.
Air Sungai Jalatreng sempat memutih, disertai bau menyengat menyerupai aroma minyak tanah. Hal itu menggegerkan warga Kelurahan Rawa Buntu, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten. Tak lama berselang, ikan-ikan di sungai tersebut ditemukan mati massal dan mengambang di permukaan air.
Warga sekitar, Romo (54), mengungkapkan bahwa baunya sudah sampai ke rumahnya sejak pagi. “Bau menyengat banget, padahal rumah saya sekitar 100 meter dari sungai ini,” katanya.
Ia mengkhawatirkan dampak lanjutan dari pencemaran yang terjadi. Terlebih, aliran Sungai Jalatreng terhubung langsung dengan Sungai Cisadane yang selama ini digunakan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tangerang Selatan untuk mengaliri air bersih ke rumah-rumah warga.
Petugas Tumbang Akibat Asap dan Panas
Selama lebih dari tujuh jam, petugas berjibaku melawan api yang dipicu material kimia beracun. Asap pekat dan panas ekstrem membuat sejumlah petugas tumbang kelelahan hingga harus mendapatkan bantuan oksigen di lokasi kejadian.
Pantauan di lapangan menunjukkan, beberapa petugas berseragam krem tampak terduduk lemas di depan gudang yang hangus terbakar. Helm dan alat pelindung diri dilepas, sementara rekan lainnya sigap memberikan oksigen dan air minum untuk memulihkan kondisi mereka.
Gudang yang terbakar merupakan tempat penyimpanan bahan insektisida atau pembasmi hama milik sebuah perusahaan distributor. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terkait hasil uji kualitas air sungai maupun langkah penanganan lanjutan dari instansi terkait.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











