My WordPress Blog
Daerah  

Gunung di Rusia dan Amerika

Perjalanan di Kota Makau



Waktu menunjukkan hampir pukul dua belas siang ketika kami keluar dari hotel di Avenida do Dr. Rodrigo Rodrigues. Kami bertiga berjalan kaki beberapa puluh meter menuju halte Holiday Inn/Rua de Pequim untuk menunggu bus TCM (Transportes Urbanos de Macau), bus nomor 32 arah Fai Chi Kei.

Bus tiba dengan eksterior bercat kombinasi putih, cokelat tua, dan oranye. Ongkosnya terjangkau—6 pataca sekali naik—bisa dibayar dengan uang pas atau kartu elektronik. Bus bergerak menyusuri jalan-jalan sempit khas Macau, sebelum pemandangan reservoir terhampar di sisi kanan. Dalam bahasa Portugis, tempat ini disebut Reservatrio. Air tenang di tengah lekukan bukit itu memberi jeda visual di antara deretan bangunan padat kota.

Hanya empat halte, saatnya turun di Estrada do Reservatrio. Dari sana cukup berjalan santai sekitar 400 meter menuju Mesquita e Cemitrio de Macau. Tujuan pun jelas: salat Jumat. Walau saya sudah beberapa kali ke sini, tetapi belum pernah bertepatan dengan hari Jumat.

Saat tiba di Ramal dos Mouros dan masuk ke halaman masjid, suasana masih lengang. Seorang satpam memberi tahu bahwa salat Jumat baru akan dimulai pukul 13.30, menunggu jamaah yang berdatangan dari berbagai penjuru negeri bekas koloni Portugal ini.

Masih ada waktu lebih dari satu jam. Saya memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar kawasan. Kedua anak saya mengikuti dengan bersemangat. Dari gerbang masjid kami belok kanan, lalu kiri ke Estrada de Dom Maria II. Sesuai namanya, jalan ini sedikit menanjak.

Setelah menyeberang, tampak sebuah bangunan besar berlantai tiga atau empat. “Colgio Dom Bosco,” tertulis dengan gagah, menegaskan identitasnya sebagai sekolah. Fasad berwarna krem dengan jendela-jendela besar hijau tampak anggun dan terawat.

Saya mendekat dan sempat masuk ke halaman sekolah. Anak-anak berseragam kuning, kira-kira seumuran SMP, tampak lalu-lalang. Di dinding dekat pintu utama, sebuah prasasti berbahasa Portugis menarik perhatian:

NO ANO DO SENHOR

DE 1949

AOS 6 DE FEVEREIRO

FOI LANADA

ESTA PEDRA ANGULAR

(Pada tahun Tuhan 1949,

pada tanggal 6 Februari,

telah diletakkan

batu pertama ini)

“Sudah cukup tua juga sekolah ini,” pikir saya.

Dari sana, saya kembali menyeberang menuju sebuah taman kecil di sudut jalan, tepat di seberang sekolah. Letaknya di lereng bukit mungil. Di dinding dekat gerbang kuning tertulis: Jardim da Montanha Rusa. Jam buka: 06.00–24.00. Di dekatnya ada prasasti penjelasan dalam bahasa Portugis, Mandarin, Inggris, dan Jepang, serta tanda Proibido Fumar (dilarang merokok) dengan ancaman denda 1.500 MOP. (Pataca Makau).

Prasasti itu menjelaskan bahwa taman ini berada di puncak bukit kecil di timur laut Semenanjung Makau, di antara Bukit Mong-H dan Bukit Dona Maria II. Dibangun pada akhir abad ke-19, taman ini dimaksudkan sebagai tempat peristirahatan kota yang tenang, dengan pepohonan rimbun dan suasana sejuk.

Kami masuk dan mulai mendaki mengikuti jalur berliku, spiral, sekilas mirip roller coaster. Semakin naik, udara terasa lebih sejuk meski matahari Makau bersinar terik di Jumat siang. Ada taman bermain kecil; beberapa anak berseragam kuning tampak asyik bercanda.

Di puncak bukit terdapat kantin kecil bernama Pen Hoi Kitchen. Kami mampir dan memesan minuman segar: yuenyeung—kopi campur teh dingin khas Hong Kong–Makau. Anak saya memilih es kacang merah lengkap dengan sirup dan susu kental manis serta minuman ribuan. Totalnya 41 pataca.

Selesai minum, masih ada waktu untuk berjalan menyusuri taman. Di puncaknya berdiri bangunan unik berbentuk spiral. Tidak jauh juga ada patung Dom Bosco setinggi sekitar dua meter, seolah mengawasi sekolah bernama sama di seberang jalan.

Tak terasa waktu sudah hampir pukul 13.15. Saatnya bergegas meninggalkan taman menuju masjid. Di perjalanan kami kembali melewati sebuah sekolah lain, Escola Hou Kong, dengan gedung lima lantai berwarna cerah. Juga sebuah bangunan bernama Edifcio Obra das Mes, sebuah yayasan sosial untuk kesejahteraan lansia—secara harfiah berarti “karya para ibu”.

Sambil berjalan, saya teringat nama taman tadi: Montanha Rusa. Dalam bahasa Spanyol, montaa rusa secara harfiah berarti Gunung Rusia, tetapi makna sebenarnya adalah roller coaster. Dalam bahasa Portugis pun serupa. Tak heran, bentuk taman itu memang berliku dan mirip spiral seperti wahana permainan di Dunia Fantasi.

Rasa penasaran muncul: lalu apa sebutan roller coaster dalam bahasa Rusia? Ternyata jawabannya bikin senyum: (amerikanskiye gorki)—yang berarti Gunung atau Bukit Amerika.

Di antara Gunung Rusia dan Gunung Amerika, kami berjalan menuju masjid, membawa serta ironi kecil bahasa, sejarah, dan tanjakan-tanjakan sunyi di kota bernama Makau.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *