Sekolah Rakyat Unesa: Kesempatan Gratis untuk Anak dari Keluarga Kurang Mampu
Sekolah Rakyat Unesa memberikan peluang pendidikan gratis yang lengkap, termasuk fasilitas asrama dan perlengkapan belajar. Program ini menjadi jaring pengaman bagi anak-anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.
Ayu Rayana, seorang siswi berprestasi dalam olahraga karate, kini menatap masa depan dengan harapan kuliah di bidang IPA. Ia kini menjadi siswa kelas 10 di Sekolah Rakyat Universitas Negeri Surabaya (Unesa), yang memberinya kesempatan untuk belajar tanpa biaya, tinggal di asrama, dan memiliki peluang kuliah gratis.
Awal Perjalanan Ayu
Perjalanan Ayu dimulai tanpa rencana. Ia bahkan tidak mengenal apa itu Sekolah Rakyat hingga petugas sosial datang ke rumahnya. Sutiatik, ibunya, mengaku awalnya tidak tahu apa-apa tentang program ini. Namun, setelah mendapat informasi, ia memutuskan untuk mengizinkan Ayu menerima tawaran tersebut.
“Awalnya nggak ngerti, tahu-tahu ada dari Kemensos datang ke sini. Terus nawarin sekolah rakyat. Saya kembalikan ke Ayu, mau apa nggak, soalnya harus tinggal di asrama tiga tahun,” kenang Sutiatik saat menceritakan awal masuknya Ayu ke Sekolah Rakyat.
Keputusan itu tidak mudah. Ayu harus meninggalkan kebiasaan hidup bersama keluarga, belajar mandiri di lingkungan baru, serta jauh dari pengawasan ibunya. Namun, kondisi ekonomi membuat pilihan lain terasa makin sempit.
Sutiatik sendiri bekerja sebagai penjahit rumahan. Sejak suaminya kehilangan pekerjaan tetap, penghasilan keluarga kian terbatas. “Waktu itu keadaan lagi sulit. Kalau masuk sekolah negeri juga butuh biaya. Ya sudah bismillah saja. Ayu juga bilang ingin kuliah, siapa tahu nanti bisa gratis juga,” ujarnya.
Prestasi dan Aktivitas di Sekolah Rakyat
Berbeda dengan sekolah umum, seluruh kebutuhan siswa telah ditanggung oleh Sekolah Rakyat. “Alhamdulillah dapat fasilitas semua. Makan, seragam, peralatan, bahkan laptop. Kita nggak keluar uang sepeser pun,” ujar Sutiatik.
Sejak SMP, Ayu dikenal aktif dan berprestasi di bidang karate. Ia pernah menyabet piala tingkat provinsi hingga internasional. “Prestasinya sejak SMP karate dan paskib. Ada piala bergilir pemprov, internasional, dan gubernur,” jelas sang ibu.
Bakat itu terus berlanjut di Sekolah Rakyat. Ayu kembali meraih juara pada kejuaraan Gojukai kategori kata beregu. “Lombanya dinilai dari seni dan kekompakan. Kita mainin gerakan kata bertiga,” terang Ayu dengan mata berbinar.
Fasilitas dan Pembinaan Karakter
Selain olahraga, pembinaan karakter menjadi warna utama kehidupan di asrama. Shalat berjamaah lima waktu, kegiatan keagamaan, hingga pembiasaan disiplin menjadi rutinitas. “Saya pribadi suka, karena ke religiusnya terarah. Shalat lima waktu berjamaah, ada kegiatan malam. Ayu jadi lebih tertata,” kata Sutiatik.
Di Sekolah Rakyat, penggunaan ponsel dibatasi hanya seminggu sekali. Aturan itu sempat membuat sang ibu cemas. “Awalnya khawatir, anak sekarang kan nggak pegang HP rasanya gimana. Tapi Alhamdulillah bisa terlewati. Kalau ada apa-apa bisa lewat wali asuh,” ungkapnya.
Justru bagi Ayu, pembatasan tersebut membantunya lebih fokus. “Lingkungannya seru, kegiatannya bareng-bareng. Jadi nggak kerasa jauh dari rumah,” kata Ayu.
Ia tinggal di asrama putri bersama tiga teman sekamar. Aktivitas dimulai sejak pukul enam pagi hingga empat sore, dilanjutkan kegiatan ekstrakurikuler. “Kita satu kamar empat orang. Teman-temannya asyik, kegiatannya juga seru-seru semua,” tambahnya.
Adapun untuk liburnya memakai sistem menyesuaikan libur nasional. “Saya kalau pulang ya saat libur. Jadi ada liburnya. Kalau tanggal merah pasti libur dan boleh pulang rumah. Seperti saat ini kan libur isra miraj,” ucap Ayu.
Harapan di Masa Depan
Kini ia bercita-cita masuk jurusan IPA dan melanjutkan kuliah. “Bangga bisa masuk Sekolah Rakyat. Saya jadi bisa bantu ringankan beban orang tua,” ucap Ayu mantap.
Harapan serupa disampaikan Sutiatik. Ia menggantungkan masa depan putrinya pada janji keberlanjutan program hingga perguruan tinggi. “Katanya nanti bisa kuliah gratis di Unesa. Itu sangat membantu, karena kuliah swasta sekarang mahal,” ujarnya.
Di sudut ruang tamu rumahnya yang sederhana, beberapa piagam karate tersimpan rapi. Di sanalah perjalanan Ayu bermula, dari anak kampung yang tekun berlatih, kini menjelma siswi asrama dengan mimpi lebih besar.
Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang transformasi. Ayu belajar disiplin, religius, dan mandiri. Sutiatik belajar melepas kekhawatiran, menggantinya dengan doa dan keyakinan.
“Bismillah saja,” kata sang ibu suatu hari ketika melepas Ayu kembali ke asrama. Kalimat sederhana itu kini menjelma kekuatan, mengantar seorang anak Surabaya menjemput masa depannya.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











