Masalah Keasaman Tanah di Desa Rias, Bangka Selatan
Di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, tingkat keasaman tanah sawah menjadi ancaman serius bagi petani setempat. Kondisi ini menyebabkan hasil panen menurun drastis dan bahkan berujung pada gagal panen dalam dua musim tanam terakhir.
Salah satu petani, Muhidin (50), mengaku pasrah melihat lahan sawah seluas satu hektare miliknya terancam tidak menghasilkan panen maksimal. Saat ditemui di sawahnya, Jumat (2/1/2026), terlihat pertumbuhan padi tidak merata. Sejumlah bibit tumbuh kerdil dan jarang, sementara air sawah tampak keruh berwarna kuning keemasan dengan lapisan mengilap di permukaan, menandakan tingginya kandungan zat asam.
Muhidin mengaku, lahan persawahan di wilayah tersebut memiliki tingkat keasaman tanah (pH) yang cukup ekstrem. Berdasarkan kondisi lapangan dan uji yang telah dirinya lakukan pH tanah hanya berada di angka sekitar 0,4, jauh di bawah standar ideal pertumbuhan padi yang berkisar antara 6,5 hingga 7. Padahal jika pH normal pertumbuhan padi akan bagus dan hasil produksinya meningkat.
“Di sini pH tanahnya cukup tinggi sekali. Kadarnya 0,4, sehingga zat asamnya masih kuat dan terlalu tinggi,” kata Muhidin kepada .
Menurutnya kondisi seperti ini telah terjadi selama dua musim tanam terakhir, khususnya pada indeks pertanaman (IP) 200 dan IP-300 yang berlangsung pada akhir tahun 2025 lalu. Dirinya memaparkan dari satu hektare lahan sawah, hasil panen yang didapatkan saat ini hanya sekitar 30 karung per hektare. Angka tersebut jauh dari hasil ideal yang seharusnya bisa dicapai apabila kondisi tanah normal. Dalam kondisi keasaman netral petani bisa mendapatkan 60 karung gabah kering panen lebih per hektare.
Sementara saat ini total lahan persawahan yang mengalami tingkat keasaman tinggi Desa Rias saat ini diperkirakan mencapai sekitar 50 hektare. Namun keasaman tanah yang tinggi berdampak langsung pada produktivitas padi. Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, petani khawatir ancaman gagal panen akan kembali terulang. Ia bahkan pernah mengalami gagal panen total di lahan seluas satu hektare karena padi yang ditanam tidak membuahkan hasil sama sekali.
“Saya pernah gagal panen. Satu hektare sawah yang saya tanami padi tidak panen sama sekali karena zat asam terlalu tinggi,” ucap Muhidin.
Hingga kini, petani masih belum mengetahui solusi jangka panjang yang akan diambil untuk mengatasi kondisi tersebut. Setiap kali akan memulai masa tanam, petani terpaksa melakukan pengapuran dan pemberian pupuk kandang untuk menekan tingkat keasaman tanah. Dalam satu hektare lahan, dibutuhkan sekitar 10 kampil kapur serta tiga hingga empat kampil pupuk kandang.
Namun, bantuan kapur dari pemerintah yang diterima petani hanya sekitar lima kampil per hektare, jumlah yang dinilai masih jauh dari kebutuhan ideal. Agar tingkat keasaman tanah bisa benar-benar netral, dibutuhkan sekitar 1,5 ton kapur per hektare. Tanpa dukungan bantuan yang memadai, biaya pengolahan lahan menjadi beban berat bagi petani kecil.
“Untuk pupuk kandang, kami beli sendiri. Harganya Rp50.000 per karung,” sebutnya.
Meski masih menggunakan pupuk kimia, Muhidin menilai efektivitasnya sangat terbatas jika diaplikasikan pada tanah dengan tingkat keasaman tinggi. Ia lebih mengandalkan pupuk kandang karena dinilai lebih membantu memperbaiki struktur tanah. Ia juga menyoroti bantuan pupuk subsidi dari pemerintah yang dinilai belum mampu meningkatkan hasil produksi jika permasalahan utama keasaman tanah tidak diselesaikan terlebih dahulu.
Dampak Penggunaan Pupuk Kimia
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Bangka Selatan, Tahang HS mengatakan, penurunan pH tanah menjadi keluhan utama petani dalam beberapa waktu terakhir. Intensitas penanaman yang terus meningkat hingga mencapai indeks pertanaman (IP) 300 membuat penggunaan pupuk kimia juga semakin tinggi. Tanpa dukungan pupuk tambahan yang mampu memperbaiki struktur tanah, lahan pertanian dikhawatirkan mengalami penurunan kualitas.
“pH sawah petani semakin lama semakin rendah karena penggunaan pupuk kimia. Selama ini pemupukan memang didominasi urea dan Phonska,” kata dia kepada , Jumat (1/2/2026).
Tahang memaparkan pada tahun 2025 alokasi pupuk subsidi untuk Desa Rias mengalami peningkatan signifikan seiring naiknya indeks penanaman dari IP 200 menjadi IP 300. Total penyerapan pupuk tahun ini mencapai 988 ton, terdiri dari 280 ton pupuk urea dan 708 ton pupuk NPK Phonska. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun 2024 yang hanya menyerap 558 ton pupuk.
Meski penyerapan pupuk meningkat Tahang menilai alokasi yang ada masih perlu disesuaikan dengan kondisi lahan saat ini. Ia menyebutkan, idealnya penggunaan pupuk urea yang sebelumnya sekitar 125 kilogram per hektare perlu ditingkatkan menjadi 200 kilogram per hektare. Sementara untuk pupuk NPK Phonska, kebutuhan mencapai sekitar 300 kilogram per hektare agar tanaman tetap memperoleh unsur hara yang seimbang.
Selain penambahan urea dan Phonska, petani juga berharap pemerintah dapat memasukkan pupuk lain ke dalam kuota subsidi tahun 2026. Pupuk seperti kapur pertanian, dolomit, pupuk organik, serta SP36. Semuanya dinilai sangat dibutuhkan untuk menaikkan pH tanah dan memperbaiki kesuburan lahan sawah.

“Pupuk-pupuk ini penting untuk memperbaiki tanah, bukan hanya mengejar hasil panen jangka pendek,” papar Tahang.
Petani Desa Rias optimis dengan penambahan kuota pupuk subsidi yang lebih beragam serta dukungan saprodi yang memadai, wilayah mereka dapat berkembang menjadi sentra produksi pangan. Peningkatan indeks penanaman yang telah dicapai saat ini dinilai sebagai modal penting menuju swasembada pangan di tingkat desa. Permintaan penambahan kuota pupuk subsidi ini menjadi sinyal penting bagi pemangku kebijakan.
Selain menjaga produktivitas, upaya memperbaiki kualitas tanah dinilai krusial agar pertanian di Desa Rias tetap berkelanjutan dalam jangka panjang. Peningkatan penyerapan pupuk subsidi ini menjadi indikator positif bagi sektor pertanian di Desa Rias. Dengan harga pupuk yang lebih terjangkau, distribusi yang lancar, serta semangat petani yang terus tumbuh, Desa Rias dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi pangan dan mendukung ketahanan pangan daerah.
“Harapan kami, antusias petani terus meningkat. Desa Rias bisa menjadi daerah swasembada pangan seperti yang diharapkan,” ucapnya.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











