My WordPress Blog
Daerah  

Jenazah Mahasiswi Unima Asal Sitaro yang Meninggal di Tomohon Disemayamkan di Minut

Korban Meninggal di Kost, Keluarga dan Komunitas Berduka

Evia Maria, seorang mahasiswi yang berasal dari Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara (Sulut), ditemukan meninggal di sebuah indekost di Kelurahan Matani Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, pada Selasa (30/12/2025). Jenazahnya kini disemayamkan di rumah kerabat di Perumahan CBA Gold, Teterusan, Mapanget, Minahasa Utara (Minut), Sulut.

Evia Maria adalah mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Manado (Unima) Tondano. Ia ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di kosnya, dan saat ini jenazahnya sedang dalam proses pemeriksaan lebih lanjut.

Pendeta Roos, yang merupakan tante Evia Maria, melayani sebagai Pendeta di Jemaat GMIM Eden Mapanget. Ia juga menjadi tempat penyemayaman jenazah korban. Rencana awal keluarga untuk membawa jenazah Evia ke Ulu Siau, Kepulauan Sitaro, dibatalkan setelah keputusan otopsi diambil oleh pihak berwajib.

Di rumah duka, puluhan orang hadir untuk melayat. Beberapa di antaranya merupakan anggota Ikatan Kekeluargaan Indonesia Sangihe Sitaro Talaud (IKISST) Sulawesi dan Manado. Ayah korban, Antonius Mangolo, serta adiknya, Revan, dan kerabat lainnya telah tiba di Manado sejak Rabu dinihari.

Paman Evia, Jhonli Mangolo, mengatakan bahwa rencana pembawaan jenazah ke Sitaro dibatalkan karena keputusan otopsi. “Kami berencana membawa pulang anak kekasih pagi ini tapi rencana berubah karena katanya mau otopsi,” ujarnya di rumah duka.

Dosen Terlibat dalam Kasus Ini

Seorang oknum dosen di Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Manado (Unima) Tondano, Sulawesi Utara (Sulut), berinisial DM, kini menjadi sorotan publik. DM menjadi perhatian setelah seorang mahasiswi bernama Evia Maria ditemukan meninggal dengan kondisi tak wajar.

Dalam kasus ini, ada surat yang ditujukan kepada Dekan FIPP Unima. Surat tersebut mencatat kronologi diduga Evia Maria mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari oknum dosen DM. Informasi ini membuat kasus tersebut viral di media sosial.

Para mahasiswa dan alumni ramai membagikan foto korban dan oknum dosen tersebut. Banyak dari mereka yang prihatin dengan situasi ini. Ada juga yang mengungkap sifat oknum dosen tersebut. N, seorang alumni FIP Unima, mengatakan bahwa dia dan teman-temannya pernah disuruh oleh oknum dosen tersebut untuk mencuci baju.

“Waktu itu saya pilih bagian menyetrika baju,” katanya. Ia juga mengungkap bahwa oknum dosen tersebut sering membahas hal tak wajar saat masuk ruang kuliah. “Dia selalu bahas soal hal intim saat masuk. Pernah juga suruh kumpul uang,” ungkapnya.

Tanggapan dari GMNI Minahasa

Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Minahasa, Rian Salu, mengatakan bahwa kasus ini harus diusut tuntas. “Kasus tersebut bukan peristiwa tunggal, oknum dosen tersebut telah melakukan hal itu selama bertahun-tahun,” kata Riand Salu.

Riand menilai bahwa tidak ada sanksi tegas yang diberikan oleh pihak kampus selama ini. “Ini adalah kegagalan serius institusi. Ketika kekerasan seksual dibiarkan dan sanksi dijatuhkan setengah hati, korbanlah yang menanggung dampak paling tragis,” tegas Riand.

GMNI Minahasa mendesak penanganan kasus secara transparan, penjatuhan sanksi tegas terhadap pelaku sesuai hukum, serta evaluasi menyeluruh sistem penanganan kekerasan seksual di UNIMA. “Kampus harus bertanggung jawab, memastikan ruang pendidikan yang aman dan manusiawi,” lanjutnya.

Riand Salu berharap agar tragedi serupa tidak kembali terulang. “Tidak boleh ada lagi pembiaran. Kampus harus berpihak pada korban dan keadilan,” tutupnya.

Kronologi Penemuan Jenazah

Menurut informasi dari pihak kepolisian, peristiwa tersebut pertama kali diketahui sekitar pukul 08.00 Wita. Penemuan berawal saat pemilik kost berinisial YR, yang tinggal di Kelurahan Matani Satu, menerima panggilan dari salah satu penghuni kost.

Dalam panggilan tersebut, YR diberitahu bahwa ada seorang penghuni yang ditemukan meninggal. Mendengar hal itu, YR langsung bergegas menuju lokasi indekost. Setibanya di tempat kejadian, YR melihat korban berada di depan pintu masuk kost dengan kondisi sudah meninggal.

Selanjutnya, YR menghubungi pihak kelurahan untuk melaporkan kejadian tersebut. Tak berselang lama, personel Polsek Tomohon Tengah langsung mendatangi lokasi kejadian.

Kapolsek Tomohon Tengah IPTU Stenly Tawalujan, bersama tim identifikasi dari Polres Tomohon kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Sebelumnya, saat dikonfirmasi, Kasat Reskrim Polres Tomohon, IPTU Royke Mantiri, menyampaikan bahwa dari hasil pemeriksaan awal tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

“Dari hasil pemeriksaan di lokasi, tidak ditemukan tanda kekerasan pada tubuh korban,” ujarnya. Ia menambahkan, pihak kepolisian sebenarnya akan melakukan penyelidikan lanjutan melalui proses otopsi. Namun, rencana tersebut tidak dilanjutkan karena pihak keluarga korban menolak dilakukan otopsi.


Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *