My WordPress Blog
Daerah  

Untuk Keluarga, Warga Bener Meriah Berani Risiko Lewati Jembatan Tenge Besi

Kondisi Jembatan Tenge Besi Masih Memprihatinkan Pasca-Bencana

Jelang sebulan pasca-bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda wilayah Kabupaten Bener Meriah, kondisi jembatan Tenge Besi di Kecamatan Gajah Putih masih memprihatinkan. Jalanan yang licin dan berlumpur serta jembatan darurat yang dibuat seadanya harus dilewati oleh warga untuk bisa beraktivitas dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Situasi ini sangat berisiko, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga yang membawa barang bawaan baik dari Bener Meriah menuju Bireuen ataupun sebaliknya. Warga menghadapi tantangan ekstrem dalam menjalani aktivitas sehari-hari akibat kerusakan infrastruktur yang parah.

Lansia dan Anak-Anak Harus Digendong

Di lokasi, terlihat banyak lansia dan anak-anak harus digendong oleh keluarga demi bisa melewati jembatan Tenge Besi. Anggota TNI yang berada di lokasi jembatan darurat Tenge Besi memberi peringatan kepada pengguna jalan agar tetap waspada dan antri satu-satu.

Kondisi ini menunjukkan betapa sulitnya akses yang harus ditempuh warga Bener Meriah ditengah keterbatasan infrastruktur pascabencana. Selain infrastruktur yang rusak, sektor perekonomian juga terdampak. Data dari Pusdalop Bener Meriah menyebutkan bahwa 306 hektare kebun warga dan 14,5 hektare sawah mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.

Warga Beralih Pekerjaan Sementara

Banyak warga kini beralih pekerjaan sementara sebagai tukang lansir cabai di titik-titik lokasi jalan longsor yang tidak dapat dilalui kendaraan roda empat. Di lintas jalan Nasional Bireuen-Takengon, warga melansir cabai dari Bener Meriah menuju titik yang bisa dilalui kendaraan roda empat sebelum akhirnya dijual ke Kabupaten lain.

Beberapa warga nekat membawa cabai menggunakan kendaraan sepeda motor, sementara yang lain memikul cabai berjalan kaki melewati lumpur dan menyebrangi jembatan-jembatan darurat. Semua upaya dilakukan agar bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Muhammad, seorang warga Ronga-ronga, mengatakan bahwa ia bekerja sebagai tukang lansir cabai dari jembatan Umah Besi menuju jembatan Tenge Besi. Ia mengaku bahwa dengan mobil, ia bisa mendapat upah antara Rp 200 hingga 300 ribu per kali perjalanan, tergantung muatan.

Aktivitas Malam Hari di Jalur Jembatan Tenge Besi

Pantauan wartawan menunjukkan bahwa warga membawa cabai tidak hanya di siang hari, namun juga malam hari ratusan kendaraan lansir cabai terlihat memenuhi jalanan. Dari arah Bener Meriah, warga membawa cabai, sedangkan dari arah Bireuen mereka rata-rata membawa beras dan kebutuhan dapur lainnya.

Di lintasan jalan Nasional Bireuen-Takengon masih ada beberapa titik jalan yang belum normal. Dari Bener Meriah, jalan rusak mulai dari jembatan Umah Besi, Kecamatan Gajah Putih. Namun, di sana telah dibuat jembatan darurat dan sebagian warga nekat bisa melintasi dengan kendaraan roda dua.

Jembatan “Shiratal Mustaqim”

Di kawasan jembatan Tenge Besi, jembatan yang menghubungkan antar Kecamatan Gajah Putih dan Pintu Rime Gayo putus total. Kawasan itu telah dibuat jembatan darurat yang bisa dilalui khusus oleh pejalan kaki, yang dinamakan jembatan “Shiratal Mustaqim”.

Karena kondisi jembatan yang kecil dan seadanya, tentu bila terjatuh akan dapat membahayakan jiwa. Namun, warga yang nekat bisa melintasi jembatan tersebut dengan kendaraan dan harus melewati sungai dari bawah jembatan.

Selanjutnya, jalan rusak terdapat di kawasan Kilometer 60 di Kecamatan Pintu Rime Gayo, di mana warga masih dipaksa berjalan kaki menyebrangi sungai. Pantauan di lokasi menunjukkan adanya beberapa alat berat yang masih terus bekerja hingga larut malam memperbaiki jalan yang terputus tersebut.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *