Sekolah yang Mirip Kandang Kambing di Kabupaten Gowa
Di tengah kawasan yang terpencil, kondisi sekolah di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, menunjukkan keadaan yang sangat memprihatinkan. Salah satu madrasah yang menjadi sorotan adalah Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kelurahan Cokoro, Kecamatan Tompobulu. Penampakan sekolah ini tidak jauh berbeda dari kandang kambing, dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan tripleks serta lantai yang masih tanah.
Sekolah tersebut memiliki puluhan murid SD yang berasal dari kelas 1 hingga kelas 6. Namun, hanya ada satu orang guru honorer, yaitu Mansyur (58 tahun), yang bertugas mengajar semua siswa. Kadang, ia dibantu oleh mahasiswa yang sedang menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN). “Ada 40 lebih siswa dan cuma tiga kelas, jadi kelas satu dan dua terpaksa digabung satu kelas, begitupun kelas tiga dan empat dan seterusnya,” jelas Mansyur.
Sekolah ini merupakan kelas jauh dari sekolah induknya yang berjarak sekitar 5 kilometer. Dibangun pada tahun 2010, sekolah ini menggunakan tanah wakaf dan bahan bangunan yang diperoleh dari sumbangan masyarakat setempat. Awalnya, siswa belajar di bawah rumah karena jarak sekolah induk yang jauh. Lima belas tahun lalu, dibangunlah sekolah kelas jauh ini, yang hasil swadaya masyarakat.
Upah yang Minim dan Tantangan Pendidikan
Sebagai satu-satunya tenaga pengajar di sekolah tersebut, Mansyur hanya mendapatkan upah yang sangat minim, yakni Rp 250.000 per bulan yang dibayarkan setiap tiga bulan sekali. “Kalau tenaga pengajar cuma saya sendiri, biasanya dibantu sama mahasiswa KKN. Gaji saya cuma Rp 250.000 per bulan dan dibayarkan setiap tiga bulan,” jelasnya.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pendidikan anak-anak di kawasan tersebut. Muthaharah, seorang pemerhati sosial, sangat berharap adanya perhatian dari pemerintah. “Kita lihat sendiri, sekolah ini mirip kandang kambing. Kami berharap pemerintah turun tangan untuk membangun sekolah ini. Meskipun ini adalah kelas jauh dan merupakan sekolah swasta, tetapi ini adalah sarana pendidikan yang harus didukung,” ujarnya.
Dengan harapan yang tulus, semoga perhatian dari pihak terkait dapat segera terwujud, agar sekolah tersebut dapat memberikan pendidikan yang layak dan berkualitas bagi anak-anak di wilayah Gowa.
Sekolah Serupa di Kota Dumai
Kondisi serupa juga terlihat di Kota Dumai, Riau. Sekolah SMA yang mirip kandang hewan sempat terlihat di Kelurahan Geniot, Kecamatan Sungai Sembilan. Sekolah ini adalah kelas jauh SMA Negeri 4 Kota Dumai, yang dibangun sejak tahun 2017. Sekolah ini tidak memiliki ruang guru, lantai masih beralaskan tanah, dan kondisi bangunan sudah lapuk.
Dinding bolong-bolong dan atap bocor membuat bangunan sekolah tampak seperti kandang hewan ternak. Anak-anak tetap sekolah meski harus menghadapi panas dan hujan. Lantaran tidak ada perhatian dari pemerintah Provinsi Riau, anak-anak berharap bantuan dari Presiden.
Gubernur Riau, Abdul Wahid, ketika dimintai tanggapan, tidak merespons terhadap persoalan pendidikan yang butuh perhatian itu. Sekolah ini memiliki 4 ruang belajar dengan 176 siswa dan 10 tenaga pengajar. Bangunan sekolah tampak dikelilingi pohon kelapa sawit, akses jalan masih berupa jalan tanah, dan kondisi bangunan sangat memprihatinkan.
Kondisi yang Mengganggu Proses Belajar
Selain dinding luar yang bolong, dinding dalam pembatas ruangan belajar juga banyak yang bolong. Ruang belajar pun tidak memiliki pintu. Atap sekolah juga sudah ada yang bolong dan memasukkan air ketika hujan. Lantainya langsung tanah. Secara keseluruhan, kondisi sekolah ini tidak layak pakai.
Para siswa belajar hanya dengan menggunakan meja kayu dan kursi plastik. Tak semua siswa memakai sepatu. Sebagian hanya memakai sandal dan nyeker di tanah. Kondisi dinding sekolah yang rusak dan bolong-bolong membuat anak-anak dan guru merasa gerah dan panas. Ketika hujan disertai angin kencang, hal ini mengganggu proses belajar mengajar.
Mirisnya lagi, siswa kelas jauh ini belum pernah merasakan belajar di ruang laboratorium dan praktik lapangan karena keterbatasan fasilitas. Salah seorang siswa, Ade, mengaku tidak fokus belajar dengan kondisi sekolah yang buruk. “Kondisi sekolah cukup buruk, membuat kami tidak nyaman dan tidak terlalu fokus belajar karena panas dan masuk air kalau hujan,” akui Ade saat diwawancarai wartawan.
Harapan untuk Perbaikan Sekolah
Saat hujan turun, air masuk ke dalam ruang belajar. Kondisi itu memaksa siswa dan guru menghentikan proses belajar mengajar. “Kalau hujan kami berhenti dulu belajar. Berkumpul di ruangan yang tidak bocor untuk berteduh. Kadang lanjut belajar lagi, tapi ada juga kadang kami langsung pulang,” sebut Ade.
Oleh karena itu, Ade berharap kepada Presiden agar dapat membantu membangun sekolah yang lebih layak. “Harapan kami, semoga bapak presiden mau membantu. Tolong kami, Pak Presiden. Turunlah ke sekolah kami, Pak, biar bisa melihat langsung kondisinya,” ucap Ade.
Sebagai informasi, sekolah ini tak bisa dibangun permanen karena terkendala statusnya yang termasuk dalam kawasan hutan. Namun, sekolah ini adalah satu-satunya tempat pendidikan bagi anak-anak di pinggir Kota Dumai. Setiap tahun ajaran baru, sekolah ini hanya bisa menampung 70 orang siswa untuk ditempatkan di dua ruang kelas.











