Sejarah dan Perjalanan Nurul Indarti, Guru Besar Wanita Pertama di FEB UGM
Prof. Nurul Indarti telah mencatat sejarah sebagai guru besar perempuan pertama dalam bidang manajemen di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM). Pengukuhan beliau dilakukan pada 27 Agustus 2024 lalu, yang menjadi momen penting dalam kariernya sebagai akademisi. Selain itu, Nurul juga menjabat sebagai Ketua Departemen Manajemen FEB UGM. Meski kini memiliki gelar yang membanggakan, kisah perjalanan akademiknya tidak selalu mulus.
Lika-Liku Kuliah: IPK Rendah dan Kesadaran Diri
Nurul Indarti lahir di Yogyakarta pada tahun 1976. Ia menyelesaikan seluruh jenjang pendidikannya di kota ini. Di masa SMA, ia adalah siswa jurusan IPA di SMAN 8 Yogyakarta. Namun, saat memilih kuliah, ia memutuskan untuk mengambil jurusan Ilmu Sosial (IPS), yang ternyata memberinya tantangan berbeda.
Di semester awal perkuliahan, Nurul meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) hanya 2,97, yang membuat ayahnya khawatir. “Saya menggampangkan perkuliahan karena dulu dari jurusan IPA,” ujarnya. Saat itu, Kartu Hasil Studi (KHS) dikirim ke rumah, dan ayahnya berkata, “Bapak bertutur mau jadi apa kamu kalau IPK tidak sampai 3.”
Pada masa itu, Nurul aktif sebagai aktivis dan mengikuti kegiatan kepemudaan Ikatan Pelajar Muhammadiyah sejak bangku SMA. Ia banyak menghabiskan waktu hingga pagi buta untuk kegiatan organisasi, sehingga menyepelekan studinya. Akhirnya, ia mundur dari kegiatan IPM dan mulai serius kuliah, yang akhirnya membawa hasil yang baik.
Perjalanan Akademik yang Menginspirasi
Setelah lulus S1 dengan predikat cumlaude pada 1998, Nurul melanjutkan studi S2 di School of Management, University of Adger, Kristiansand, Norwegia, dan meraih gelar Master of Business Administration (Sivilokonom) pada 2002. Selanjutnya, ia mendapat gelar Master of Science in Strategic and Operations Management (Candidata Mercatoria) di Norwegian School of Economics and Business Administration, Bergen, Norwegia pada 2003.
Pada tahun 2010, Nurul berhasil meraih gelar Doktor (Ph.D) dalam bidang Knowledge Management and Innovation dari Faculty of Economics and Business, University of Groningen, The Netherlands.
Pengukuhan sebagai Guru Besar
Meskipun pengukuhan sebagai guru besar terjadi setahun lebih pasca prosesnya, Nurul tetap menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ia mengajukan usulan guru besar pada 2017 namun belum lolos di tingkat universitas. Setelah mengajukan kembali pada 2019, akhirnya pada 2020 ia resmi mendapatkan SK guru besar.
“Guru besar bukan tujuan, tetapi konsekuensi dari menjalankan tanggung jawab dengan baik sebagai dosen yang diikat oleh tridharma yang core-nya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan,” kata Nurul.
Fokus pada Kewirausahaan Kelompok Marjinal
Nurul dikenal sebagai dosen UGM yang fokus melakukan kajian soal kewirausahaan termasuk dari kelompok marjinal seperti perempuan dan penyandang disabilitas. Dalam pidatonya saat pengukuhan sebagai guru besar, judulnya Melihat Kewirausahaan dari Pinggiran: Perspektif Etnis, Perempuan, dan Sosial.
Menurut Nurul, kewirausahaan etnis, perempuan, dan sosial sering kali dipinggirkan atau termarginalisasi karena berbagai faktor struktural dan kultural. Mereka menghadapi berbagai hambatan yang membatasi akses mereka terhadap peluang dan sumber daya yang dinikmati oleh kelompok mayoritas.
Kontribusi dalam Pendidikan dan Penelitian
Nurul telah mengembangkan kurikulum kewirausahaan menjadi wajib bagi mahasiswa program sarjana prodi manajemen pada tahun 2004 silam. Di Magister Manajemen UGM, ia mengembangkan konsentrasi kewirausahaan pada 2011. Ia juga menginisiasi kurikulum keberlanjutan pada program Master in Sustainability Development and Management (MASUDEM) MM FEB UGM.
Dengan jabatan sebagai guru besar, tanggung jawab Nurul untuk berkontribusi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat semakin besar pula. Ia terus mendorong dan memperjuangkan kebijakan yang ramah bagi kelompok marginal dalam berwirausaha.











