Janji Bahlil Lahadalia untuk Warga Terdampak Banjir di Desa Garoga
Pada Senin (8/12/2025), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan janji kepada warga yang terdampak banjir bandang di Desa Garoga, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara. Ia berjanji akan memberikan bantuan berupa 250 tenda untuk kebutuhan pengungsian sementara. Namun hingga Jumat (12/12/2025), bantuan tersebut belum juga tiba.
Camat Batangtoru, Mara Tinggi, mengatakan bahwa dari informasi yang ia dapat, bantuan tenda tersebut sedang dalam perjalanan. “Belum. Belum ada. Nanti, kalau sudah tiba akan kami sampaikan,” ujar Mara Tinggi saat dikonfirmasi wartawan, Jumat. Ia menambahkan, informasinya menyebutkan bahwa bantuan tersebut sedang di jalan.
Sebelumnya, pada Selasa (2/12/2025), Desa Garoga sempat dikunjungi oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Saat itu, tidak ada tenda-tenda yang terlihat digunakan warga sebagai tempat tinggal sementara. Yang terlihat hanya tenda-tenda yang digunakan sebagai posko bantuan. Dalam kunjungan tersebut, Bahlil didampingi Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri dan Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo.
Dalam kunjungannya, Bahlil menyampaikan janji bantuan 250 tenda kepada warga pengungsi yang terdampak bencana. Ia juga meminta kepada bawahannya yang membidangi perusahaan, untuk membersihkan semua material banjir dan longsor berupa kayu-kayu. “Saya minta kepada ESDM untuk membersihkan semua kayu-kayu ini, pakai alat yang berasal dari perusahaan tambang (PT Agincourt Resources), supaya bisa kita bersihkan semua,” ujar Bahlil.
Kepala Desa Garoga, Risman Rambe, mengatakan bahwa warga masih membutuhkan tenda untuk digunakan sebagai tempat tinggal sementara. “Saat ini kami masih mengungsi di tempat pengungsian dan rumah-rumah saudara. Jadi kami butuh tenda, untuk tempat tinggal kami sementara,” ujarnya.
PLN Klaim Listrik Kota Sibolga Menyala 100 Persen, Namun 2 Desa di Tapanuli Belum Terjangkau
Di sisi lain, Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengklaim saat ini sudah bisa mengalirkan listrik ke rumah-rumah warga di Sibolga secara 100 persen. Sementara di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara, masih ada dua desa yang listriknya masih padam dan belum menyala.
“Sebagian besar sudah menyala. Kota Sibolga 100 persen. Terus, Tapanuli Utara juga sudah, cuma ada beberapa desa yang belum terjangkau karena terisolir, kita belum bisa masuk,” kata Humas PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Utara, Diki Nasution, Kamis (11/12/2025) kemarin.
Lebih lanjut Diki menjelaskan bahwa sebenarnya jaringan 20 kv-nya sudah hidup atau jaringan distribusi sudah menyala. Namun jaringan tegangan rendah yang ke rumah belum bisa karena beberapa masih terkena longsor. “Ke rumah-rumah itu kan sifatnya 220 volt, bukan yang 20 kv. Nah, jadi itulah kendala kita sekarang. Itu di beberapa desa di Kecamatan Parmonangan, Taput yang belum bisa dimasuki. Kecamatan Adian Koting semua sudah menyala,” tutur Diki.
Di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapteng, ada dua desa yang mengalami banjir dan longsor susulan. PLN sebelumnya sudah memperbaiki tegangan rendah menuju ke rumah warga. Namun karena ada longsor susulan, perbaikan instalasi listrik masih terkendala dan membuat rumah-rumah warga masih padam.
“Teman-teman di lapangan sudah berusaha dan sudah bisa mengaliri. Namun kita terkendala di sambungan ke rumah. Itu karena longsor susulan dan masih terendam banjir,” ucap Diki.
Dia menambahkan, ada Kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah yang belum teraliri listrik, karena terisolasi. Namun ia belum merincikan desa-desa tersebut di mana saja. Tetapi dia mengeklaim bahwa listrik sudah 99,6 persen menyala di daerah yang terdampak banjir dan longsor di Sumatera Utara.
Sebelumnya diberitakan, warga Lorong IV, Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, mengeluhkan ketiadaan aliran listrik sejak banjir dan longsor pada Selasa (25/11/2025). Kondisi tersebut semakin diperparah saat desa mereka kembali dilanda banjir susulan pada Minggu (7/12/2025).
“Kondisi di Hutanabolon masih sama seperti keadaan banjir pertama, termasuk jaringan komunikasi tidak bagus,” kata salah seorang warga, Vero, Rabu (10/12/2025). Namun, hingga saat ini Hutanabolon belum teraliri listrik, warga juga membutuhkan listrik untuk bertahan pascabencana.
“Kalau bantuan sembako sudah ada dari pemerintah, cuma kami butuh penerangan saja, khusus kami yang ada di ujung kampung. Kalau bisa kasih lah kami Genset mini aja,” ujar Vero.
Sementara untuk berkomunikasi, sinyal sangat terbatas, berkirim pesan singkat harus menunggu tiga hingga empat jam. Kata Vero, saat ini ada 6 kepala keluarga yang tinggal Lingkungan 4, salah satu lokasi paling parah terdampak banjir dan longsor.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











