Respons Bupati terhadap Gagal Panen Petani di Tujuh Desa
Bupati Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra) memberikan respons mengenai gagal panen yang dialami para petani di tujuh desa akibat tanggul kebun sawit. Tujuh desa tersebut antara lain Puuwuhaeko, Koronua, Watuwatu, Tolowanua, Ulusabulakoa, Wuura, serta Teluwanua yang berada di Kecamatan Mowila dan Sabulakoa.
Para petani menduga bahwa gagal panen yang terjadi disebabkan oleh alih fungsi lahan sawah produktif menjadi perkebunan sawit. Selain itu, kerusakan bendungan Puuwuhaeko dan tersumbatnya saluran irigasi juga menjadi faktor utama. Pembangunan tanggul kebun sawit plasma milik PT Merbaujaya Indahraya disinyalir sebagai penyebab utama dari masalah ini.
Haji Asgar, warga Desa Puuwehuko, Kecamatan Mowila, Kabupaten Konsel, menyampaikan keluhannya kepada media. Ia meminta bantuan Presiden Prabowo dengan mengatakan, “Ini sudah tahun kedua.” Menurutnya, tanggul kebun sawit PT Merbau tenggelamkan sawah mereka. Pada musim hujan, sawah terendam selama 3 hingga 6 bulan.
Bupati Konsel, Irham Kalenggo menjelaskan bahwa ada oknum yang memperjualbelikan lahan di wilayah tersebut, termasuk ke pihak PT Merbau. Perusahaan sawit ini kemudian mendirikan tanggul karena merasa memiliki hak kepemilikan atas tanah tersebut. Pembangunan tanggul oleh PT Merbaujaya Indahraya ternyata membawa dampak buruk terhadap produktivitas para petani yang menggarap sekitar 130 hektar (ha) lahan sawah di tujuh desa.
Dampak itu berujung pada pelaporan oknum penjual lahan ke Aparat Penegak Hukum atau APH oleh pihak perusahaan. “Kalau saya tidak salah PT Merbau sementara melakukan pelaporan kepada pihak berwajib, agar oknum-oknum yang perjualbelikan tanah tersebut segera diproses,” jelas Irham saat ditemui di Kendari.
Dia bilang, penjualan lahan pertanian oleh oknum tak bertanggungjawab ini tidak hanya dilakukan ke PT Merbau, tetapi juga ke PT Bosowa dan kelompok masyarakat lainnya. Bahkan menurutnya, oknum yang memperdagangkan tanah tersebut diketahui oleh aparat desa setempat.
Mantan Ketua DPRD Konsel ini mengakui, adanya tanggul menyebabkan sawah terendam, terutama pada saat musim hujan. “Kita pahami adanya tanggul itu agak susah karena airnya akan menyeberang lagi, tapi kalau pas musim kering tentu airnya akan turun,” ujar dia.
Adapun solusi yang ditawarkan Irham kepada petani selain padi adalah penanaman komoditi lain seperti jagung ataupun sayur-sayuran.
Alasan Lahan Sawah Berubah Fungsi
Diberitakan sebelumnya, hingga pertengahan 2025 lalu ada sekitar 130 ha sawah terpapar dan beralih fungsi jadi kebun sawit. Bersama tokoh masyarakat, kepala desa dan anggota DPD RI La Ode Umar Bonte, warga sudah berjuang dua tahun memprotes alihfungsi lahan ini.
“Sudah empat kali Pak Umar Bonte datang melihat langsung sawah kami, tapi sepertinya memang bebal hukum ini PT Merbau,” ujar Insinyur Asgar, melalui sambungan telepon. Bahkan, katanya, beberapa kepala desa dan warga sudah ditetapkan jadi tersangka oleh polisi setempat, atas laporan pihak perusahaan.
Tribun belum mendapat konfirmasi aduan warga ini dari pihak Merbau. Sawah gagal panen di selatan Konawe ini, jelasnya, adalah program pencetakan 80 ha sawah nasional di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tahun 2008 lalu. Program ini dari alokasi dana APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).
Setelah panen dan dinilai berhasil, program pencetakan sawah ini berlanjut tahun 2011 (80 ha) dan 2012 (90 ha) dengan total luas 170 ha. Hingga 2023, total lahan cetak sawah sudah mencapai 230 ha. Sawah baru itu dari lahan tidur dan kebun warga dengan alas sertipikat hak milik dan surat keterangan kepemilikan dan hak pengelolaan.
Mewakili sekitar, 100 kepala keluarga (KK), mereka sudah mengadu ke pemerintah kabupaten, DPRD Konsel, Gubernur Sultra, komisi III DPRD Sultra, dan ke kajaksaan tinggi. Bahkan, mereka sudah membawa surat langsung ke sejumlah menteri dan pimpinan lembaga negara.
Tahun lalu mereka bersurat ke Menteri Pertanian, Kapolri, Kementerian ATR/ BPN, Kejaksaan Agung di Jakarta. “Minggu lalu, kami juga bawa surat lagi ke Menteri Pertanian dan Kementerian Dalam Negeri,” ujar M Rais, warga lainnya.
Dalam waktu dekat, atas masukan sejumlah pihak, perwakilan petani ini sudah bersurat ke komisi IV DPR meminta agenda rapat dengar pendapat. “Kami juga bersurat ke Pak Menko Pangan Zulkifli Hasan,” ujarnya.
Tim Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian
Selain Menteri Koordinator Bidang Pangan, akhir November 2025 lalu, Zulkifli Hasan ditunjuk sebagai Koordinator Pengendalian Alih Fungsi Lahan. Sedangkan Menko Infrastruktur dan Pengembangan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjabat sebagai Wakil Koordinator.
Nusron Wahid, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) menjabat sebagai Ketua Harian Tim Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian. Di laman Kementerian ATR/BPN, task force atau gugus tugas ini bertugas mempercepat penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) guna menekan laju alih fungsi sawah yang selama ini mengancam ketahanan pangan nasional.
Awal November 2025 lalu, tepatnya Selasa (11/11/2025), task force menggelar rapat Koordinasi Percepatan Penetapan LP2B dan Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD), di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta.
“Pembentukan tim dan verifikasi penetapan lahan LP2B dan LSD di berbagai provinsi, terutama di 12 provinsi prioritas. Supaya ketahanan pangan dapat tercapai dan lahan pertanian tidak tergerus untuk kepentingan lain,” ujar Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid.
LP2B merupakan lahan sawah yang ditetapkan pemerintah untuk digunakan sebagai lahan pertanian pangan secara berkelanjutan dan tidak boleh dialihfungsikan. Penetapan LP2B berasal dari total Lahan Baku Sawah (LBS), yang sebagiannya ditetapkan sebagai LSD dengan perlindungan hukum yang lebih ketat.
Pemerintah telah menetapkan LBS seluas 7,38 juta hektare, dan sekitar 87 persen di antaranya telah masuk dalam kategori LP2B yang tidak dapat dialihfungsikan. Hingga saat ini, baru 194 kabupaten/kota atau sekitar 57 persen wilayah yang telah mencantumkan LP2B dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











