My WordPress Blog

3 Guru, 3 Inovasi: Kehidupan Kelas yang Berbeda

Tiga Guru, Tiga Inovasi: Hidupkan Kelas dengan Cara Berbeda

Di ruang kelas yang sering terdengar riuh dengan keluhan siswa yang bosan atau justru hening karena materi yang tidak menarik, tiga guru di Semarang memilih untuk berjalan di jalur yang berbeda. Mereka tidak mengeluh tentang keterbatasan. Sebaliknya, dari genangan banjir, ruang bising di pinggir rel, dan papan tulis yang konvensional, mereka merajut inovasi yang menghidupkan kembali semangat belajar.

Mereka membuktikan bahwa pembelajaran yang bermakna lahir bukan dari fasilitas yang sempurna, melainkan dari kreativitas dan ketulusan hati seorang pendidik.

Tri Sugiyono: Bangkit dari Banjir dengan Kreativitas

Lokasinya berada di kawasan pesisir Kota Semarang, tepatnya di Desa Tambakrejo. Setiap tahun, SD Negeri Tambakrejo 01 hampir tak pernah luput dari ancaman banjir yang mengganggu aktivitas belajar. Buku-buku kerap rusak tersapu air, sebagian kelas terpaksa dipindah. Genangan air bahkan bukan satu-satunya tantangan. Lingkungan sosial sekitar sekolah dikenal heterogen dan cukup keras.

Di tengah kondisi itu, berdirilah tekad besar Tri Sugiyono. Sejak menjabat kepala sekolah pada 2021, ia menyadari masalah utama jauh lebih kompleks daripada sekadar ruang kelas yang terendam. Rendahnya rasa percaya diri siswa dan capaian literasi-numerasi yang mengkhawatirkan menjadi musuh tak terlihat yang harus dihadapinya. Namun, bagi Tri, tantangan justru menempa karakter.

“Saya lihat waktu itu prestasi minim, pembelajarannya juga kurang,” kenangnya saat diwawancarai, Senin (17/11/2025). Sekolah pun bertekad menjadi antitesis dari lingkungan yang keras, berupaya menjadi tempat yang aman, damai, dan bebas intimidasi. Upaya itu berbuah Juara 2 Sekolah Ramah Anak Kota Semarang pada 2024.

Untuk mematahkan rasa minder siswa, lahirlah Seberkas (Selasa Berkreasi Bakat Siswa). Setiap Selasa pagi, tiap kelas bergantian menampilkan talenta. Hasilnya nyata, tim tari sekolahnya pernah meraih juara. “Alhamdulillah, anak-anak semakin berani tampil,” katanya.

Tantangan terberat berikutnya adalah rapor merah literasi dan numerasi dari Asesmen Nasional. Skor numerasi hanya 26,63 dan literasi 50. Ditambah lagi, ketiadaan buku bacaan. Krisis memuncak ketika banjir besar 2022–2023 menghapus ratusan buku yang susah payah dikumpulkan. Dari krisis itu, justru lahir terobosan: digitalisasi buku. Pada 2022, setiap siswa diwajibkan membuat satu buku digital. Mereka menggambar, menulis cerita, lalu memindainya ke PDF untuk disimpan di “Sudut Baca Digital” di setiap kelas. Lebih dari 200 buku digital lahir dari kreativitas anak-anak yang sehari-hari berjuang melawan banjir.

Transformasi ini berdampak besar. Pada 2025, skor numerasi melonjak menjadi 83,33 dan literasi 86,67. Semua angka tersebut sudah masuk kategori hijau dan di atas rata-rata nasional. Inovasi tak berhenti di sana. Tri juga mengembangkan EVI MAP (Ethnoscience Village MAP), sebuah peta belajar berbasis kearifan lokal. Siswa diajak berkeliling kampung, mengukur langsung objek-objek bersejarah, seperti makam Sunan Terboyo, untuk memahami konsep matematika secara nyata.

Eko Prasetyo Nur Utomo: Mengenalkan Sains dengan Augmented Reality

Suasana berbeda terlihat di kelas 5 SD Negeri Pendrikan Lor 01 Semarang. Konsisi kelas hidup dan riuh siang itu. Siswa-siswa duduk berkelompok dengan gawai di tangan. Ada juga kartu belajar berisi materi sistem pencernaan. Eko Prasetyo Nur Utomo, sang guru, membacakan pertanyaan. Mereka berebut menjawab, karena kelompok dengan poin terbanyak akan mendapat medali.

OSI Ceria (Organ Sistem Pencernaan Manusia) adalah inovasi Eko, yakni sebuah aplikasi Augmented Reality (AR) yang menghadirkan organ pencernaan dalam bentuk 3D interaktif. Hanya dengan memindai kartu marker, siswa bisa melihat gigi, lidah, lambung, hingga usus besar dari berbagai sudut, lengkap dengan video dan game petualangan.

Gagasan ini lahir dari kegelisahan. Dari asesmen awal, Eko menemukan mayoritas siswa tidak memahami materi sistem pencernaan. Buku pelajaran dirasa kaku, media visual hanya 2 dimensi. Merancang aplikasi dari nol bukan hal mudah. Eko harus belajar platform Vuforia dan Unity secara mandiri. Laptopnya sempat tidak mampu menangani kamera AR. Tantangan lain datang dari orang tua yang khawatir dengan keamanan aplikasi. Namun, semua itu tak menghentikannya.

Inovasi Eko tidak berhenti pada sains. Ia mengintegrasikan numerasi ke dalam permainan ular tangga yang dipadukan dengan kartu soal OSI Ceria. Misalnya, siswa diminta menghitung kecepatan proses pencernaan di usus besar. Hasilnya, nilai numerasi sekolah yang semula “kuning” perlahan merangkak naik.

Bavo Manon Nugroho: Matematika di Jalanan Kota

Sementara itu, di SMP Negeri 7 Semarang, Bavo Manon Nugroho punya kegelisahan sendiri. Baginya, masalah utama siswa bukanlah kemampuan berhitung, melainkan memahami soal dan menerapkan konsep dalam konteks nyata. “Hitungnya bisa. Tapi begitu diberi soal cerita, mereka bingung,” ujarnya.

Dari kegelisahan itulah, Bavo membawa matematika “turun ke jalan”. Melalui Math City Map (MCM), ia menjadikan ruang publik Kota Semarang, seperti Kota Lama, Semarang Zoo, dan TBRS menjadi laboratorium numerasi raksasa. Siswa berkeliling dengan aplikasi MCM yang memandu mereka menggunakan GPS ke lokasi tugas, lalu mengukur dan menghitung objek nyata, seperti luas bangunan atau tinggi tiang bendera.

Perjalanan MCM di Semarang bermula satu dekade lalu saat Bavo terlibat dalam penelitian bersama dosen Unnes, Dr. Adi Nur Cahyono. Yang menarik, penerapan MCM di Semarang melampaui ekspektasi. Jika di Frankfurt, Jerman, tempat lahirnya MCM, aplikasi ini hanya untuk pembelajaran kelas, di Semarang ia menjelma menjadi kompetisi besar yang telah diadakan lima kali sejak 2021.

Benang Merah Kolaborasi dan Sistem yang Mendukung

Kisah ketiga guru ini tidak berdiri sendiri. Inovasi mereka tumbuh dalam ekosistem yang turut didukung oleh kebijakan Pemerintah Kota Semarang dan program pendampingan seperti PINTAR dari Tanoto Foundation. Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kota Semarang, Aloysius Kristiyanto, menjelaskan tiga langkah strategis yang dilakukan: mengintegrasikan pendekatan PINTAR ke dalam regulasi daerah, mendiseminasi praktik baik, dan membangun mekanisme keberlanjutan melalui ruang kolaborasi seperti komunitas belajar Tugu Muda.

Head of Learning Environment Tanoto Foundation, Margaretha Ari Widowati, menegaskan komitmen mereka. “Literasi dan numerasi adalah pondasi untuk belajar sepanjang hayat dan hidup secara produktif serta bermartabat,” ujarnya. Hingga kini, program mereka telah menjangkau 41 kabupaten/kota, 1.571 sekolah, dan berdampak pada lebih dari 1 juta siswa.

Tri Sugiyono, Eko Prasetyo Nur Utomo, dan Bavo Manon Nugroho adalah potret nyata bahwa inovasi pendidikan tidak memandang latar. Ia bisa lahir dari sekolah yang nyaris tenggelam setiap tahun, dari kelas di pinggir rel, atau dari kegelisahan seorang guru matematika yang ingin muridnya ‘merasakan’ angka. Mereka membuktikan bahwa perubahan tidak selalu memerlukan sumber daya yang besar. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk memulai dari yang kecil, ketekunan untuk terus mencoba, dan keyakinan bahwa setiap anak berhak merasakan kegembiraan dalam belajar.

Di tengah air yang hampir setiap tahun menggenangi SD Negeri Tambakrejo 01, justru muncul api semangat yang tak pernah padam. Seperti kata Tri dengan penuh keyakinan, “Walaupun kami di pinggir, prestasinya bisa seperti yang di tengah. Bahkan bisa mengalahkan”. Inovasi mereka adalah nyala api itu. Kecil mungkin, tetapi cukup terang untuk menerangi jalan menuju pendidikan yang lebih memanusiakan.

Zaiful Aryanto

Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *