Awal Perjalanan yang Penuh Tantangan
Peringkat ke-40 dari 40 siswa di kelas SMP menjadi titik balik dalam hidup Cut Vivia Talitha. Lahir di Denpasar, Bali, Vivia pindah ke kampung halaman ayahnya di Bireun, Aceh ketika berusia 11 tahun akibat konflik antara orangtuanya. Di tahun pertamanya bersekolah di SMPN 1 Peusangan, Bireun, ia masih masuk dalam 10 besar kelas. Namun, di tahun kedua, Vivia mulai mengalami penurunan prestasi.
Ia sering tidak mengerjakan tugas, sering dihukum guru, dan peringkatnya turun drastis. Hingga semester pertama kelas 3 SMP, Vivia jatuh ke peringkat ke-40. Guru wali kelasnya, Ibu Juraidah, menatapnya dan bertanya, “Vi, Vivi ranking 40. Kenapa bisa sejauh ini?” Vivia hanya tersenyum di depan meja guru tersebut. Sejak saat itu, perlakuan Ibu Juraidah mulai berubah.
Bangkit Karena Dukungan Guru Kelas
Vivia mengatakan bahwa Ibu Juraidah pernah memergokinya menangis dan berusaha membuatnya bercerita. Namun, Vivia hanya bisa menumpahkan air mata. Ia mengaku mengalami depresi pada masa itu. Konflik keluarga dan kejatuhan finansial terus menghiasi hidupnya.
Sejak saat itu, Ibu Juraidah banyak melibatkan Vivia dalam kegiatan kelas. Termasuk menyapa dirinya yang sering melamun. Suatu hari, Vivia diminta menjawab soal di papan tulis. Ia menjawab dengan benar, dan Ibu Juraidah berkata, “Tuh kan, Vivi bisa jawab. Kawan-kawan aja belum bisa materi ini.” Teman-teman yang ranking teratas mendukung argumen guru tersebut.
Meski begitu, Vivia hanya tersenyum. Pujian itu belum mampu menembus dinding di relung hatinya. Suatu hari, rapor Vivia dibagikan bersama rapor murid-murid yang akan mendaftar ke kelas akselerasi di SMAN 1 Bireun. Vivia heran dan bertanya kepada guru apakah ia tidak punya rencana mengikuti kelas akselerasi. Teman-temannya mendorongnya untuk ikut mendaftar, tetapi Vivia justru merasa khawatir tentang ekspresi Ibu Juraidah yang tiba-tiba merengut dan kembali ke ruang guru.
Setelah hasil try out UN keluar, ternyata Vivia menempati peringkat pertama dari 300 siswa seangkatan. Pada pertemuan berikutnya, Ibu Juraidah semringah dan memuji Vivia bahwa ia aslinya pintar. “Vivi kalau memang enggak mau masuk kelas aksel setidaknya nanti harus masuk kelas unggulan di SMA 1, ya?” ujar Vivia teringat ucapan Ibu Juraidah.
Perhatian yang Membawa Perubahan
Perhatian Ibu Juraidah, kata Vivia, mampu melewati pagar keras di dalam dirinya. Meski hanya menjawab dengan senyuman, sejak saat itu Vivia terus berjanji ke diri sendiri, “Aku harus bangkit. Aku harus penuhi harapan Bu Juraidah.”
Vivia lulus SMP tahun 2012. Ia mengakui bahwa konsistensi perhatian Ibu Juraidah, ketulusannya, apresiasi, serta harapan yang diberikan kepadanya mendorongnya untuk bangkit dan menerima hidupnya.
“Anak-anak yang menyembunyikan emosi aslinya, terlihat nakal, berantakan, atau bahkan ranking terakhir dan terlihat bodoh di kelasnya.. bukan berarti tidak peduli dengan masa depan mereka. Bisa jadi, mereka sedang menunggu seseorang yang mau bertahan dan percaya,” ujar Vivia.
Langkah Berikutnya: Kuliah dan Karya
Setelah lulus SMA tahun 2015, Vivia menargetkan untuk kuliah di perguruan tinggi negeri di Pulau Jawa. Namun, ia belum berhasil lolos. Tanpa biaya kuliah jika tidak mendapatkan beasiswa, Vivia pun menunggu SBMPTN tahun berikutnya sambil bekerja.
Pada tahun 2016, akhirnya Vivia lolos ke Jurusan Kewirausahaan Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB lewat Bidik Misi. Ia lulus pada 2021. Kini, Vivia telah melahirkan buku berjudul Confidence in You dan menjadi seorang penulis muda.











