Awal Mula Peristiwa di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur
Peristiwa kericuhan antara guru dan siswa di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur tidak terjadi secara tiba-tiba. Menurut keterangan tiga guru dan satu staf sekolah yang ditemui di Kabupaten Tanjung Jabung Timur pada Senin (20/1/2026), rangkaian kejadian telah berlangsung sejak Senin (12/1/2026) hingga mencapai puncaknya pada Selasa (13/1/2026).
Siswi Menangis di Dalam Kelas, Senin
Menurut penuturan para guru saat ditemui di sekolahan, peristiwa bermula pada Senin di dua ruang kelas berbeda. Saat itu, seorang guru melintas di depan kelas dan mendapati pintu kelas tertutup. Situasi tersebut memicu teguran kepada siswa di dalam kelas.
“Kami tidak tahu persis kronologi di dalam kelas karena tidak berada di sana. Yang kami tahu, setelah kejadian itu ada siswa yang menangis,” ujar seorang guru.
Siswi yang menangis tersebut diketahui bernama Agra, siswi berprestasi yang disebut-sebut merupakan peringkat satu di kelasnya. Tak lama berselang, seorang siswa lain bernama Sarmila ikut menangis.
“Kalau Sarmila itu kami tidak tahu pasti alasannya. Bisa jadi ikut menangis karena temannya menangis, karena mereka dekat,” ungkap guru tersebut.
Dari cerita yang berkembang di kalangan siswa, teguran itu berujung pada pemberian tugas yang dinilai berat. Siswa diminta membuat video permintaan maaf bersama orang tua serta menulis surat pernyataan permintaan maaf secara tertulis. Upaya siswa untuk menyampaikan permintaan maaf disebut sempat dilakukan. Beberapa siswa mendatangi guru lain dan meminta saran.
Salah satu guru menyarankan agar siswa mengutus perwakilan kelas untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung, agar tidak menambah beban psikologis siswa.
“Saya bilang, kalau ramai-ramai terlalu berat, cukup perwakilan saja. Anak-anak mengikuti saran itu,” kata seorang guru.
Namun, menurut keterangan guru yang berada di lokasi, permintaan maaf tersebut tidak diterima. Guru yang bersangkutan tetap pada tuntutan awal.
“Intinya, permintaan maaf itu tidak diterima. Komunikasi di situ gagal,” ujarnya.
Meski demikian, pada Senin belum terjadi keributan terbuka. Para guru menganggap situasi masih bisa dikendalikan. Tangisan siswa dianggap sebagai peristiwa yang masih bisa diselesaikan secara internal.
Orang Tua Siswa Datang ke Sekolah, Selasa
Pada Selasa pagi, dampak peristiwa Senin mulai terasa. Orang tua salah satu siswa yang menangis diketahui datang ke sekolah. Seorang guru senior yang menemui orang tua tersebut, mengaku sengaja menghindari pertemuan langsung antara orang tua siswa dan guru yang bersangkutan.
“Saya khawatir kalau dipertemukan dalam kondisi emosi, justru terjadi hal yang tidak diinginkan,” katanya.
Guru tersebut memilih pendekatan persuasif. Ia mengajak orang tua siswa untuk menenangkan diri dan menghindari potensi konflik lebih besar.
“Langkah itu saya ambil supaya tidak terjadi benturan antara orang dewasa di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Situasi Memanas, Selasa Siang
Menjelang siang, keresahan di kalangan siswa semakin meningkat. Sejumlah siswa berkumpul dan menyampaikan keberatan mereka. Salah satu tuntutan utama yang disampaikan adalah permintaan agar guru yang bersangkutan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada siswa, khususnya terkait ucapan yang dianggap menyinggung orang tua.
Melihat situasi berpotensi memanas, salah seorang guru berinisiatif mengumpulkan siswa dan mencoba menjadi penengah.
“Tujuannya hanya satu, supaya situasi ini reda. Supaya tidak terjadi keributan,” kata seorang staf sekolah.
Dalam pertemuan tersebut, siswa menyampaikan tuntutan mereka. Namun, menurut keterangan para guru, jawaban yang diberikan tidak secara langsung menjawab permintaan siswa.
“Yang disampaikan justru melebar ke soal pembelajaran dan tugas. Permintaan maaf yang diminta anak-anak belum terjawab,” ujar seorang guru yang berada di lokasi.
Situasi pun semakin panas. Siswa mulai mendekat dan suasana menjadi tidak terkendali.
Kericuhan Terjadi, Upaya Meleraikan, Selasa Siang
Tak lama kemudian, kericuhan pecah. Video yang kemudian beredar luas memperlihatkan suasana kacau di lingkungan sekolah. Dalam video tersebut, tidak tampak jelas upaya peleraian dari pihak sekolah, sehingga memunculkan anggapan adanya pembiaran.
Namun, para guru dan staf yang ditemui Tribun Jambi membantah hal tersebut. Mereka menyatakan upaya melerai dilakukan, tetapi tidak terekam kamera.
“Kejadiannya sangat cepat, tidak sampai satu menit. Ada yang memisahkan, ada yang menarik, ada yang mengamankan siswa, tapi tidak semuanya masuk ke dalam frame video,” ujar seorang guru.
Guru lain menambahkan, beberapa rekan berlari dari dalam gedung setelah mengetahui situasi memburuk.
“Ada guru yang memisahkan, ada yang membawa siswa masuk kelas, ada yang mencoba menutup teralis. Cuma memang tidak terekam,” katanya.
Menurut mereka, rekaman video hanya menangkap satu sudut kejadian, sementara pergerakan guru dan staf lain berada di luar jangkauan kamera.
Guru Diamankan, Komite Turun Tangan
Setelah situasi sedikit terkendali, guru yang bersangkutan diamankan ke dalam ruangan. Pihak komite sekolah juga disebut ikut turun tangan untuk menenangkan suasana.
“Komite spontan muncul, tujuannya mengamankan beliau dan mendinginkan situasi,” kata seorang staf.
Para guru menegaskan, tidak ada niat sedikit pun untuk membiarkan kericuhan terjadi. Semua tindakan dilakukan secara spontan dalam situasi yang serba cepat.
“Kalau kami membiarkan, tentu tidak ada upaya apa pun. Faktanya, ada upaya meski tidak semuanya terlihat di video,” ujarnya.
Dijemput Keluarga, Tinggalkan Sekolah
Pada Selasa sore, guru yang bersangkutan meninggalkan sekolah dan dijemput oleh pihak keluarga. Ia disebut berpamitan kepada rekan-rekannya dan menyampaikan izin untuk beristirahat serta kembali ke Jambi.
“Beliau izin istirahat dan pulang ke Jambi. Itu disampaikan secara langsung,” ujar seorang guru.
Pihak Sekolah Pilih Menyerahkan ke Pimpinan
Para guru dan staf sepakat, penanganan lanjutan sepenuhnya diserahkan kepada pimpinan sekolah dan Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Mereka menilai, sejak awal pihak sekolah telah berupaya melakukan pendekatan persuasif untuk meredam konflik.
“Tujuan kami hanya satu, jangan sampai konflik melebar. Bukan membela siapa pun,” kata seorang guru senior.
Mereka juga berharap, kronologi kejadian dapat dipahami secara utuh dan tidak dipotong hanya dari potongan video yang beredar.
“Kalau dilihat secara utuh, ada proses panjang dari Senin sampai Selasa. Ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri,” tutupnya.
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."











