My WordPress Blog
Daerah  

Survei DAS Krueng Peusangan, Mapala ALASKA Umuslim Bireuen Temukan Alur Sungai Melebar Signifikan

Kegiatan Survey Morfologi DAS Krueng Peusangan oleh Mahasiswa Pencinta Alam

Setelah mengalami banjir dan longsor yang menimbulkan dampak serius, mahasiswa pencinta alam (Mapala) ALASKA Universitas Almuslim (Umuslim) di Bireuen melakukan survei perubahan morfologi Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Peusangan. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis (1/1/2025), dengan dukungan dari Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Cabang Bireuen serta partisipasi mahasiswa Umuslim.

Pelaksanaan Survei

Survei dimulai pukul 14.00 hingga 17.30 WIB, berawal dari Jembatan Teupin Mane, Kecamatan Juli, dan berakhir di jembatan Pante Lhong–Kubu, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng. Tim survey terdiri dari anggota Mapala Alaska yang dipimpin oleh Captain Fikri Agustin, pendayung Muhammad Alda, Saifa Arianda, Wiranda Saputra, Imam Apriliansyah, Afriza Fanni, dan Waisul Qarani.

Hafizam, didampingi Fikri Agustin, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilakukan sebagai respons atas bencana banjir dan longsor yang memberikan dampak ekologis dan sosial yang serius di sepanjang aliran sungai. Tujuan dari survei ini adalah untuk melihat secara langsung dampak bencana ekologis, sekaligus menjadi sarana edukasi publik lintas lapisan sosial mengenai pentingnya pembenahan tata kelola lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Peran Penting DAS Krueng Peusangan

DAS Krueng Peusangan memiliki peran vital bagi kehidupan masyarakat. Namun, tekanan lingkungan dalam beberapa tahun terakhir meningkatkan kerentanan wilayah ini terhadap bencana hidrometeorologi. Banjir dan longsor telah menyebabkan hilangnya rumah warga dan rusaknya lahan masyarakat di sepanjang bantaran sungai.

Berdasarkan data geografis awal yang dihimpun melalui citra Google Earth dan platform Bhumi ATR/BPN Indonesia, tim mengidentifikasi sedikitnya 105 unit rumah hilang di sepanjang jalur pengarungan yang dilalui.

Metode Survei dan Hasil Pengamatan

Survey dilakukan dengan metode pengarungan sungai menggunakan rubber boat atau rafting untuk menjangkau area yang sulit diakses dari darat. Selain permukiman, bencana ini juga mengakibatkan kerusakan infrastruktur penghubung, yaitu terputusnya lima unit jembatan rangka baja dan satu jembatan kayu gantung.

Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa pada sejumlah segmen, alur sungai mengalami pelebaran signifikan akibat erosi tebing yang masif. Perubahan morfologi ini berkorelasi dengan indikasi aktivitas galian C, pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit, serta deforestasi yang melemahkan fungsi alami DAS sebagai pengendali aliran dan penahan sedimen.

Kondisi tersebut menegaskan pentingnya penegakan aturan pemanfaatan ruang dan ketentuan hukum terkait penanaman serta penggunaan lahan di bantaran sungai sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan lingkungan hidup dan sumber daya air.

Dokumentasi dan Keselamatan

Selama pengarungan, tim melakukan estimasi visual penampang sungai, kondisi tebing, serta dokumentasi lapangan menggunakan kamera smartphone dan pengambilan citra udara dengan drone. Dokumentasi udara dan visual dilakukan oleh Iqram Maulana sebagai pilot drone dan dokumentator, sementara dukungan transportasi darat ditangani oleh Hafizh sebagai pengemudi.

Tim yang terlibat telah memiliki keterampilan dasar water rescue, meskipun belum bersifat sempurna, sehingga aspek keselamatan tetap menjadi perhatian utama dalam setiap tahapan kegiatan.

Rekomendasi dan Tindak Lanjut

“Survey ini merupakan upaya awal untuk membaca ulang kondisi ekologis DAS Krueng Peusangan secara objektif, agar kebijakan pasca bencana tidak mengulang kesalahan yang sama,” ujar perwakilan Mapala ALASKA Universitas Almuslim.

Hasil awal survey menunjukkan bahwa data lapangan yang diperoleh tergolong cukup lengkap, mencakup foto, video, rekaman drone, serta analisis spasial awal berbasis citra satelit. Temuan ini menegaskan bahwa penanganan pasca bencana tidak dapat berhenti pada fase tanggap darurat, tetapi harus dilanjutkan dengan evaluasi menyeluruh terhadap tata ruang dan pengelolaan lingkungan.

Ke depan, hasil survey ini diharapkan dapat mendorong evaluasi aktivitas pemanfaatan ruang di sepanjang DAS Krueng Peusangan, penguatan pengawasan lingkungan, serta penerapan aturan bantaran sungai secara konsisten.

Kasus DAS Krueng Peusangan mencerminkan tantangan pengelolaan daerah aliran sungai di banyak wilayah Indonesia yang rawan bencana hidrometeorologi, sehingga membutuhkan komitmen kebijakan yang lebih tegas dan berkelanjutan.

Hasnah Najmatul

Penulis yang dikenal teliti dalam riset dan penyajian data. Ia menaruh minat pada dunia ekonomi, statistik ringan, dan analisis tren. Di waktu luang, ia menikmati sudoku, membaca artikel panjang, dan mendengarkan musik instrumental. Motto: “Akurasi adalah bentuk tanggung jawab.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *