My WordPress Blog
Daerah  

Baturraden dipadati keluarga, kehangatan libur tahun baru di kaki Gunung Slamet

Cuaca Cerah Jadi Penyemangat Wisatawan di Lokawisata Baturraden

Pada hari pertama tahun 2026, kawasan Lokawisata Baturraden, Kabupaten Banyumas, menyambut ribuan wisatawan dengan cuaca cerah yang menyejukkan. Berada di kaki Gunung Slamet, lokasi ini menjadi tujuan utama bagi keluarga yang ingin menghabiskan libur Tahun Baru dalam suasana alam yang indah dan sejuk.

Sejak pagi hari, suasana di kawasan wisata terasa hangat dan penuh keakraban. Banyak keluarga tampak berjemur di bawah pepohonan rindang sambil membuka bekal makanan. Suara tawa anak-anak dan obrolan santai orang tua menciptakan suasana yang penuh kebersamaan dan harmonis.

Cuaca yang bersahabat hari ini memberikan angin segar bagi pengelola Lokawisata Baturraden. Setelah beberapa hari diguyur hujan, jumlah pengunjung kembali meningkat, terutama dari kalangan keluarga yang berasal dari luar daerah. Koordinator Lokawisata Baturraden, Agus Riyanto, mengatakan bahwa hingga siang hari jumlah pengunjung telah mencapai lebih dari seribu orang.

“Hari ini sepertinya cerah, sehingga pengunjung tidak terhalang cuaca hujan seperti hari sebelumnya. Pengunjung sampai siang ini sudah cukup banyak, mencapai seribu orang lebih,” ujar Agus.

Menurutnya, hujan yang turun pada hari sebelumnya membuat banyak calon wisatawan mengurungkan niat untuk datang. Namun, situasi berubah drastis pada hari ini. “Alhamdulillah ada pergerakan cukup baik hari ini. Rata-rata yang datang dari keluarga. Kebanyakan dari Cilacap, sekitar Tegal, Pekalongan, bahkan ada juga yang dari Jogja,” tambahnya.

Meski ramai, Agus menjelaskan bahwa puncak kunjungan libur akhir tahun sebenarnya telah terjadi pada Minggu (28/12/2025), dengan jumlah wisatawan mencapai lebih dari 3.000 orang dalam sehari. Angka tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Prediksi puncak keramaian sudah lewat kemarin hari Minggu tanggal 28 Desember, mencapai 3 ribu pengunjung lebih, walaupun ada penurunan dari tahun lalu. Kalau tahun lalu itu puncaknya sampai 4 ribu lebih,” jelasnya.

Agus menilai penurunan tersebut dipengaruhi oleh semakin banyaknya destinasi wisata baru di sekitar kawasan Baturraden. Menurutnya, Lokawisata Baturraden sekarang bukan lagi tujuan utama karena di seputaran sini sudah banyak obyek wisata baru.

“Kami hitung ada sekitar 38 obyek wisata, sehingga kunjungan ke sini menurun. Tapi kalau di kawasan Baturraden secara umum tetap ramai, dan pemberdayaan masyarakat di sini sudah bagus,” katanya.

Selama libur akhir tahun, tiket masuk ke Lokawisata Baturraden dipatok sebesar Rp25 ribu per orang sejak 20 Desember 2025. Harga tersebut sudah termasuk berbagai fasilitas wisata seperti kolam renang, water boom, pemandian air panas, sepeda air, dan taman Sendang Mulya.

Baturraden masih menyimpan daya tarik khas yang menjadi magnet wisatawan. Salah satunya adalah air mancur Sendang Mulya setinggi sekitar 25 meter yang memanfaatkan tekanan gravitasi tanpa pompa. Selain itu, terdapat Air Terjun Gumawang, serta beragam kuliner khas seperti sate kelinci, pecel kecombrang, mendoan, hingga susu rempah yang banyak diburu pengunjung.

Ke depan, pengelola juga merancang sejumlah pengembangan wisata. Agus menyebutkan rencana pembuatan wisata tubing serta spot selfie di kawasan curug yang medannya cukup terjal dan ekstrem.

“Rencana ke depan ingin ada pengembangan wisata, yaitu membuat tubing. Terus akan membuat spot selfie di curug, meski harus turun terjal dan ekstrem. Tapi anggaran menjadi kendala,” katanya.

Selain itu, pihak pengelola juga berencana membuat apotek hidup dan kedai jamu sebagai sarana edukasi wisata, serta mengintegrasikan taman botani yang kini sudah menjadi bagian dari Lokawisata Baturraden.

Dari sisi pendapatan, target Pendapatan Asli Daerah (PAD) Lokawisata Baturraden tahun 2025 ditetapkan sebesar Rp7 miliar. Namun realisasi hanya tercapai 97,82 persen atau sekitar Rp6,8 miliar.

Wisatawan Baturraden saat ini mayoritas berasal dari wilayah Jawa Barat. Sementara itu, pasar kunjungan dari pelajar tingkat SD hingga SMP serta perguruan tinggi yang biasanya datang dalam jumlah besar mulai berkurang.

“Kami kehilangan pasar dari anak SD, SMP hingga perguruan tinggi yang biasanya berkunjung dalam jumlah besar. Kondisi itu terpengaruh pada libur sekolah bulan Juli 2025,” jelasnya.

Di tengah dinamika tersebut, Baturraden tetap menjadi pilihan bagi wisatawan yang merindukan suasana sejuk dan tenang. Salah satunya Elis (53), wisatawan asal Pangandaran, yang sengaja datang bersama keluarganya.

“Saya sengaja datang ke sini ikut keluarga. Bagus tempatnya, sejuk karena di kaki gunung, banyak juga wahananya seperti air terjun dan sepeda air. Kalau di tempat saya tidak ada yang seperti ini. Di Pangandaran adanya pantai dan di rumah juga cukup panas,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Husnul (45), wisatawan asal Malang. Ia menilai Baturraden memiliki keunikan yang sulit ditemui di daerah asalnya.

“Senang banget soalnya di Malang tidak ada yang kayak gini. Kalau di sana mau ke air terjun harus lewat bukit dulu. Saya ke sini mengajak suami dan anak. Purwokerto juga tidak macet dan nyaman,” terangnya.


Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *