My WordPress Blog
Daerah  

Harapan yang Tenggelam dalam Banjir: Tahun Baru 2026 dari Pandangan Para Korban Longsor Sumatra

Kehidupan warga di beberapa wilayah Aceh yang terkena dampak parah dari bencana alam, seperti banjir dan longsor, kini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Di malam pergantian tahun 2026, mereka menghadapi masa depan yang suram, dengan impian dan harapan yang ikut lenyap terbawa arus air atau tertimbun tanah longsoran. Berikut adalah kisah tiga penyintas yang tinggal di Aceh Utara dan Aceh Tamiang.

Kondisi Masyarakat di Desa Geudumbak

Di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, masyarakat masih bertahan hidup di bawah selembar terpal yang didukung oleh sebilah kayu tanpa dinding. Mereka harus menghadapi cuaca ekstrem, baik dingin di malam hari maupun panas dan debu di siang hari. Mulyawati, salah satu korban banjir, menjelaskan bahwa hampir semua kekayaan mereka hilang akibat bencana ini. “Kami tidak tahu bagaimana mencari rezeki karena lahan dan kebun kami sudah hancur,” katanya.

Mulyawati juga menyampaikan harapan agar pemerintah memberikan perhatian lebih kepada para korban bencana. “Semoga ini segera berakhir,” ujarnya dengan nada sedih.

Penyintas di Bawah Terpal

Dari pantauan wartawan Hidayatullah, terdapat ratusan tenda terpal yang dibangun secara mandiri oleh para korban di sepanjang perjalanan menuju Kecamatan Langkahan. Lokasi mereka tersebar di berbagai titik, mulai dari tengah kebun kelapa sawit hingga pinggir jalan dan bantaran sungai.

Saiful, Imam Desa Geudumbak, mengatakan bahwa dulu banyak rumah di sana, tetapi kini hanya tersisa lima rumah. “Kami 310 orang tidak makan, baru hari ke 10 dapat bantuan dari swadaya masyarakat,” ujarnya.

Relawan Berjuang Menghadapi Kelaparan

Pujo Waluyo, seorang relawan, mengatakan bahwa banyak orang bertahan di atas pohon kelapa sawit selama berhari-hari tanpa makanan. “Kami galang donasi untuk beli beras, mempertahankan yang masih hidup,” ujarnya.

Pujo juga menuntut agar pemerintah segera memindahkan para korban dari lokasi bencana karena mereka tinggal dalam tenda-tenda yang rentan diterjang banjir susulan. Ia juga mengaitkan banjir dan longsor dengan perusakan lingkungan yang masif.

Kondisi Warga di Aceh Tamiang

Di Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, warga masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Mesra Rajagukguk (53) mengatakan bahwa mereka hanya bisa bersyukur jika bisa makan seadanya. “Ya mau kayak mana kita bilang, kita enggak punya apa-apa. Cuma makan saja ya syukur,” ujarnya.

Mesra juga mengalami kehilangan besar, yaitu suaminya yang meninggal dunia 24 hari sebelum bencana terjadi. “Baru hampir dua bulan suami meninggal. Ya berdua saja lah [sekarang] di rumah sama anak-anak,” ungkapnya.

Pengungsi dan Korban Jiwa

Aceh Tamiang termasuk kabupaten yang paling parah terkena dampak banjir bandang dan tanah longsor. Sampai 31 Desember 2025, BNPB mencatat jumlah warga yang ditemukan meninggal dunia di kabupaten ini mencapai 101 orang. Selain itu, 114,9 ribu orang terpaksa mengungsi.

Trauma Pasca-Bencana

Penyintas banjir di Aceh Tengah masih trauma akibat bencana tersebut. Mereka mengaku masih ketakutan saat mendengar hujan dan petir. Beberapa dari mereka bahkan menggunakan kayu gelondongan sebagai perahu untuk menyelamatkan diri. Sementara itu, kaum muda Kampung Serule di Aceh Tengah membantu warga lainnya menghadapi kelaparan.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *