My WordPress Blog
Daerah  

Kisah Edi, Pedagang Siomay yang Mudik 130 KM dengan Sandal dan Rp40 Ribu

Kisah Edi Rasidi: Jalan Kaki 130 Kilometer dengan Gerobak Siomay

Edi Rasidi (50), seorang pedagang siomay, menjadi sorotan setelah melakukan perjalanan mudik yang sangat unik. Ia memilih untuk berjalan kaki sambil mendorong gerobak dari Cilacap menuju Pemalang sejauh 130 kilometer. Perjalanan ini bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi juga memiliki makna mendalam di baliknya.

Edi mengenakan sandal dan hanya membawa uang Rp40 ribu saat memulai perjalanan. Tidak ada barang bawaan lain selain tekad dan semangatnya. Di dalam gerobak yang ia dorong, terdapat tulisan yang menunjukkan maksud dan tujuannya. Tulisan tersebut berbunyi, “Aja Ngeluh Ora Due Duit, Mudik Mlaku Taklakoni, Demi Njlaluk Pangapura, Negara Makmur Go Kasab Angel Temen, Demi Sungkem Nyong Mudik Mlaku Cilacap – Pemalang.”

Perjalanan dimulai pada Senin (16/3/2026) pukul 06.00 pagi. Meskipun jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh jika menggunakan kendaraan, Edi memilih untuk berjalan kaki sambil mendorong gerobak. Ia memperkirakan perjalanan akan memakan waktu empat hari empat malam. Tujuan akhirnya adalah kampung halamannya di Pemalang, yang ingin ia capai pada Kamis (20/3/2026) malam.

Selama perjalanan, Edi tidak membawa dagangan. Menurutnya, membawa bahan dagangan justru akan menyulitkan perjalanan. Ia hanya membawa bekal sederhana dan uang sebesar Rp40 ribu. Namun, ia tidak sendirian. Beberapa orang di sepanjang jalan memberinya dukungan, bahkan beberapa orang langsung membantu ketika ia membutuhkan.

Edi biasanya beristirahat dan bermalam di masjid. Sampai saat ini, ia sudah singgah di beberapa tempat seperti Kalibagor, Sokaraja, dan sekarang di Masjid Darul Najah, Kecamatan Bojongsari, Purbalingga. Ia berencana untuk terus beristirahat di masjid selama perjalanan berlangsung.

Meski menjalani perjalanan panjang, Edi tetap menjalankan ibadah puasa. Ia menyesuaikan diri dengan kondisi tubuhnya. Selama perjalanan, ia hanya menggunakan sandal. Ia tidak terbiasa menggunakan sepatu, sehingga memilih untuk tetap nyaman dengan sandal.

Sebelum memulai perjalanan, Edi masih sempat berjualan. Terakhir kali ia berjualan pada malam Senin, sebelum berangkat pagi. Kini, dengan gerobak siomay yang terus ia dorong, Edi menjalani perjalanan panjang itu dengan harapan sederhana: sampai di kampung halaman, menunaikan nazar, dan kembali berkumpul bersama keluarga pada momentum Lebaran.

Alasan di Balik Perjalanan Unik Ini

Ada alasan pribadi yang mendorong Edi untuk melakukan perjalanan ini. Ia memiliki nazar untuk berjalan kaki setelah mengalami kecelakaan dua tahun lalu. Saat itu, kakinya mengalami cedera parah. Kaki kirinya sempat lepas karena terkilir, sehingga tidak bisa berjalan.

Setelah mengalami kecelakaan, Edi bernazar bahwa jika ia bisa sembuh dan kembali bisa berjalan, ia akan pulang kampung dengan berjalan kaki. Kini, setelah kakinya pulih, nazar tersebut benar-benar ia jalankan.

Perjalanan ini bukan hanya sekadar bentuk penunaian nazar, tetapi juga bagian dari rencana hidupnya ke depan. Gerobak siomay yang ia bawa bukan hanya alat berdagang, tetapi juga akan digunakan untuk berjualan di kampung halamannya.

Pengalaman Selama Perjalanan

Selama perjalanan, Edi sering mendapat dukungan dari orang-orang yang ia temui di jalan. Ada satu hingga tiga orang yang langsung membantunya. Ia merasa senang karena banyak orang yang peduli dan mendukungnya.

Ia juga berusaha menjaga kebersihan dan kesopanan selama perjalanan. Ia tidak hanya fokus pada tujuannya, tetapi juga pada cara ia berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Perjalanan ini menjadi pengalaman baru bagi Edi, yang sebelumnya tidak terbiasa berjalan kaki sejauh ini.

Dengan gerobak siomay yang ia dorong, Edi melangkah perlahan menuju kampung halamannya. Setiap langkah yang ia ambil bukan hanya untuk mencapai tujuan, tetapi juga untuk menunaikan nazar dan menghadapi tantangan hidup dengan penuh keyakinan.


Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *