My WordPress Blog
Daerah  

Keluarga miskin di dekat lapangan padel mewah Purwokerto

Potret Kesenjangan di Jantung Kota Banyumas

Di tengah perubahan dan pembangunan yang semakin pesat, sebuah pemandangan kontras terlihat di jantung kota Banyumas, Purwokerto. Tidak jauh dari lapangan padel mewah yang ramai dikunjungi warga, terdapat gubuk reot yang menjadi tempat tinggal keluarga miskin. Pemandangan ini menunjukkan adanya kesenjangan ekonomi yang nyata, meskipun sedang dalam masa kampanye pembangunan kawasan perkotaan.

Di sekitar gubuk tersebut, lalat, tawon, dan hewan melata seperti kadal sering kali berkeliaran. Sampah plastik dan botol bekas berada sangat dekat dengan tempat tidur keluarga. Bahkan beberapa hari lalu, ada ular yang masuk ke dalam gubuk. Di dalam gubuk sempit tanpa kompor dan fasilitas MCK, empat orang tinggal berdesak-desakan, mengandalkan hasil memulung untuk makan sehari-hari.

Kondisi Tempat Tinggal yang Memprihatinkan

Gubuk yang mereka tempati tidak layak disebut sebagai rumah. Tempat tersebut bercampur dengan sampah plastik dan botol bekas. Bahkan, sampah-sampah hasil memulung hanya berjarak sejengkal dari tempat tidur. Keluarga ini hidup dalam kondisi yang sangat tidak layak huni. Mereka tidak memiliki kompor dan memasak menggunakan tungku kayu bakar. Untuk mandi, mereka membuat bilik kecil, sementara untuk buang air besar harus pergi ke sekolah dasar terdekat.

Keluarga ini bukan asli Banyumas. Mereka merupakan perantau asal Tasikmalaya, Jawa Barat. Logat bahasa Sunda masih digunakan oleh mereka. Namun, status Kartu Keluarga mereka sudah menjadi warga Banyumas, yaitu di Jalan Gerilya Timur, RT 3 RW 10, Kelurahan Karangklesem, Kecamatan Purwokerto Selatan. Mereka sudah tinggal di Purwokerto sekitar lima tahun.

Kehidupan Sehari-hari yang Sulit

Keseharian keluarga ini adalah memulung dan mengemis. Penghasilan mereka sekitar Rp20 ribu per hari, yang seringkali tidak cukup untuk makan sehari-hari. Nenek Edah, salah satu anggota keluarga, mengatakan bahwa dirinya pernah ketabrak motor dan tidak bisa berjalan jauh. “Saya juga habis ketabrak motor jadi tidak bisa jalan jauh. Kalau bantuan ada kaya beras kadang sebulan kadang dua bulan sekali,” katanya.

Selain itu, Kakek Iskandar yang sedang sakit hanya terbaring di ruangan sempit. “Sudah sakit 2 tahunan karena ketbrak. Tapi gak ada yang tanggungjawab. Kalau berobat gratis, sudah dua kali ke RS tapi ini belum cek lagi, karena uangnya buay ongkos belum ada. Kalau pakai taxi online butuh Rp50 ribu,” katanya.

Ketergantungan pada Bantuan

Gubuk tersebut berada dekat salah satu pusat olahraga padel yang ramai pengunjung dari kalangan menengah ke atas. “Saya tidak pernah masuk mencari rongsok ke area padel, disana sudah ada tukang sampahnya sendiri. Rata-rata orang bawa mobil semua,” kata Nia, salah satu anggota keluarga.

Menurut Nia, para pengunjung lapangan padel datang dengan mobil. Aktivitas di lapangan tersebut ramai hingga malam hari, bahkan sampai tengah malam. Lapangan padel itu baru berdiri beberapa bulan. Sebelumnya, lokasi tersebut hanyalah lahan kosong yang sepi.

Nia mengatakan bahwa gubug yang kini mereka tempati sebenarnya dulu merupakan warung. “Saya tinggal bersama, dulunya jualan gorengan, ini dulunya warung gorengan, jadi malah habis buat beli dagangan gak pada balik modal. Mamah nanti jualan opak juga di BJ (sebuah perbelanjaan),” katanya.

Harapan akan Bantuan

Nia menegaskan bahwa tanah tersebut bukan miliknya, hanya menumpang. “Ini tanah bukan milik saya, saya hanya numpang, kalau pemerintah mau bongkar harus tanah sendiri,” katanya.

Ia bekerja sebagai pemulung rongsok. Penghasilannya kadang hanya cukup untuk makan. Ia biasa mengumpulkan rongsok di sekitar Andhang Pangrenan atau di area pusat perbelanjaan, lalu menjualnya ke pengepul. “Harapannya adalah ada bantuan pengen punya hunian yang layak. Mudah-mudahan ada rejeki aja,” katanya.

Ia mengaku merantau dari Tasikmalaya, namun kini sudah ber-KTP Purwokerto. Sementara itu, keponakannya, Aura, saat ini bersekolah di SD 3 Purwokerto Kulon.

Respons dari Pihak Terkait

Dinas Sosial Kabupaten Banyumas ikut menanggapi adanya kondisi warga yang memprihatinkan tersebut. “Ini nanti sekitar pukul 10.00 WIB akan kita cek dengan tim karena sebelumnya sudah kita daftarkan ke panti tapi masih daftar tunggu,” ucap Sekdin Dinsos, Budi Suharyanto, Rabu (18/2/2026).

Di tengah geliat pembangunan dan gaya hidup baru, potret kemiskinan seperti ini seharusnya tidak luput dari perhatian pemerintah daerah. Ternyata hanya berjarak puluhan meter dari lapangan padel yang ramai pengunjung, satu keluarga harus hidup di gubug tanpa kompor, tanpa MCK, dan bertahan dari hasil memulung yang tak seberapa.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *