My WordPress Blog
Daerah  

Sejarah 250 Tahun Berakhir, Pohon Randu Magelang Ditebang

Sejarah dan Keputusan Penebangan Pohon Randu Alas di Desa Tuksongo

Pohon randu alas raksasa yang berusia hampir 250 tahun di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, akhirnya ditebang setelah dinyatakan tidak layak hidup. Proses penebangan dilakukan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang berdasarkan kajian akademis dari tim ahli Universitas Gadjah Mada (UGM). Keputusan ini diambil karena pohon tersebut dinilai membahayakan warga dan wisatawan.

Proses Penebangan yang Dilakukan dengan Hati-hati

Proses penebangan dimulai pada awal Februari 2026 dan dilakukan dengan hati-hati. Warga desa memenuhi lapangan tempat pohon berdiri untuk melihat proses terakhir pohon yang menjadi ikon desa. Mereka mengabadikan momen menggunakan ponsel masing-masing. Dalam proses penebangan, satu unit mobile crane digunakan untuk membantu memotong dahan yang menjulang tinggi. Dua petugas tampak berada di atas pohon setinggi sekitar 40 meter sambil memotong dahan-dahan besar satu per satu menggunakan gergaji mesin.

Setiap dahan diikat tali agar tidak langsung jatuh ke tanah. Setelah diturunkan perlahan, potongan kayu itu dipotong kembali di bawah oleh sejumlah petugas. Proses ini diperkirakan akan memakan waktu beberapa hari karena ukuran pohon yang cukup besar.

Peran Pohon Randu Alas dalam Sejarah Desa

Pohon randu alas telah menjadi bagian penting dari sejarah Desa Tuksongo. Bagi warga setempat, keberadaannya menjadi tetenger atau penanda yang hidup di ingatan kolektif masyarakat. Usia pohon yang diperkirakan mencapai 250 tahun membuatnya menjadi ikon desa. Salah satu warga, M Abdul Karim, mengatakan bahwa pohon ini adalah bagian dari kenangan masa lalu mereka.

Sebelum beralih ke sektor pariwisata, mayoritas masyarakat di kawasan tersebut dulunya merupakan petani tembakau. Di masa kecilnya, banyak warga melakukan ngabul di Lapangan Tuksongo, yaitu tradisi gotong royong masyarakat desa untuk menurunkan tembakau yang baru dipanen dari truk setelah diangkut dari ladang. Saat itu, masyarakat biasanya menunggu di bawah pohon randu karena rindangnya.

Saat ini, kawasan itu telah menjadi kawasan wisata. VW Safari sering kali hilir mudik mengantarkan wisatawan untuk berswafoto dengan pemandangan perbukitan Menoreh maupun pohon randu alas raksasa.

Alasan Penebangan dan Penyelamatan Batang Pohon

Meskipun keputusan penebangan dibuat dengan berat hati, warga dan pemerintah desa mempertimbangkan aspek keselamatan. Pohon dinyatakan sudah mati, sehingga dahannya yang melapuk dikhawatirkan bisa terjatuh dan membahayakan warga maupun wisatawan yang melintas.

Keputusan penebangan bukanlah keputusan sepihak. Pemdes dan Pemkab Magelang meminta kajian akademis dari tim ahli UGM. Hasil kajian menyatakan bahwa pohon randu alas 95 persen tidak layak hidup. Dari hasil kajian tersebut, terdapat tiga opsi penanganan: pemotongan seluruhnya, pemotongan hingga bawah, atau menyisakan sebagian batang pohon untuk dijadikan monumen.

Opsi ketiga itulah yang dipilih. Batang pohon setinggi 8 meter akan disisakan sebagai monumen. Upaya pengawetan batang randu akan dilakukan dengan menyuntikkan resin serta pelapisan bahan tertentu agar fosil tersebut tetap awet. Selain itu, tunas-tunas anak pohon randu telah muncul dan akan ditanam kembali di sebelah timur lapangan.

Tindakan Lanjutan dan Pengembangan Kawasan

Pemerintah Kabupaten Magelang memberikan dukungan untuk pembangunan monumen. Selain itu, penataan kawasan Tuksongo akan dilakukan lebih lanjut. Dengan penataan ini, diharapkan dapat mendorong pertumbuhan UMKM dan memberdayakan masyarakat desa agar semakin mandiri dan berdaya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Romza Ernawan, menjelaskan bahwa kondisi fisik pohon randu ala telah menunjukkan tanda-tanda pelapukan. Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Magelang, Mulyanto, mengatakan bahwa penataan kawasan ini diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan bagi wisatawan dan mendorong pengembangan ekonomi lokal.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *