My WordPress Blog
Daerah  

Kisah Pesantren Darur Rasyid Aceh Singkil Bertahan di Tengah Bencana

Bencana Banjir dan Longsor di Pesantren Darur Rasyid, Aceh Singkil

Pada 25 November 2025 pukul 21.00 WIB, hujan deras terus mengguyur wilayah Kabupaten Aceh Singkil. Hujan yang tidak berhenti memicu meluapnya air sungai Lae Cinendang dan Lae Sulampi, di Desa Silatong, Kecamatan Simpang Kanan. Luapan air tersebut bergerak cepat dan merendam Pesantren Darur Rasyid yang berjarak sekitar 200 meter dari sungai tersebut.

Dalam hitungan jam, kondisi semakin memburuk ketika air mulai memasuki asrama santri putra. Melihat situasi yang berpotensi mengancam keselamatan, pimpinan pesantren segera menetapkan status siaga 1. Langkah-langkah penyelamatan darurat segera dijalankan.

Namun, pada saat bersamaan, musibah lain terjadi di asrama santriwati. Bangunan yang berada di dataran lebih tinggi terkena tanah longsor. Kelapa sawit yang ada di perbukitan tumbang dan terbawa longsor, menghantam gedung asrama putri. Keadaan ini memicu kepanikan di tengah guyuran hujan yang tak kunjung reda.

Tim Siaga Bencana Beraksi

Menghadapi situasi darurat, pihak pesantren segera membentuk Tim Siaga Bencana, yang dikomandoi oleh Ketua Koordinator Gugus Depan Pesantren Darur Rasyid. Tim ini bertugas mengoordinasikan evakuasi, mengamankan titik rawan, mendata kerusakan, serta memastikan keselamatan seluruh santri.

Pesantren yang didirikan oleh Wali Kota Subulussalam Haji Rasyid Bancin (HRB) itu mampu membentuk tim siaga bencana dengan cepat karena pengasuh dan santrinya rutin menggelar simulasi menghadapi bencana. Simulasi tersebut diajarkan melalui gerakan kepramukaan yang telah menjadi bagian dari kehidupan pesantren.

“Siaga bencana merupakan program pembinaan kepramukaan. Setiap semester kami lakukan simulasi bersama anggota pramuka penegak dan pihak terkait. Tim ini memiliki SOP yang menuntut gerak cepat, tanggap, dan terkoordinasi,” kata Pimpinan Pesantren Darur Rasyid, Dr Andika Novriadi Cibro.

Penetapan status siaga 1 yang dilakukan sejak awal, memungkinkan Tim Siaga Bencana Pramuka Pesantren Darur Rasyid melakukan evakuasi hingga menjelang subuh. Langkah ini berhasil menyelamatkan 430 santri dan 32 pengasuh pesantren ke tempat aman.

Dampak Bencana dan Keterbatasan Logistik

Memasuki 26 November 2025 sekitar pukul 06.30 WIB, ketinggian air di dua gedung asrama putra pesantren Darur Rasyid sudah mencapai satu meter. Arus air yang deras disertai potongan kayu dan pelepah sawit menyebabkan listrik padam, sehingga mempersulit proses evakuasi. Banyak barang milik santri tidak berhasil diselamatkan dan hanyut terbawa banjir.

Akibat bencana tersebut, ratusan santri kehilangan buku dan kitab pelajaran. Tak hanya itu, rapor santri, pakaian pribadi, serta perlengkapan belajar juga rusak atau hilang terseret arus. Namun, yang paling penting adalah keselamatan ratusan santri dan pengasuh pesantren.

Menghadapi Tantangan Pasca-Bencana

Air mulai surut sekitar pukul 15.00 WIB pada 26 November 2026. Meski demikian, tantangan belum berakhir. Kondisi listrik padam total, membuat pesantren gelap gulita. Sebagian alat penerangan hanyut terbawa banjir dan komunikasi terputus akibat hilangnya sinyal telepon.

Keterbatasan logistik juga menjadi masalah besar. Pasokan bahan makanan yang seharusnya tiba pada hari itu terhenti akibat terputusnya akses jalan di Kecamatan Suro. Sumber air bersih pesantren dari mata air Goa Liang Barat ikut terdampak. Bendungan jebol akibat longsor dan mesin penyaring air minum rusak karena terendam air berlumpur.

Di tengah serba keterbatasan tersebut, Ustaz Andika menghidupkan nilai-nilai kepramukaan sebagai sarana menenangkan santri. Guru dan santri berkumpul di lapangan layaknya kegiatan alam terbuka. Dengan makanan dan minuman seadanya, mereka diajak saling menguatkan dan berdoa bersama.

Kepemimpinan dan Ketangguhan Mental

“Kami tanamkan bahwa ini adalah ujian. Keselamatan adalah yang utama dan kebersamaan adalah kekuatan,” katanya. Setelah kondisi mulai terkendali, para santri diarahkan beristirahat dengan menempati salah satu gedung yang aman dari rendaman banjir.

Sementara pimpinan pesantren berkoordinasi dengan masyarakat dan pihak terkait untuk memenuhi kebutuhan pangan dan air bersih. Seiring waktu, bantuan dari orangtua santri dan masyarakat mulai berdatangan.

Menariknya, meski bencana terjadi di tengah masa ujian akhir semester, para santri tetap menunjukkan semangat belajar. “Pendidikan kepramukaan terbukti mampu meredam kepanikan dan menumbuhkan ketangguhan mental,” kata Ustaz Andika.

Pelajaran Berharga dan Prioritas Keselamatan

Ustaz Andika yang juga Ketua Satuan Komunitas Gerakan Pramuka Pesantren Kwarda Aceh menyebut pengalaman ini sebagai pelajaran berharga yang dibagikan kepada pesantren-pesantren lain di bawah komunitasnya.

“Selama penanganan, kami hanya menyampaikan kepada orang tua bahwa pesantren bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan keamanan santri, sembari memohon doa,” tukasnya. Ia menambahkan bahwa tanggung jawab pesantren terhadap santri adalah prioritas, peristiwa yang terjadi di lapangan harus disampaikan kepada orangtua santri pada saat kondisi pulih.

Kisah Pesantren Darur Rasyid menjadi potret ketangguhan pendidikan Islam di Aceh. Di tengah banjir, longsor, gelap gulita, dan keterbatasan logistik, kepemimpinan, disiplin, dan doa menjadi cahaya yang menjaga harapan tetap menyala. Hal yang paling menarik dari peristiwa ini adalah upaya sistematis dan humanis dalam menenangkan santri dari rasa panik dan ketakutan, yang dilakukan bersamaan dengan penanganan darurat yang sigap, terukur, dan terkoordinasi oleh para guru pengasuh pesantren.

Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *