My WordPress Blog
Daerah  

Rasti Selamatkan Dua Cucu Saat Banjir Bandang Pemalang

Peristiwa Banjir Bandang yang Menimpa Kecamatan Pulosari

Di tengah kepanikan saat banjir bandang menerjang Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, beberapa waktu lalu, Rasti berjuang menyelamatkan dua orang cucunya. Dia menggendong satu cucu dan menggandeng yang lainnya, sementara air bah terus meninggi hingga setara atap rumah. Banjir tersebut terjadi secara tiba-tiba, pada Jumat (24/1/2026) malam, dan membuat warga panik.

Saat kejadian, Rasti diketahui sedang berada di pasar bersama dua cucunya, Fitriyani (9) dan Muhamad Davin (3). Sebelum banjir bandang berupa lumpur, kayu, dan batu menerjang, Tanto (33), menantu Rasti, seolah sudah memiliki firasat. Saat listrik padam sejak petang dan sungai mulai meluap, Tanto bergegas menitipkan kedua anaknya ke rumah mertua, yang lokasinya lebih aman.

Ketika air mulai menggenangi wilayah itu, Rasti pun segera berupaya menyelamatkan cucu-cucunya dengan berjalan menerobos banjir. “Satu saya gendong, yang besar saya gandeng,” tutur Rasti di pengungsian gedung NU Kecamatan Pulosari, Minggu (26/1).

Sebelumnya, banjir bandang menerjang sejumlah daerah di lereng Gunung Slamet, termasuk di Pulosari, Pemalang, pada Jumat (24/1/2026) malam hingga Sabtu (25/1/2026) dini hari. Banjir terjadi akibat luapan sungai-sungai yang berhulu di Gunung Slamet. Banjir membawa serta lumpur, bebatuan, dan pohon. Daerah yang terdampak banjir antara lain Kabupaten Tegal, Pemalang, Brebes, Purbalingga, dan Banyumas.

Hingga Senin (26/1), ribuan korban banjir masih bertahan di pengungsian. Di Kecamatan Pulosari, Pemalang, tercatat 1.805 warga mengungsi ke sejumlah tempat, antara lain Aula Kecamatan Pulosari dan kantor NU setempat.

Kehilangan yang Menyedihkan

Rasti kemudian membawa kedua cucunya ke rumah, yang masih dalam kondisi aman. Namun, tanpa disadari, banjir telah menimbulkan korban di lokasi lain. Anak dan menantu Rasti berada di rumah, di Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, saat banjir datang. Keduanya diketahui berada di area kandang untuk menyalakan genset.

Arus air yang datang dengan cepat membuat mereka tidak sempat menyelamatkan diri. Dalam peristiwa itu, Tanto meninggal dunia. Jenazah Tanto ditemukan di antara material sisa banjir di Dusun Tretep, Desa Sima, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari rumahnya, di Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, pada Jumat malam.

Rasti baru mengetahui peristiwa tragis yang menimpa menantunya tersebut, pada Sabtu sore. “Saya tahunya sore, sudah kejadian, sudah mau dimakamkan mantu saya,” ujarnya.

Sementara itu, Sulastri (27), istri Tanto, menceritakan, pada Jumat petang sebenarnya warga sudah waspada lantaran sungai sudah meluap. Tak disangka, pada Sabtu dini hari banjir bandang menerjang. Saat kejadian, Sulastri dan warga berjaga di depan rumah karena mengira air datang dari arah sungai. Namun ternyata, banjir bandang justru datang dari belakang rumah, dari arah kandang ayam.

Rumah Sulastri berada tepat di pinggir Sungai Penakir dan berdampingan dengan rumah kakaknya. Akibat derasnya arus, rumah kakak Sulastri hanyut. Kandang ayam milik orang tuanya dengan populasi sekitar 6 ribu ekor juga habis diterjang banjir. Sementara kandang ayam sepupunya dengan populasi sekitar 4 ribu ekor juga terdampak.

Beberapa menit sebelum banjir besar datang, listrik di wilayah tersebut padam. Tanto sempat meminta Sulastri untuk mengecek anak mereka yang dititipkan ke rumah neneknya serta menyalakan genset di kandang ayam. Saat Sulastri dan bapaknya menyalakan genset, air bah datang. Saat terakhir melihat, Sulastri memastikan suaminya masih berada di dalam rumah. Namun setelah banjir menerjang, Tanto dinyatakan hilang. Belakangan, korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

Sulastri juga sempat terseret banjir sejauh beberapa meter. Pada pukul 03.00, tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) membawa Sulastri ke rumah sakit. Satu jam kemudian, ia diminta ke ruang jenazah untuk memastikan identitas korban. “Saya mengenali itu suami saya. Walaupun wajahnya sudah tidak berbentuk, tapi ada kalung yang biasa dipakai suami saya,” kata Sulastri.

Upaya Pemulihan Trauma

Sementara itu, 1.805 warga terdampak banjir bandang di Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, mendapatkan bantuan sosial, layanan kesehatan, serta pendampingan trauma healing dari Polres Pemalang bersama Bhayangkari Cabang Pemalang. Kegiatan tersebut berlangsung di tempat pengungsian di Gedung Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Pulosari, dan aula Kecamatan Pulosari, Minggu (25/1/2026).

Kapolres Pemalang, AKBP Rendy Setia Permana mengatakan, dalam kegiatan tersebut pihaknya menyalurkan 200 paket bantuan sosial kepada para pengungsi. “Total pengungsi yang terdampak dari bencana ini ada 1.805 orang. Lalu, ada 14 rumah dan dua sekolah ikut terdampak dari kejadian ini,” kata Rendy.

“Penyaluran bantuan ini merupakan bentuk kepedulian kami kepada masyarakat yang terdampak banjir bandang di Pulosari,” sambungnya. Selain bantuan logistik, Polres Pemalang bersama Bhayangkari juga melaksanakan kegiatan trauma healing, khususnya bagi anak-anak di posko pengungsian. Kegiatan tersebut bertujuan membantu memulihkan kondisi psikologis warga pascabencana serta menumbuhkan kembali rasa aman dan semangat.

“Trauma healing ini diharapkan dapat mengurangi dampak emosional akibat bencana, terutama bagi anak-anak,” ujarnya.

Di lokasi yang sama, Seksi Kedokteran dan Kesehatan (Sidokkes) Polres Pemalang membuka layanan kesehatan gratis bekerja sama dengan relawan kesehatan dan perangkat desa setempat. Pelayanan meliputi pemeriksaan kesehatan umum, konsultasi medis, serta pemberian obat-obatan sesuai keluhan pasien.

“Kegiatan kemanusiaan ini akan terus dilakukan secara berkelanjutan. Kami berharap kondisi segera pulih dan masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti sediakala,” imbuhnya.




Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *