My WordPress Blog
Daerah  

Pesona Desa Melung: Transformasi dari Desa Tertinggal ke Maju di Banyumas

Transformasi Desa Melung: Dari Keterisolasian ke Ikonomi Pariwisata Nasional

Desa Melung, yang terletak di lereng selatan Gunung Slamet, kini menjadi salah satu ikon pariwisata nasional. Berada di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, desa ini sebelumnya identik dengan keterisolasian dan kemiskinan. Namun, melalui upaya konsisten dan kolaborasi masyarakat, Desa Melung berhasil meraih juara pertama Lomba Desa Wisata Nusantara 2025.

Lokasinya berada di kawasan peralihan antara dataran rendah Purwokerto dan lereng pegunungan Baturraden. Wilayahnya memiliki kontur bergelombang, udara sejuk, serta panorama yang menghadap langsung ke Gunung Slamet. Hamparan sawah terasering mendominasi pemandangan, membentuk seperti tangga hijau yang mengikuti kontur perbukitan hingga kaki gunung. Vegetasi desa didominasi tanaman pangan dan perkebunan rakyat, mulai dari padi, sayuran dataran tinggi, kopi, hingga kebun bambu yang menjadi sumber kerajinan tradisional.

Salah satu daya tarik utama Desa Melung adalah kawasan Pagubugan. Di tempat ini, lanskap agraris tidak hanya dipertahankan, tetapi juga disajikan sebagai pengalaman wisata. Gubug-gubug bambu berdiri di tepi pematang, menjadi ruang duduk pengunjung sambil menyeruput kopi lokal sambil menyaksikan petani bekerja di sawah. Di beberapa titik, gardu pandang dan spot swafoto ditempatkan tepat di tengah sawah. Ikon paling unik adalah kolam renang di tengah hamparan sawah. Airnya berasal dari mata air pegunungan tanpa kaporit, memberikan sensasi berenang di sumber alam.

Proses menuju juara nasional tidak datang secara instan. Ketua Pokdarwis Desa Melung, Timbul Yulianto, menjelaskan bahwa kemenangan ini merupakan hasil konsistensi desa dalam memanfaatkan peluang yang belum diambil oleh desa lain. Dari 21 desa wisata di Banyumas, tidak semua aktif mengembangkan potensi pariwisata. Melung mengikuti Lomba Desa Wisata Nusantara sejak 2023, masuk tujuh besar pada 2023, empat besar pada 2024, dan akhirnya menjadi juara pertama pada 2025.

Konsep pengembangan wisata Melung berbasis keberlanjutan. Desa tidak hanya mengandalkan satu objek wisata, tetapi membangun ekosistem pariwisata terintegrasi. Homestay dikembangkan, UMKM diperkuat, kesenian tradisional Lengger dilestarikan, dan toleransi sosial diperkuat. Legalitas pengelolaan diperkuat melalui BUMDes dan Pokdarwis, disertai administrasi lengkap seperti data pengunjung dan program pemberdayaan lingkungan.

Dampak ekonomi yang signifikan terlihat dari peningkatan pendapatan. Sebelum dikembangkan menjadi destinasi wisata, lahan hanya disewakan dengan pendapatan sekitar Rp10 juta per tahun. Setelah dikembangkan, pendapatan meningkat hingga 10 -11 kali lipat. Pada 2025, Pagubugan mencatat pendapatan sekitar Rp272 juta, sementara Pendapatan Asli Desa (PAD) mencapai Rp87 juta.

Pengelolaan dana desa di Melung diarahkan untuk pemberdayaan masyarakat, bukan hanya pembangunan fisik. Menurut pengelola desa, banyak desa lain masih fokus pada pembangunan simbolik seperti tugu tanpa dampak ekonomi jangka panjang. Melung memilih investasi pada infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat, dengan tujuan akhir peningkatan PAD.

Sebelumnya, Melung berstatus desa tertinggal dengan stigma kemiskinan, kebodohan, dan akses sulit. Sejak penerapan Indeks Desa Membangun (IDM) pada 2021, status desa naik menjadi berkembang, dan pada 2026 resmi menjadi desa maju. Pada masa desa tertinggal, Melung tidak memiliki PAD dan hanya mengandalkan Alokasi Dana Desa sekitar Rp86 juta per tahun hingga 2014.

Keterbatasan ekonomi dan akses membuat banyak warga Melung merantau. Pada 2003 sampai 2008, ratusan warga merantau ke Belitung, sementara puluhan lainnya bekerja di Tangerang dan Cisoka di sektor peternakan ayam. Bahkan, warga dulu merasa minder mengaku berasal dari Melung dan memilih menyebut Baturraden sebagai daerah asal.

Kini, pariwisata mengubah persepsi dan kebanggaan warga terhadap desa mereka. Sekitar 30 orang terlibat langsung dalam pengelolaan wisata, termasuk ibu-ibu yang mengelola warung dan UMKM. Desa juga mengembangkan kopi robusta lokal dengan empat merek: Kopi Lung, Kopi Nenyong, Kopi Raja, dan Kopi Meletup.

Inspirasi pengembangan kawasan ini juga muncul dari foto kalender Ketua DPRD lama yang menampilkan latar belakang area tersebut. Meskipun berada di kawasan rawan longsor di lereng Gunung Slamet, warga rutin melakukan penanaman sebagai bagian dari mitigasi bencana.

Pada 2025, jumlah pengunjung mencapai sekitar 27.000 orang dengan pendapatan sekitar Rp270 juta dari tiket dan parkir. Harga tiket masuk Rp10.000 dan parkir Rp2.000. Sebelum pandemi, bahkan jumlah pengunjung pernah mencapai 54.000 orang per tahun.

Efek domino kemajuan Melung sebagai desa wisata dirasakan pedagang lokal, seperti Tarisah (41), yang bisa meraup Rp100 ribu per hari pada hari biasa dan lebih dari Rp1 juta saat libur. Tarisah, yang juga mantan TKW di Arab Saudi selama 2007 – 2019, memilih membuka warung sejak 2021 karena merasa lebih nyaman dan bebas. “Lebih enak jualan disini karena bisa atur waktunya sendiri. Disini pembayaran dilakukan secara tunai maupun QRIS, dengan persaingan usaha yang semakin ketat seiring berkembangnya wisata di kawasan sekitar,” katanya.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *