Kondisi AC Milan di pekan-pekan terakhir Liga 2025-2026 menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Sosok utama yang selama musim ini menggenggam tim, mengakui bahwa dirinya sudah sangat lelah.
Pada pekan ke-32 Serie A, Milan kembali menelan kekalahan. Pertandingan yang berlangsung di San Siro melawan Udinese berakhir dengan skor 3-0 untuk kemenangan tamu. Hasil ini memperkuat tren negatif yang dialami I Rossoneri menjelang akhir kompetisi.
Dalam 25 pertandingan awal, Milan hanya sekali kalah dan sempat berada di peringkat kedua klasemen. Mereka bahkan dianggap sebagai salah satu kandidat kuat juara. Namun, dalam tujuh laga terakhir, Milan gagal meraih kemenangan sebanyak empat kali.
Masalah utama yang muncul adalah dari lini depan. Penyerang-penyerang Milan tidak mampu mencetak gol secara konsisten. Dalam tujuh pertandingan terakhir, mereka hanya mampu mencetak satu gol. Namun, kekalahan terbaru melawan Udinese menunjukkan bahwa masalah bukan hanya dari lini depan, tetapi juga dari seluruh sektor permainan Milan.
Lini tengah, yang sebelumnya dianggap sebagai kekuatan utama Milan, juga mengalami penurunan performa. Kehadiran Luka Modric dan Adrien Rabiot selama ini menjadi tulang punggung lini tengah. Namun, dalam pertandingan melawan Udinese, Modric tampil buruk, begitu pula dengan Rabiot.
Rabiot, yang direkrut pada saat-saat terakhir bursa transfer musim panas, justru menjadi pemain penting bagi Milan. Keberadaannya memberikan kekuatan, visi permainan, kontrol bola, serta kemampuan untuk muncul dari lini kedua. Pemain asal Prancis ini sering dianggap sebagai simbol keberhasilan Milan meraih hasil positif.
Namun, setelah laga melawan Udinese, Rabiot mengakui bahwa dirinya dan seluruh anggota skuad sedang dalam kondisi yang kurang optimal.
“Kenapa kami begitu buruk di paruh kedua kompetisi?” tanyanya.
“Saya pikir ada kemunduran fisik, kemerosotan mental, dan sedikit kelelahan. Ini benar.”
“Dalam pertandingan ini, kami melihat kesolidan tim berkurang.”
“Hari ini kami tidak terorganisasi, kebobolan dua gol di babak pertama, dan kebingungan di seluruh lapangan.”
“Kami tidak tenang. Kami semua membuat kesalahan, termasuk saya.”
“Kami kehilangan pikiran jernih karena ingin buru-buru mengejar ketertinggalan, kami terlalu berkomitmen dengan banyak pemain di area lawan.”
“Saya sendiri juga kehilangan pikiran jernih untuk melihat dan memberi tahu pemain lain supaya tetap fokus.”
“Pelatih tetap tenang, dia bilang kepada kami supaya tetap tenang.”
“Target masih ada di tangan. Kami masih di peringkat tiga dan harus langsung fokus ke laga melawan Hellas Verona,” pungkasnya.
Tantangan Berat di Akhir Musim
AC Milan kini menghadapi tantangan besar di sisa kompetisi. Performa yang menurun di berbagai sektor permainan menjadi isu utama yang harus segera diperbaiki. Meskipun masih berada di posisi tiga klasemen, peluang untuk meraih gelar juara semakin tipis.
Beberapa faktor yang menyebabkan penurunan performa antara lain:
Kemunduran fisik dan mental – Para pemain terlihat kelelahan, baik secara fisik maupun psikologis.
Kurangnya koordinasi tim – Kesolidan tim mulai goyah, terutama dalam hal pengaturan strategi dan reaksi cepat terhadap permainan lawan.
Ketidakstabilan di lini depan* – Penyerang tidak mampu menciptakan peluang yang efektif, sehingga serangan Milan sering terhenti.
Untuk menghadapi laga melawan Hellas Verona, Milan perlu segera memperbaiki beberapa hal. Pelatih Massimiliano Allegri harus bisa mengembalikan semangat para pemain dan mengatur strategi yang lebih efektif.
Selain itu, pemain seperti Rabiot dan Modric perlu menunjukkan performa terbaik mereka. Jika tidak, maka kekalahan beruntun akan semakin menghancurkan harapan Milan untuk meraih gelar.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."










