My WordPress Blog

Real Madrid bersih-bersih setelah kabar Mourinho kembali, nasib Vinicius dan Mbappe diuji

Evaluasi Menyeluruh di Real Madrid Pasca Kegagalan Musim

Real Madrid kini tengah menghadapi fase evaluasi menyeluruh setelah musim yang tidak memuaskan, baik di kompetisi Eropa maupun domestik. Kegagalan mereka dalam Liga Champions dan persaingan ketat di Liga Spanyol membuat klub berada dalam situasi yang sangat menantang.

Tersingkir dari Liga Champions, Real Madrid kini tertinggal sembilan poin dari Barcelona dengan hanya enam pertandingan tersisa. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa klub mungkin akan mengakhiri musim tanpa gelar besar. Sebagai respons atas situasi ini, internal klub mulai melakukan evaluasi mendalam terkait strategi dan komposisi tim.

Salah satu aspek utama yang menjadi perhatian adalah posisi pelatih Alvaro Arbeloa. Saat ini, ia berada dalam tekanan besar, dan sejumlah nama mulai dikaitkan sebagai kandidat pengganti untuk memimpin proyek baru musim depan. Salah satu nama yang mencuat adalah Jose Mourinho, yang dikabarkan tertarik kembali melatih klub ibu kota Spanyol tersebut.

Selain isu pelatih, manajemen Real Madrid juga fokus pada perampingan skuad. Berdasarkan laporan Marca, klub ingin membentuk tim utama yang lebih ideal dengan sekitar 22 pemain inti, ditambah beberapa pemain dari akademi seperti Thiago Pitarch dan Joan Martinez. Kebijakan ini mengindikasikan bahwa jumlah pemain yang dilepas kemungkinan lebih banyak dibandingkan yang direkrut.

Evaluasi ini didasari anggapan bahwa skuad musim ini terlalu gemuk. Meski sempat dilanda badai cedera, jumlah pemain yang berlebih justru menimbulkan ketidaknyamanan, terutama karena terbatasnya menit bermain bagi beberapa pemain. Delapan nama pun diprediksi berpeluang hengkang akhir musim ini.

Beberapa pemain seperti David Alaba kemungkinan pergi seiring kontraknya yang habis pada Juni mendatang. Sementara Dani Ceballos juga disebut berpotensi dilepas meski masih terikat kontrak hingga 2027. Antonio Rudiger dan Dani Carvajal juga berada dalam situasi yang belum pasti, dengan kontrak keduanya akan berakhir pada musim panas ini. Khusus Carvajal, klub disebut akan menghormati keputusan sang kapten.

Selain itu, beberapa pemain yang masih memiliki kontrak juga masuk dalam daftar evaluasi, seperti Eduardo Camavinga, Raul Asencio, Fran Garcia, dan Gonzalo Garcia.

Di sisi lain, Real Madrid tetap mempertahankan fondasi utama tim. Nama-nama seperti Kylian Mbappe, Vinicius Junior, dan Jude Bellingham akan menjadi pilar proyek jangka panjang klub. Mereka akan didukung oleh pemain kunci lain seperti Thibaut Courtois, Trent Alexander-Arnold, Eder Militao, Federico Valverde, Aurelien Tchouameni, dan Arda Guler.

Dengan rencana ini, Real Madrid tampaknya bersiap memasuki era baru dengan skuad yang lebih ramping, kompetitif, dan seimbang demi kembali bersaing di level tertinggi musim depan.

Imbas Pemain Berlagak Bos

Hasil buruk yang diperoleh Real Madrid di kompetisi Eropa mendapat sorotan dari mantan pemainnya, Steve McManaman. Langkah Real Madrid pada Liga Champions 2025-2206 hanya mencapai perempat final usai disingkirkan oleh Bayern Muenchen. Los Blancos menyerah dari raksasa Jerman dengan agregat 4-6.

Padahal skuad Madrid berisikan barisan pemain top seperti Kylian Mbappe, Vinicius Junior, Jude Bellingham, dan masih banyak lagi. Namun, mereka tetap saja tak bisa menaklukkan Eropa. Menurut analisa Steve McManaman, kegagalan Madrid di Liga Champions dikarenakan para pemain bintangnya merasa ‘besar’. Dia menilai hal tersebut memengaruhi performa tim.

“Para pemain adalah bos di Real Madrid,” kata McManaman seperti dikutip BolaSport.com dari Diario Sport. “Pemain memiliki kekuatan yang luar biasa.” “Saya pikir itulah inti permasalahannya,” ujar gelandang Madrid periode 1999-2003 itu.

Lagi-lagi menurut McManaman, sebesar apapun seorang pemain, seharusnya tunduk terhadap pelatih yang notabene memegang kendali tim. Akan tetapi, situasi di Madrid justru anomali. “Arne Sloth adalah bos di Liverpool, Pep Guardiola merupakan bos di Manchester City. Akan tetapi, para pemain adalah bos di Real Madrid,” tutur McManaman.

Madrid berada dalam era Los Galacticos saat McManaman bermain. Kala itu, Madrid dipenuhi pemain bintang macam Zinedine Zidane, Luis Figo, Ronaldo Luis Nazario, dan lain-lain. Main bareng pesepak bola besar tentu bukan perkara mudah bagi McManaman. Dia harus menghadapi pemain-pemain dengan ego besar.

Kendati sulit, McManaman terap bisa meraih prestasi. McManaman meninggalkan Estadio Santiago Bernabeu usai meraih dua gelar Liga Champions, dua kali juara LaLiga, satu Piala Super Spanyol, dan satu Piala Super Eropa.


Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *