My WordPress Blog

Penangkapan tersangka baru kasus pembakaran di Benoa, 7 orang terlibat, 5 positif narkoba

Penanganan Kasus Penganiayaan Berat yang Menewaskan Dua Pemuda di Pelabuhan Benoa

Kasus penganiayaan berat yang menewaskan dua pemuda di kawasan Pelabuhan Benoa, Kota Denpasar, kini memasuki babak baru. Penyidikan terhadap kejadian tersebut sedang berkembang, dengan kemungkinan penambahan tersangka baru. Selain itu, seluruh pelaku dinyatakan positif mengonsumsi narkotika.

Dua pria ditemukan tewas dalam kondisi luka parah akibat penganiayaan dan tubuh hangus terbakar pada Jumat (10/4). Korban adalah Egi Ramadan (30) asal Cirebon dan Dan Hisam Adnan (30) asal Semarang, yang ditemukan di Jalan Pelabuhan Benoa No. 7 X, Pedungan, Denpasar Selatan. Keduanya merupakan korban penganiayaan berat yang kemudian dibakar hidup-hidup. Polisi telah menangkap seluruh pelaku yang berjumlah lima orang di lokasi berbeda.

Penyidikan Berkembang dengan Potensi Tersangka Tambahan

Kapolresta Denpasar, Kombes Pol Leonardo David Simatupang, mengungkapkan bahwa meskipun saat ini telah mengamankan lima orang, pihaknya tengah mendalami indikasi adanya pelaku lain berdasarkan keterangan saksi di lokasi kejadian.

Menanggapi keterangan saksi yang menyebut pelaku mencapai tujuh orang, Kombes Pol. Leonardo menjelaskan perbedaan jumlah ini muncul karena kondisi Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang gelap saat peristiwa berlangsung.

“Kalau dari pendalaman, 5 ya. Tapi nanti mungkin dari saksi-saksi lain apabila ada, ini kan karena malam, itu perkiraan dari saksi yang melihat. Tapi dari keterangan para tersangka, untuk sementara 5,” ujar Kombes Leonardo di Mapolresta Denpasar, pada Sabtu (11/4) siang.

Pihak kepolisian tidak menutup kemungkinan adanya tersangka tambahan seiring dengan pendalaman yang dilakukan oleh Sat Reskrim terhadap saksi-saksi lain. Selain pengejaran potensi pelaku baru, fokus penyidikan juga mengarah pada jaringan narkotika yang menjerat para tersangka.

Hasil Tes Awal Menunjukkan Kelima Pelaku Positif Menggunakan Narkotika

Hal ini menyusul hasil tes awal yang menunjukkan kelima pelaku positif menggunakan amfetamin. “Nanti untuk masalah narkobanya, untuk Satresnarkoba untuk menindaklanjuti, mengembangkan mereka menggunakan ataupun dapatnya dari mana,” tegas Kombes Leonardo.

Saat ini, Kasat Narkoba telah dikerahkan untuk menindaklanjuti hasil laboratorium para pelaku. Mengenai latar belakang para pelaku, Kombes Leonardo mengonfirmasi bahwa mereka bekerja di sektor pelayaran namun belum berstatus sebagai Anak Buah Kapal (ABK) tetap.

Peran Sama dari Seluruh Pelaku

Dalam aksi pengeroyokan tersebut, tidak ditemukan satu sosok yang paling dominan karena seluruh pelaku memiliki peran yang sama dalam menganiaya korban. “Sama-sama mereka. Sama. Ya, sama-sama perannya sama karena saling memukul ini, sama-sama mengeroyok,” jelasnya.

Kombes Pol Leonardo menegaskan bahwa tindakan sadis para pelaku yang kembali ke TKP untuk membakar korban dipicu oleh ledakan emosi dan sakit hati. “Alasan membakar karena emosi tadi. Sakit hati, emosi karena diajak berkelahi,” jelas Kombes Leonardo.

Pengaruh Narkotika dalam Aksi Keji

Kombes Leonardo juga mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa lima tersangka yang melakukan aksi pembakaran hidup-hidup terhadap korbannya. Para pelaku terindikasi kuat berada di bawah pengaruh zat terlarang saat melancarkan aksi keji tersebut pada Jumat (10/4) pagi.

“Dari pada pelaku itu semua positif menggunakan narkotika, ada amfetamin dan bermacam-macam,” tegas Kombes Leonardo saat memberikan keterangan terbaru mengenai perkembangan penyidikan di Mapolresta Denpasar, pada Sabtu (11/4).

Ia menjelaskan bahwa temuan ini didasarkan pada hasil pemeriksaan awal menggunakan test kit terhadap para pelaku berinisial S.A, D.H, NU, D.R, dan I.S yang diringkus tim gabungan kurang dari 10 jam setelah kejadian di Jalan Pelabuhan Benoa No. 7 X. Guna memperkuat bukti secara saintifik, pihak kepolisian langsung melakukan tindakan medis lanjutan untuk memastikan kadar dan jenis narkoba dalam tubuh para tersangka.

“Kami laksanakan tes darah terhadap kelima pelaku,” tambah Kombes Leonardo. Kondisi para pelaku yang terpapar narkoba ini diduga juga menjadi faktor pemicu meningkatnya agresivitas saat mereka melakukan serangan dua babak terhadap Egi Ramadan dan Dan Hisam Adnan.

Penangkapan Pelaku dalam Waktu Singkat

Tim gabungan Satreskrim Polresta Denpasar, Jatanras Polda Bali, dan Unit Reskrim Polsek Kawasan Pelabuhan Benoa menangkap para pelaku kurang dari 10 jam setelah kejadian tragis pada Jumat (10/4) dini hari tersebut. Sebanyak lima pelaku diamankan di lokasi berbeda.

Pada kesempatan itu, Kasat Reskrim Polresta Denpasar, Kompol Agus Riwayanto, memaparkan bahwa rentetan penangkapan dimulai pada pukul 12.45 WITA dengan meringkus pelaku berinisial N.U di kawasan Pelabuhan Benoa.

Pengejaran berlanjut pada pukul 13.30 WITA, di mana pelaku I.S, D.H, dan D.R diringkus di rumah kos di Jalan Tukad Badung. Pelaku terakhir, S.A, menyerah setelah ditangkap di Jalan Batas Dukuh Sari pada pukul 14.45 WITA.

Aksi Sadis yang Terjadi di Lokasi Kejadian

Kompol Agus menjelaskan, berdasarkan pengumpulan fakta di lapangan, bahwa para pelaku tidak sekadar melakukan pemukulan secara spontan, melainkan kembali lagi ke lokasi untuk memastikan korbannya tewas.

“Setelah korban dalam keadaan lemas dan tidak berdaya di selokan bawah pohon, para pelaku ini sempat meninggalkan lokasi, namun kemudian mereka sepakat datang kembali untuk mencari bensin,” ungkap Kompol Agus dalam konferensi pers.

Penyerangan tahap pertama terjadi sekitar pukul 04.30 WITA, di mana lima pelaku yakni S.A, D.H, NU, D.R, dan I.S yang tiba di TKP dan langsung menghujani korban Egi, Hisam, dan rekan mereka bernama Budi dengan batu, balok kayu, serta tendangan.

Sementara Budi berhasil melarikan diri untuk bersembunyi, Egi dan Hisam jatuh terkapar di selokan dalam kondisi masih hidup namun tidak berdaya akibat pengaruh alkohol dan hantaman benda tumpul.

Aksi sadis memuncak ketika para pelaku kembali ke TKP untuk kedua kalinya. Kompol Agus memaparkan tindakan pembakaran tersebut dilakukan sebagai langkah memastikan untuk mengakhiri hidup para korban.

“Mereka menyiramkan bensin dan membakar kedua korban yang sudah tertinggal di selokan tersebut, lalu meninggalkan mereka dalam keadaan terbakar hingga akhirnya meninggal dunia di tempat,” jelasnya.

Saksi Budi yang kembali ke lokasi beberapa saat kemudian menemukan kedua rekannya sudah dalam kondisi tubuh terbakar sebagian dan tidak lagi bernyawa.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *