Kehilangan Frater Muda di Danau Toba
Komedian Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Santo Yohannes Pematangsiantar sedang berduka setelah seorang frater muda, Christopher (21), tenggelam di perairan Danau Toba pada Sabtu (11/4/2026). Ia sedang menempuh pendidikan semester dua di STFT, yang merupakan bagian dari Unika Santo Thomas Medan, sebagai persiapan menjadi imam Katolik.
Setelah mengikuti kegiatan studi dan corretio fraterna, rombongan frater bersama Romo Ngadiono berkunjung ke kawasan Air Terjun Situmurun untuk rekreasi. Mereka berenang menikmati sejuknya air Danau Toba. Namun, di tengah aktivitas itu, Christopher mengalami kram pada kaki dan kelelahan. Ia sempat berteriak meminta tolong, tetapi derasnya arus membuat tubuhnya cepat terseret dan tenggelam.
Romo Ngadiono yang berada di lokasi menyampaikan bahwa teman-teman frater berusaha menolong, namun arus kuat membuat upaya itu sia-sia. Rombongan segera melapor ke Tim SAR dan kepolisian.
Upaya Pencarian
Tim Basarnas Danau Toba langsung melakukan pencarian dengan menurunkan penyelam dan menggunakan sonar aquaeye. Namun, kedalaman titik tenggelam mencapai 105 meter, sehingga pencarian sangat sulit. Kepala Koordinator Basarnas, Erikson Gultom, menegaskan bahwa korban tidak menggunakan pelampung saat berenang, sehingga risiko semakin besar.
Hingga Minggu sore, jasad korban belum ditemukan, dan pencarian dilanjutkan pada Senin, 13 April 2026. Ibu korban yang datang dari Batam tak kuasa menahan kesedihan. Di tepi Danau Toba, ia berlutut, menangis histeris, dan memohon kepada Tuhan agar jasad putranya segera ditemukan.
Kehadirannya menyentuh hati warga yang berkumpul, banyak di antara mereka mencoba menenangkan dan memberi semangat. Kehilangan Christopher bukan hanya duka bagi keluarga, tetapi juga bagi komunitas STFT dan Gereja Katolik yang sedang membentuk calon imam. Tragedi ini menegaskan bahwa rekreasi harus selalu disertai langkah pengamanan.
Doa dan dukungan masyarakat menjadi penguat bagi keluarga yang berduka, sembari berharap jasad sang frater segera ditemukan agar keluarga dapat memberikan penghormatan terakhir dengan layak.
Kronologi Kejadian
Berikut kronologi kejadian tenggelamnya frater Christopher (CR) di Danau Toba:
-
Sabtu, 11 April 2026 – Studi dan Rekreasi
Rombongan frater bersama Romo Ngadiono selesai mengikuti kegiatan studi dan corretio fraterna. Setelah itu mereka berangkat menuju kawasan Air Terjun Situmurun untuk rekreasi. -
Tiba di Lokasi – Berenang di Danau Toba
Setibanya di lokasi, rombongan berenang menikmati sejuknya air Danau Toba. Tidak ada satupun yang memakai pelampung. -
Korban Mengalami Kram dan Kelelahan
Saat berenang, Christopher tiba-tiba mengalami kram pada kaki dan kelelahan. Ia sempat berteriak meminta tolong. Teman-temannya berusaha menolong, namun arus deras menyeret tubuhnya hingga tenggelam. -
Upaya Pertolongan Gagal
Romo Ngadiono dan rekan-rekan frater berusaha mengejar, tetapi arus kuat membuat korban cepat hilang dari permukaan. -
Laporan ke Tim SAR dan Polisi
Rombongan segera melapor ke Basarnas Danau Toba dan kepolisian. Tim SAR langsung melakukan pencarian hari pertama dengan sonar aquaeye dan penyelaman. -
Kendala Pencarian
Kedalaman titik tenggelam mencapai 105 meter, membuat pencarian sangat sulit. Hingga sore, jasad korban belum ditemukan. -
Minggu, 12 April 2026 – Ibu Korban Tiba di Lokasi
Ibunda korban datang dari Batam. Setiba di tepi Danau Toba, ia menangis histeris di hadapan warga dan petugas, berlutut memohon kepada Tuhan agar jasad putranya segera ditemukan. -
Pencarian Dilanjutkan
Kepala Koordinator Basarnas, Erikson Gultom, menyatakan pencarian akan dilanjutkan pada Senin, 13 April 2026.











