Kesaksian Budi Listiyono Saat Dua Temannya Dibakar Hidup-hidup di Pelabuhan Benoa
Budi Listiyono (25) menceritakan pengalaman mengerikan yang dialaminya saat dua temannya dibakar hidup-hidup oleh sekelompok pemuda di kawasan Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali. Kejadian tersebut terjadi pada Jumat, 10 April 2026 dini hari pukul 03.30 WITA.
Saat itu, Budi bersama dua korban, HA (28) asal Semarang dan Egi, sedang mengonsumsi minuman keras di area Benoa sejak pukul 02.30 WITA. Kedua korban kemudian memutuskan untuk membeli minuman tambahan menggunakan jasa ojek daring (Maxim). Namun karena tidak menemukan warung yang buka di sekitar lampu merah (TL) Pesanggaran, mereka memutuskan untuk turun dan berjalan kaki kembali ke arah Benoa.
Ketika ketiganya sedang duduk beristirahat di depan Restoran B Sirip Tuna Biru, tiba-tiba mereka didatangi oleh sekitar enam atau tujuh orang yang mengendarai sepeda motor. Tanpa basa-basi, kelompok tersebut langsung melakukan pengeroyokan secara membabi buta. Budi berhasil melarikan diri dengan lari dan bersembunyi ke bagian belakang restoran. Namun, kedua rekannya tidak berhasil meloloskan diri dari amukan para pelaku.
Kekejaman pelaku tidak berhenti pada penganiayaan fisik. Sekitar pukul 04.30 WITA, Yos Barliansyah, warga sekitar lokasi, mendengar keributan dan melihat pemandangan mengerikan. Ia menyaksikan beberapa orang tengah membakar tubuh korban di kegelapan malam. Yos segera menghubungi Kelian Adat Banjar Pesanggaran yang kemudian menerjunkan petugas Pecalang ke lokasi kejadian.
Setibanya petugas Pecalang di TKP sekitar pukul 05.00 WITA, mereka menemukan kobaran api masih menyala di area rawa. Saat api mulai mereda, terlihat dua tubuh manusia tergeletak dalam kondisi memprihatinkan.
Iptu Adi merinci kondisi kedua korban yang ditemukan di posisi berbeda. Korban HA ditemukan di sisi selatan dengan luka bakar pada kedua tangan dan punggung, serta luka terbuka di bagian pelipis kanan dan beberapa bagian kepala. Sementara itu, korban Egi ditemukan di sisi utara tanpa mengenakan baju, dengan luka robek di pinggang kanan serta luka terbuka di pelipis.
Di lokasi kejadian, tim kepolisian mengamankan sejumlah barang bukti yang memperkuat dugaan penganiayaan terencana. Mereka menemukan potongan kayu balok sepanjang 35 cm dan botol bekas bahan bakar yang sudah meleleh di lokasi. Selain itu, ada barang pribadi korban seperti ponsel Poco dan Realme, dompet berisi uang Ringgit Malaysia, jam tangan, sepatu, serta sandal yang tercecer.
Saat ini, jenazah kedua korban telah dievakuasi untuk kepentingan pemeriksaan lebih lanjut. Polisi juga tengah mengumpulkan rekaman CCTV dan keterangan saksi-saksi lain di sepanjang jalur Pelabuhan Benoa guna mengidentifikasi para pelaku.
Proses Penyelidikan dan Upaya Pengejaran Pelaku
Sat Reskrim Polresta Denpasar bersama Unit Reskrim Polsek Kawasan Pelabuhan Benoa tengah melakukan penyelidikan mendalam terkait kasus ini. Pihak kepolisian masih melakukan perburuan intensif terhadap kelompok pelaku, diduga berjumlah lebih dari lima orang.
Kasi Humas Polresta Denpasar, Iptu I Gede Adi Saputra Jaya, menyampaikan bahwa peristiwa penganiayaan yang mengakibatkan dua orang meninggal dunia di lokasi. Saat ini, pelaku masih dalam pengejaran tim gabungan.











