Kehadiran Azhari Rangkuti di Rumah Duka Sutan Harhara
Azhari Rangkuti, mantan pemain timnas yang pernah berlaga di SEA Games 1987, hadir di rumah duka Sutan Harhara, Pamulang, Kota Tangerang Selatan, pada Sabtu (11/4/2026). Kehadirannya bukan sekadar formalitas, melainkan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada sosok yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup dan kariernya di dunia sepak bola.
Suasana duka menyelimuti rumah Sutan, di mana keluarga, sahabat, dan rekan-rekan almarhum berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir. Azhari menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam atas kepergian sosok yang ia kenal sebagai panutan. “Turut berduka cita, pada hari ini beliau meninggal pada usia 73 tahun. Momen terakhir saat bermain di Brimob menunjukkan kesan yang sangat baik,” ujar Azhari.
Ia menambahkan bahwa almarhum adalah sosok yang selalu memberikan dukungan kepada para juniornya. “Beliau selalu support kepada kita, banyak memberikan bimbingan kepada kami yang lebih muda,” ujarnya. Bagi Azhari, mendiang bukan sekadar rekan, melainkan sosok senior yang dihormati dan disegani. “Kami sudah menganggap beliau sebagai senior, bahkan tetua yang sangat baik,” tuturnya.
Tidak hanya di dunia sepak bola, almarhum juga dikenal sebagai pribadi yang hangat dalam kehidupan sehari-hari. “Beliau sosok suami dan juga istri yang baik menurut kami, sangat pantas untuk dihormati,” ucap Azhari. Menurutnya, rasa hormat kepada almarhum tidak pernah luntur, bahkan hingga kini. “Respect kami kepada beliau itu luar biasa, khususnya karena sampai usia sekarang pun beliau masih aktif memberikan arahan kepada juniornya,” lanjutnya.
Dedikasi almarhum terhadap dunia sepak bola menjadi salah satu hal yang paling dikenang. Meski kondisi kesehatan tidak selalu prima, ia tetap berusaha hadir dan berkontribusi dalam membina generasi muda. Ketika ditanya mengenai momen kebersamaan yang paling berkesan, Azhari sejenak terdiam sebelum mengingat kembali perjalanan panjang mereka. Kenangan itu tampak begitu hidup dalam benaknya.
“Yang pernah saya lakukan, beliau pernah menjadi asisten pelatih saya di SEA Games tahun 1987, saat kami meraih juara,” ungkapnya. Menurut Azhari, momen tersebut menjadi salah satu titik paling berharga dalam hidupnya. “Itu menurut saya momen paling berkesan,” tambahnya.
Meski di masa-masa terakhir komunikasi mereka tidak seintens dulu, hubungan baik tetap terjaga. “Selebihnya kami tetap berkomunikasi aktif, baik di dalam maupun di luar lapangan, meskipun kondisi beliau sudah kurang sehat,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, Sutan Harhara Mantan pemain sepak bola Indonesia era 1970-an yang pernah memperkuat Persija Jakarta, meninggal dunia, Sabtu (11/4/2026) pukul 01.29 WIB. Pantauan di rumah duka di kawasan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, terlihat suasana duka menyelimuti kediaman almarhum Sutan Harhara.
Rumah kuning dua lantai tersebut tampak sudah dipasangi tenda hitam di bagian depan untuk menampung para pelayat yang datang memberikan penghormatan terakhir. Di bagian teras, telah disiapkan tempat pemandian jenazah yang ditutup kain berwarna hijau. Sementara itu, sejumlah pelayat terlihat mulai berdatangan dan duduk di area tenda maupun di teras rumah untuk melayat dan mendoakan almarhum.
Jenazah almarhum sendiri masih disemayamkan di dalam rumah duka. Suasana haru tampak menyelimuti keluarga dan kerabat yang hadir. Di depan rumah, sebuah ambulans juga telah bersiaga menunggu proses pemberangkatan jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir. Pemain timnas pada 1975 itu meninggal dunia pada usia 73 tahun.
“Telah berpulang ke rahmatullah Sutan Harhara, Almarhum lahir pada 9 Oktober 1953 dan wafat pada 11 April dalam usia 73 tahun,” dalam keterangan terlihat di area depan rumah duka. Pemberitahuan itu juga tertulis almarhum menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum (RSU) Tangsel.
Sementara itu, mengenai rencana pemulasaraan jenazah, jenazah akan disalatkan di Masjid Daarossyifa. Setelah itu, almarhum akan dimakamkan di TPU Kampung Kandang, Jakarta Selatan, usai salat Dzuhur.











