Insiden Rasisme dalam Laga Arema FC vs Malut United

Pertandingan antara Arema FC dan Malut United yang berlangsung di Stadion Kanjuruhan pada Jumat (3/4) mengalami dugaan insiden rasisme. Hal ini terjadi saat pertandingan berakhir dengan skor imbang 1-1. Yakob Sayuri, pemain Timnas Indonesia, menjadi korban dari dugaan ucapan rasis tersebut.
Pada babak pertama, Arema FC unggul lebih dahulu melalui gol bunuh diri bek Malut United, Nilson Barbosa, di menit ke-26. Di menit ke-42, Malut United menyamakan kedudukan melalui tendangan penalti setelah pemain Arema FC melakukan pelanggaran di kotak penalti.
Di sekitar menit ke-35, suasana pertandingan memanas. Yakob Sayuri diduga menerima ucapan rasis dari tribune utara bench Arema FC. Ia kemudian mendatangi area utara bench Malut United ke bench Arema FC sambil menunjuk ke arah tribune di sisi utara belakang bench Arema FC. Pemain tersebut tampak emosional hingga akhirnya ditenangkan oleh staf tim Arema FC dan perangkat pertandingan.

Laga sempat terhenti selama sekitar satu menit. Perangkat pertandingan juga berusaha menenangkan Yakob dan beberapa staf Malut United yang terlihat emosional dan berjalan menuju ke arah bangku cadangan Arema FC.
Setelah pertandingan usai, pelatih Malut United, Hendri Susilo, mengaku bahwa anak asuhnya diduga menerima perkataan rasis dari arah tribun sisi bench Arema FC. Menurutnya, Yakob Sayuri mengatakan kepada dirinya bahwa ia diberi ucapan rasis seperti “monyet”.
“Ya, Sayuri bilang sama saya, Coach, tolong bilang ke mungkin ke Arema gitu, saya diberikan rasis dikatakan monyet. Saya tidak tahu namanya siapa yang bilang itu,” ujar Hendri Susilo usai pertandingan.
Menurut Hendri, wasit juga menerima laporan dan menghentikan pertandingan. Saat itu, pertandingan sempat terhenti hingga satu menit ketika wasit Naufal Adya Fairuski menerima dugaan rasisme tersebut. Namun, ia mengaku tidak mendengar langsung ucapan kata “monyet” yang diarahkan ke Yakob Sayuri.
“Saya pikir di awal itu wasit itu sudah antisipasi gitu lho untuk Sayuri. Karena dia mungkin sedikit emosional ya, maklum namanya manusia biasa, cuma ya seperti itu, seperti yang saya tanyakan ke Sayuri seperti itu,” tambah Hendri.

Sementara itu, pelatih Arema FC, Marcos Santos, mengaku tidak mendengar dan tidak mengetahui dugaan rasis yang diterima oleh Yakob Sayuri. Namun, ketika ada pengakuan dari Yakob dan pertandingan terhenti, ia langsung menenangkan Yakob dan meminta maaf kepadanya serta pelatih Malut United.
“Tidak lihat, tidak dengar, tapi saya sudah datang ke pemain dan pelatih untuk meminta maaf,” ucap Marcos Santos.
Ia juga mengecam tindakan rasisme yang dialami oleh Yakob Sayuri. Baginya, sepakbola adalah olahraga universal yang tidak membedakan antara kulit hitam dan putih. Ia yakin bahwa Aremania tidak melakukan hal tersebut.
“Tapi itu nggak boleh karena kita semua sama tidak ada hitam dan putih, saya nggak mau terjadi. Tidak boleh terjadi seperti, kalau Aremania tidak mungkin karena Aremania selalu baik di pertandingan. Jadi semoga ke depan lebih bagus kalau kita main di sini,” pungkasnya.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."










