My WordPress Blog

Wali Kota Fairid Naparin Soroti ‘Pengangguran Elit’ di Palangka Raya

Kondisi Lapangan Kerja di Kota Palangka Raya

Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin, menyampaikan bahwa kondisi lapangan kerja di kota ini cukup tersedia, namun belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan oleh tenaga kerja lokal. Menurutnya, masalah ini tidak hanya terkait dengan jumlah pekerjaan yang tersedia, tetapi juga pola pikir para pencari kerja.

“Di daerah lain, jumlah pencari kerja lebih banyak daripada lapangan kerja. Di kita justru sebaliknya,” ujarnya pada Sabtu (4/4/2026). Ia menekankan bahwa peluang kerja di berbagai sektor, termasuk sektor informal, sebenarnya terbuka. Namun, tidak semua peluang tersebut dimanfaatkan karena masih ada kecenderungan masyarakat memilih pekerjaan tertentu.

Pemilihan Pekerjaan yang Tidak Sesuai

Fairid Naparin memberi contoh, banyak pencari kerja yang sudah diterima bekerja di perusahaan perkebunan sawit dengan penghasilan yang cukup besar, namun memilih meninggalkan pekerjaan tersebut untuk mencoba peluang lain yang dianggap lebih sesuai. Misalnya, mereka memilih mengikuti tes CPNS meskipun belum tentu lulus.

“Sudah diterima kerja di sawit dengan gaji besar, tapi ditinggalkan demi ikut tes CPNS. Padahal belum tentu lulus,” jelasnya. Hal ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara ekspektasi dan realitas di dunia kerja.

Ia juga menyebutkan bahwa kondisi serupa terjadi pada peluang kerja di sektor informal yang sebenarnya cukup banyak, namun kurang diminati. Banyak masyarakat yang memandang pekerjaan di luar sektor formal tidak sesuai dengan harapan baik dari segi jenis maupun pendapatan.

Pengangguran Elit

Menurut Wali Kota, kondisi ini mengarah pada apa yang disebut “pengangguran elit”. Istilah ini merujuk pada situasi di mana seseorang memiliki kemampuan dan latar belakang pendidikan yang memadai, tetapi tidak bekerja karena cenderung selektif dalam memilih pekerjaan. Mereka menunda bekerja karena pekerjaan yang tersedia dianggap tidak sesuai dengan ekspektasi, baik dari segi jenis maupun pendapatan.

Akibatnya, banyak orang yang justru kehilangan pekerjaan yang sudah dimiliki tanpa berhasil mendapatkan pekerjaan baru. Contohnya, ada yang berhenti kerja karena ingin ikut tes CPNS. Ketika tidak lulus, akhirnya menjadi pengangguran.

Dampak pada Penyerapan Tenaga Kerja

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada penyerapan tenaga kerja di daerah. Peluang kerja yang tersedia berpotensi diisi oleh tenaga kerja dari luar daerah jika tidak dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.

Selain itu, hal ini juga menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara ekspektasi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja di lapangan. Menurut Fairid Naparin, perlu dilakukan perubahan mindset agar masyarakat tidak hanya ingin bekerja di sektor formal.

Peran Dunia Pendidikan dan Keluarga

Ia menegaskan bahwa peran dunia pendidikan dan keluarga sangat penting dalam membentuk pola pikir generasi muda agar lebih siap menghadapi dunia kerja. Persoalan ini bukan semata-mata soal ketersediaan pekerjaan, tetapi juga kesiapan individu dalam mengambil peluang.

“Ini jadi PR kita bersama, bagaimana membangun semangat kerja dan pola pikir masyarakat agar bisa menyesuaikan dengan kondisi yang ada,” pungkasnya.

Solusi dan Langkah yang Diperlukan

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya pekerjaan di sektor informal
  • Pelatihan keterampilan dan pengembangan diri untuk meningkatkan daya saing
  • Penyuluhan dan edukasi tentang potensi pekerjaan di berbagai sektor
  • Penguatan sistem pendidikan agar lebih sesuai dengan kebutuhan pasar kerja

Dengan perubahan pola pikir dan komitmen bersama, diharapkan kondisi lapangan kerja di Kota Palangka Raya dapat lebih optimal dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *