My WordPress Blog

Pembaruan negara izin Iran lewati Selat Hormuz, Indonesia kapan?

Iran Memberikan Izin Terbatas untuk Beberapa Negara Melewati Selat Hormuz

Iran telah memberikan kelonggaran dengan mengizinkan beberapa negara untuk melintasi Selat Hormuz secara terbatas. Namun, Amerika Serikat dan sekutunya tetap tidak termasuk dalam daftar tersebut. Sejauh ini, kapal milik Pertamina belum bisa melewati Selat Hormuz untuk melanjutkan perjalanannya.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran

Selat Hormuz ditutup oleh Iran lebih dari sebulan semenjak konflik dengan Israel dan United States. Kini, sejumlah negara mendapat pengecualian untuk melewati Selat Hormuz melalui jalur komunikasi dan diplomasi. Meskipun begitu, Amerika Serikat dan sekutunya tetap tidak termasuk dalam daftar tersebut.

Daftar Negara yang Diizinkan Melewati Selat Hormuz

Menurut laporan media Inggris, Express, Jumat (3/4/2026), dikutip dari Kompas.com, Rusia, China, dan India dilaporkan termasuk dalam lima “negara sahabat” yang saat ini diizinkan melintasi Selat Hormuz. India secara khusus masuk dalam daftar prioritas Iran.

Sejumlah kapal pengangkut LPG dan minyak mentah seperti Jag Vasant, Pine Gas, Shivalik, dan Nanda Devi tercatat berhasil melewati selat tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Situasi ini membantu meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.

Negara-negara lain yang juga diizinkan melintasi Selat Hormuz antara lain:
* Pakistan
* Irak
* Thailand
* Malaysia
* Bangladesh
* Sri Lanka
* Mesir
* Korea Selatan
* Turkiye

Pelayaran Kapal dari Negara-negara Tertentu

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa pihaknya telah mengizinkan kapal-kapal dari China, Rusia, India, Pakistan, dan Irak, serta negara-negara lain yang dianggap sahabat, untuk melewati Selat Hormuz.

Setidaknya satu kapal tanker berbendera Pakistan terlacak keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz pada pertengahan Maret. Pelayaran Irak juga termasuk di antara negara-negara yang digambarkan Iran sebagai “negara sahabat” dengan izin pelayaran diberikan berdasarkan aturan keamanan Iran karena keselarasan politik dan kedekatan Baghdad.

Thailand diizinkan melintasi jalur tersebut setelah koordinasi diplomatik, sementara Sri Lanka mendapat akses sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama kemanusiaan dan logistik selama konflik. Bangladesh juga diberikan izin transit terbatas oleh Iran karena dinilai sebagai negara sahabat dengan jalur terkoordinasi.

Turkiye juga berhasil meloloskan sejumlah kapal melalui selat tersebut, meski lebih dari selusin kapal masih menunggu izin hingga Sabtu. Menteri Transportasi Abdulkadir Uraloglu menyebut dua dari 15 kapal yang berada di dekat selat telah berhasil melintas.

Upaya Eropa dan Jepang Melewati Selat Hormuz

Perancis dan Italia sedang berupaya membuka jalur diplomasi dengan Teheran untuk memperoleh izin melintasi Selat Hormuz. Sebuah kapal milik Perancis yang beroperasi dengan bendera Malta telah berhasil melintas pada Jumat (3/4/2026), namun belum dipastikan apakah akses yang diberikan bersifat penuh atau terbatas seperti yang dialami Turki.

Di sisi lain, Jepang mulai kembali mengirimkan kapal melalui jalur tersebut, dengan satu kapal telah melintas pada Kamis (2/4/2026). Laporan The Japan Times menyebutkan sekitar 45 kapal yang terkait dengan Jepang sebelumnya tertahan di Teluk Persia selama berminggu-minggu. Meski demikian, hingga kini belum ada kejelasan alasan di balik izin pelayaran yang baru diberikan tersebut.

Indonesia Belum Bisa Melewati Selat Hormuz, Kenapa?

Sejauh ini, kapal milik Pertamina belum bisa melewati Selat Hormuz untuk melanjutkan perjalanannya. Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menilai posisi Indonesia cukup rumit terkait kapal Pertamina yang masih tertahan di Selat Hormuz, Iran.

“Dalam konteks ini, Indonesia berada dalam posisi yang dilematis,” ujar Hikmahanto dikutip dari Kompas.com, Minggu (29/3/2026). Ia menjelaskan, di satu sisi Indonesia berkepentingan agar kapal tankernya dapat melintasi jalur tersebut demi kebutuhan nasional. Namun di sisi lain, langkah tersebut berpotensi menimbulkan persepsi bahwa Indonesia berpihak dan bisa dianggap sebagai lawan oleh Amerika Serikat.

Meski demikian, Iran saat ini secara efektif mengendalikan jalur pelayaran di Selat Hormuz, meskipun kapal tanker dari sejumlah negara masih diizinkan melintas tanpa gangguan. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan pemerintah Iran telah merespons positif permintaan pemerintah Indonesia supaya dua kapal tanker Pertamina yang masih tertahan di Selat Hormuz dapat melintas dengan aman.

Menurut Juru Bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela, pihaknya bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran sejak awal telah melakukan koordinasi intensif dengan semua pihak terkait di Iran untuk keselamatan kapal tanker tersebut. Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran.

Menyusul respons positif yang disampaikan Teheran, langkah tindak lanjut telah dijalankan oleh pihak-pihak terkait pada aspek teknis dan operasional, kata Nabyl, meski belum memberi waktu pasti kapan kapal tanker tersebut bisa keluar dari Selat Hormuz.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *