My WordPress Blog

Kisah Mantan TNI UNIFIL: Bahaya Misi Lebanon di Bawah Pengawasan Drone Israel

Kehadiran Jenazah Tiga Prajurit TNI Kontingen Garuda UNIFIL Mengungkap Risiko di Medan Tugas

Kedatangan jenazah tiga prajurit TNI kontingen Garuda UNIFIL yang gugur dalam tugas perdamaian di Lebanon menghadirkan kesadaran akan tingginya risiko yang dihadapi para pasukan penjaga perdamaian. Peristiwa ini menjadi pengingat penting tentang tantangan yang dihadapi oleh personel militer saat bertugas di wilayah konflik.

Pengalaman Eks Anggota TNI UNIFIL

Serma (Purn) Muhtar Efendi, mantan anggota TNI UNIFIL, menceritakan pengalamannya selama bertugas di Lebanon. Ia menyebutkan bahwa drone Israel sering kali memantau dan memetakan koordinat pasukan PBB di zona penyangga. Hal ini menunjukkan bahwa posisi pasukan penjaga perdamaian selalu berada dalam pantauan ketat, terlepas dari upaya mereka untuk tetap netral.

Menurut informasi dari laman PBB, Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701 tanggal 11 Agustus 2006 bertujuan untuk mengakhiri permusuhan antara Hizbullah dan Israel melalui pembentukan zona penyangga. Namun, dalam praktiknya, situasi tetap dinamis dan penuh tantangan.

Muhtar menjelaskan bahwa drone-drone Israel tidak hanya memantau kegiatan warga Lebanon, tetapi juga melakukan pemetaan titik-titik koordinat pasukan PBB. “Sudah barang tentu drone ini diterbangkan oleh Israel,” ujarnya.

Misi Netral di Tengah Konflik

Tugas pasukan penjaga perdamaian di Lebanon memang memiliki risiko tinggi. Meskipun mereka telah dibekali dengan SOP dan aturan keterlibatan yang jelas, situasi di tengah dua wilayah yang sedang berselisih tetap membutuhkan kehati-hatian dan kesabaran.

“Penugasan di Lebanon itu memang sangat mengandung risiko yang tinggi walau katakanlah kita sudah dibekali dengan SOP atau rules of engagement yang jelas dan nyata,” katanya.

Pasukan penjaga perdamaian harus tetap netral dan tidak memihak kepada salah satu pihak, baik Israel maupun Lebanon. Tujuannya adalah menjaga perdamaian yang telah ditetapkan melalui resolusi PBB.

Pesan dari KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak

Setelah menjadi Inspektur Upacara penyerahan tiga jenazah TNI kontingen Garuda UNIFIL yang gugur dalam tugas, Jenderal Maruli Simanjuntak memberikan pesan kepada keluarga prajurit. Ia menegaskan bahwa para prajurit terpilih tersebut sudah terlatih dan paham apa yang harus dilakukan dalam menghadapi situasi di tengah konflik.

“Nggak usah risau. Sebetulnya mereka juga sebetulnya tahu apa yang harus dilakukan,” ujarnya.

Prosedur dan Doa untuk Prajurit

Maruli menjelaskan bahwa setiap penugasan negara di bawah naungan PBB memiliki prosedur operasional standar (SOP) untuk menghadapi kondisi ketidakpastian. Meski begitu, ia tidak menyangkal bahwa misi menjaga perdamaian dunia memang tidak lepas dari risiko.

Ia meminta keluarga dari anggota prajurit terpilih tersebut untuk terus mendoakan keselamatan mereka. “Tapi apapun juga semua pasti ada risikonya di tengah-tengah kejadian tersebut. Yang penting doakan saja, mudah-mudahan semua berjalan dengan baik,” pungkasnya.

Kesimpulan

Peristiwa gugurnya tiga prajurit TNI kontingen Garuda UNIFIL di Lebanon mengingatkan kita akan tantangan dan risiko yang dihadapi oleh para pasukan penjaga perdamaian. Dengan pengalaman eks anggota TNI UNIFIL dan pesan dari KSAD, kita dapat memahami betapa pentingnya persiapan, pelatihan, serta doa dalam menjalankan tugas-tugas seperti ini.




Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *