Persoalan Kapal Tanker Pertamina di Selat Hormuz
Dua kapal tanker milik Pertamina, yaitu VLC Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih terjebak di Selat Hormuz sejak awal Maret. Masalah ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah Indonesia yang saat ini sedang berupaya melalui jalur diplomasi agar kedua kapal tersebut bisa melewati wilayah yang kini ditutup oleh Iran.
Menurut Dian Wirengjurit, ada beberapa perkembangan positif terkait dengan kapal-kapal Indonesia. Dua kapal lainnya, yakni Paragon dan Rinjani, telah lebih dahulu dibebaskan. Ia menjelaskan bahwa alasan utamanya adalah karena ukuran kapal yang tidak terlalu besar dan juga karena keduanya berbendera Indonesia. Namun, dua kapal supertanker yang dimaksud masih belum mendapatkan izin untuk dilepas oleh Iran.
Alasan Iran Kecewa Terhadap Indonesia
Iran disebut memiliki kekecewaan terhadap Indonesia sebelum konflik dengan Amerika Serikat dan Israel berlangsung. Menurut Dian, dalam konteks diplomasi, Iran mengedepankan prinsip resiprokalitas. Jika suatu negara melakukan kebaikan, maka negara itu akan dibalas dengan kebaikan, begitu juga sebaliknya.
Beberapa hal yang membuat Iran kecewa antara lain:
-
Kegiatan Latihan Perang Pasifik: Beberapa tahun lalu, Iran diundang secara resmi dalam latihan perang negara-negara Pasifik. Kapal perang Iran ikut bergabung dalam latihan bersama yang dikoordinir oleh Indonesia. Namun, kapal Iran justru ditolak masuk ke perairan Indonesia. Pembatalan keikutsertaan ini disebut disebabkan oleh tekanan dari AS.
-
Status MT Arman 114: Kapal tanker Iran bernama MT Arman 114 sudah bertahun-tahun disandera oleh Indonesia setelah ditangkap. Mereka memperdagangkan minyak di tengah lautan yang mereka klaim sebagai lautan internasional, tetapi Indonesia menganggapnya sebagai perairan nasional. Hingga saat ini, status kapal tersebut belum jelas.
-
Belasungkawa atas Kematian Ali Khamenei: Kekecewaan ketiga berkaitan dengan terlambatnya Indonesia mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Dian menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto justru memberikan pernyataan yang tidak bersimpati kepada Iran yang sedang diserang AS-Israel.
Dugaan tentang Peran BoP dan Perjanjian Tarif Resiprokal
Selain itu, pengamat ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menduga bahwa kesulitan kapal Indonesia untuk melintasi Selat Hormuz disebabkan oleh Iran yang merasa “sakit hati” karena Indonesia masuk menjadi anggota Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS Donald Trump.
Bhima juga menilai kesepakatan Indonesia dan AS dalam perjanjian tarif resiprokal turut menjadi alasan Iran seakan mempersulit izin agar kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro untuk melintasi Selat Hormuz.
Ia menyarankan agar pemerintah mencontoh langkah Malaysia yang enggan masuk menjadi anggota BoP serta membatalkan kerjasama tarif resiprokal dengan AS. Bhima menegaskan bahwa Indonesia sepertinya salah memilih posisi dalam situasi ini.
Langkah yang Harus Diambil
Bhima mendorong agar Indonesia keluar dari BoP dan membatalkan perjanjian tarif resiprokal dengan AS agar Iran “luluh” sehingga kapal bisa melintas di Selat Hormuz. Ia menekankan bahwa yang terpenting bukanlah melayani kemauan Trump, tapi menyelamatkan rakyat Indonesia.
Dengan situasi yang semakin rumit, pemerintah Indonesia harus segera menemukan solusi yang dapat membuka jalan bagi kapal-kapal Pertamina untuk melintasi Selat Hormuz. Ini tidak hanya penting untuk kepentingan ekonomi, tetapi juga untuk menjaga hubungan diplomatik yang baik dengan negara-negara lain, termasuk Iran.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











