Pengakuan Pelaku Mutilasi di Samarinda yang Viral di Media Sosial
Sebuah video yang beredar luas di media sosial Kota Samarinda, Kalimantan Timur, telah mengungkap pengakuan pelaku mutilasi terhadap korban. Dalam video tersebut, pelaku menjelaskan tindakan sadisnya dan motif yang mendorongnya untuk menghabisi nyawa korban.
Pelaku diketahui adalah suami siri korban, yang bernama J (56), yang dibantu oleh rekannya, seorang ibu rumah tangga bernama R (56). Kejadian ini dipicu oleh rasa sakit hati yang mendalam akibat fitnah yang dialamatkan kepada J. Korban difitnah memiliki hubungan terlarang dengan R, sehingga keduanya merencanakan pembunuhan tersebut.
Kasus ini terungkap setelah dua bocah menemukan potongan tubuh korban di kawasan Jalan Batung Klanduk, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara, pada Sabtu (21/3/2026). Saat itu, tepat pada momentum Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Setelah ditemukan, pelaku berhasil ditangkap pihak kepolisian pada Minggu (22/3/2026) dini hari.
Dalam rekaman video berdurasi 5 menit 7 detik, pelaku mengakui secara terbuka bahwa dirinya melakukan pemukulan terhadap korban hingga tewas, kemudian memutilasi tubuh korban. Ia menyebut bahwa tindakan tersebut dipicu oleh rasa sakit hati akibat fitnah yang terus dialamatkan kepadanya. “Ya karena kita dipitnah-pitnah terus,” ucap pelaku dalam video tersebut.
Pelaku juga mengaku tidak sepenuhnya bertindak atas dorongan emosinya sendiri. Dalam pernyataannya, ia menyebut adanya pengaruh dari sosok lain, yang diduga adalah ibunya, yang turut memperkeruh situasi hingga berujung pada aksi kekerasan tersebut.
Kronologi Pembunuhan dan Mutilasi
Sebelum kejadian pembunuhan, terjadi percakapan yang memancing emosi pelaku. Ia menyebut ada dorongan dan tekanan yang membuatnya akhirnya melakukan tindakan pemukulan terhadap korban menggunakan kayu atau balok. “Aku yang mukul… sampai mati,” katanya.
Dalam video itu juga terungkap bahwa korban sempat melakukan perlawanan dan bahkan meminta maaf, namun hal tersebut tidak menghentikan aksi pelaku. “Dia sempat minta maaf, tapi tetap saya pukul sampai mati,” lanjutnya.
Setelah korban dinyatakan tidak bernyawa, pelaku mengaku mendapat arahan untuk memotong tubuh korban. Ia menyebut secara jelas bahwa ide mutilasi muncul dari sosok yang disebutnya sebagai “ibu”. “Disuruh bilang potong saja,” ungkapnya.
Pelaku kemudian memutilasi tubuh korban dimulai dari bagian kaki. Ia menjelaskan bahwa dirinya menggunakan alat yang sudah tersedia di lokasi, termasuk parang dan perlengkapan lain yang disebut merupakan milik pihak tersebut. Proses mutilasi dilakukan secara bertahap. Bagian tubuh korban dipotong-potong, kemudian dimasukkan ke dalam karung.
Bantuan dari Pihak Lain
Pelaku juga mengakui bahwa ia tidak bekerja sendirian dalam tahap pasca-pembunuhan tersebut. Dalam video, ia menyebut ada pihak lain yang membantu membuka karung, membersihkan darah, hingga ikut serta dalam proses pembuangan jasad korban. “Dia yang pegang karungnya… dia juga yang bersihkan darah,” ujarnya.
Setelah proses mutilasi selesai, pelaku bersama orang tersebut membawa potongan tubuh korban menggunakan kendaraan secara terpisah. Mereka bolak-balik menuju lokasi pembuangan sebanyak dua kali. “Dua kali ngangkat, bolak-balik,” katanya.
Pelaku juga menyebut bahwa lokasi pembuangan ditentukan oleh orang tersebut. Bagian tubuh korban dibuang secara terpisah, dimulai dari bagian yang paling jauh terlebih dahulu. “Dia yang nunjukkan tempatnya,” ucap pelaku.
Pengakuan tersebut sontak memicu reaksi luas dari masyarakat. Banyak pihak mengecam tindakan keji tersebut, terlebih karena dilakukan pada momen sakral Idulfitri yang identik dengan nilai-nilai kemanusiaan, pengampunan, dan kedamaian.











