Kasus Rudapaksa Remaja di Flores Timur: Kehancuran Karier dan Trauma Berat
Seorang remaja putri berinisial MGL (16) mengalami pendarahan hebat hingga harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami kejadian tidak senonoh. Kejadian ini terjadi saat korban sedang mengurus ijazahnya di sebuah sekolah SMP di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT.
Pada saat itu, MGL bertemu dengan Aloysius Dalo Odjan (24) alias ADO, seorang oknum TNI yang kemudian diduga merudapaksa korban. Kejadian ini menimbulkan trauma berat bagi korban dan keluarga, serta memicu proses hukum yang akhirnya berujung pada pemecatan ADO dari TNI AD.
Pemecatan ADO dari TNI AD
ADO dilantik sebagai anggota TNI AD pada 4 Februari 2026, namun statusnya dicabut oleh Pusat Pendidikan Ajudan Jenderal (Pusdikajen) Ditajenad Lembang setelah kasus pencabulan anak di bawah umur ini menjadi perhatian publik. Pemecatan ini terjadi pada Maret 2026, setelah kasus tersebut kembali muncul ke permukaan melalui unggahan di media sosial.
Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra, menjelaskan bahwa tim Polres Flores Timur menjemput ADO di Bandara Frans Seda, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, pada Rabu (11/3/2026). Setibanya di bandara, tersangka dibawa menuju Makodim 1603/Sikka untuk dilakukan proses serah terima dari pihak Rindam IX/Udayana kepada penyidik Polres Flores Timur.
Saat ini, ADO ditahan di Polres Flores Timur untuk menjalani pemeriksaan oleh penyidik. Adhitya memastikan proses penyidikan kasus tersebut akan dilakukan secara profesional, transparan, sesuai prosedur hukum yang berlaku.
Awal Kasus Rudapaksa
Kasus ini bermula pada 31 Agustus 2025. Saat mengurus ijazahnya, MGL bertemu dengan ADO. Usai mengurus ijazah, ADO mengajak MGL mencari tempat minuman dingin naik sepeda motor. Namun, ADO membawa korban ke rumahnya di Desa Lamawalang, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur.
Di sana, ADO diduga memperkosa MGL. Setelah itu, pelaku mengantar korban pulang ke rumah. Menurut ibu korban, Theresia Jawa Welan, mereka bukan pacaran, hanya kenalan saat urus ijazah SMP. Saat itu, Theresia sedang bekerja dan tidak ada orang di rumah.
Korban Pendarahan Hebat
Theresia menceritakan, usai kejadian itu, putrinya MGL mengalami pendarahan hebat hingga dilarikan ke rumah sakit. Awalnya, MGL sempat mengaku mengalami haid, tetapi setelah terus ditanya, dia akhirnya mengungkapkan kejadian sebenarnya.
Mendengar pengakuan anaknya, Theresia dan keluarga geram dan membuat laporan polisi. Namun, kasus itu tidak berproses di Polres Flores Timur karena penyidik berdalih tak cukup bukti. Sejak kejadian itu, Theresia memilih untuk tidak lagi bekerja sebagai penjaga toko sembako dan fokus mengurus anaknya yang trauma.
Kesulitan Mendapatkan Keadilan Hukum
Perjuangan Theresia dan putrinya untuk mendapatkan keadilan hukum kembali mendapat kendala ketika ADO lulus seleksi TNI AD. Meskipun demikian, kasus ini kembali merebak lewat unggahan di media sosial.
Theresia merasa segala peristiwa sama sekali tidak adil baginya. Anaknya yang menjadi korban pelecehan, kini harus menanggung ancaman yang tidak pernah ia lakukan. Akhirnya, ia memutuskan untuk tidak damai dan melanjutkan proses hukum.
Hingga akhirnya kabar baik datang untuknya di pertengahan Maret 2026 ini. ADO dipecat dari TNI dan beberapa waktu ke depan akan menjalani proses hukum atas perbuatannya.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











