My WordPress Blog

AS jual senjata Rp279 triliun ke negara Teluk selama perang Iran

Rincian Penjualan Senjata ke Tiga Negara



Kuwait menyepakati salah satu paket persenjataan tunggal terbesar senilai 8 miliar dolar AS (Rp135 triliun). Dana tersebut dialokasikan untuk sistem radar sensor pertahanan udara dan rudal tingkat bawah.

UEA akan menerima paket persenjataan militer senilai lebih dari 8,4 miliar dolar AS (Rp142 triliun) yang mencakup radar pelacak ancaman rudal balistik jarak jauh seharga 4,5 miliar dolar AS (Rp76 triliun). Abu Dhabi juga membeli sistem penangkal drone, rudal udara-ke-udara, serta amunisi mutakhir untuk jet tempur F-16.

Sementara itu, Yordania mendapatkan alokasi dukungan militer senilai 70,5 juta dolar AS (Rp1,1 triliun) yang berfokus pada pemeliharaan, logistik, dan dukungan amunisi untuk armada udara mereka. Armada penerbangan yang masuk dalam program perawatan ini meliputi pesawat tempur F-16, C-130, dan F-5.

“Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional AS dengan meningkatkan keamanan mitra pertahanan utama,” kata perwakilan Kementerian Luar Negeri AS. Pengadaan senjata bernilai fantastis ini juga menguntungkan sejumlah perusahaan manufaktur alutsista raksasa AS. RTX Corporation, Northrop Grumman, dan Lockheed Martin Corporation akan menjadi kontraktor utama yang memproduksi pesanan tersebut.

Serangan Balasan Iran Sasar Fasilitas Energi



Jual beli senjata terjadi setelah Iran meluncurkan rentetan serangan rudal dan drone ke negara-negara Teluk. Aksi tersebut merupakan balasan atas kampanye udara besar-besaran AS dan Israel sejak akhir bulan lalu, termasuk yang menghantam fasilitas gas alam Pars.

Rentetan proyektil Iran telah menyebabkan kerusakan pada pabrik produksi gas terbesar di Qatar. Selain Qatar, serangan Iran juga menargetkan kilang minyak Arab Saudi dan memicu kebakaran hebat di dua pabrik Kuwait. Eskalasi ancaman udara memaksa UEA untuk menutup sejumlah fasilitas gas mereka.

Konflik di Timur Tengah telah berdampak pada stabilitas pasar energi global. Harga minyak mentah dunia tercatat melonjak tajam hingga sekitar 50 persen sejak serangan gabungan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari. Pemerintah Arab Saudi telah mengalihkan sebagian besar jalur ekspor minyak dan gasnya ke pesisir Laut Merah untuk menghindari ancaman Iran di Selat Hormuz.

“Kami tidak akan segan-segan untuk mempertahankan negara dan sumber daya ekonomi kami,” ungkap Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan.

Pentagon Akan Ajukan Tambahan Dana Perang



Selain menyetujui penjualan senjata ke negara Teluk, pemerintah AS juga sedang mencari dana tambahan perang dari Kongres. Kementerian Pertahanan AS dilaporkan sedang mengajukan tambahan dana hingga 200 miliar dolar AS (Rp3,3 kuadriliun) untuk mengisi kembali stok amunisi.

Jika disetujui, angka ini akan meningkatkan anggaran militer tahunan AS menjadi lebih dari 1 triliun dolar AS untuk tahun fiskal 2026. Sebelumnya, Pentagon telah menerima suntikan tambahan dana 150 miliar dolar AS (Rp2,5 kuadriliun) melalui undang-undang pajak bulan Juli.

“Tentu saja butuh uang untuk membunuh orang-orang jahat,” tutur Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *