Keterlibatan Pemerintah Desa dalam Penentuan Desil Kesejahteraan Masyarakat
Pemerintah desa di Lombok Timur tidak pernah dilibatkan dalam proses penentuan desil kesejahteraan masyarakat. Hal ini menjadi isu yang disampaikan oleh Forum Komunikasi Kepala Desa (FKKD) setempat, yang menilai bahwa peran pemerintah desa hanya sebatas menerima daftar By Name By Address (BNBA) dari Dinas Sosial.
Peran Pemerintah Desa yang Terbatas
Ketua FKKD Lombok Timur, Hairul Ihsan, menjelaskan bahwa selama ini pemerintah desa tidak terlibat dalam pendataan warga yang akan menerima bantuan sosial. Menurutnya, informasi yang diterima oleh Bupati Lombok Timur tentang keterlibatan desa dalam proses tersebut mungkin kurang akurat.
“Kami anggap perlu meluruskan agar tidak menjadi konsumsi publik yang keliru. Bisa jadi bapak Bupati menerima informasi yang kurang tepat dari Dinas Sosial, sehingga mengira desa yang melakukan pendataan,” ujarnya.
Menurut Hairul, peran pemerintah desa hanya sebatas menerima data BNBA dari Dinas Sosial dan memverifikasi sesuai kuota yang diberikan. Ia menegaskan bahwa tidak ada intervensi dari pihak desa dalam penentuan desil karena kewenangan tersebut berada di tangan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
“Tugas kami hanya memverifikasi, misalnya jika ada warga yang meninggal, tidak punya ahli waris, atau pindah. Hanya sebatas itu, dan kami tidak punya wewenang untuk mengubah data,” tegasnya.
Masalah Akurasi Data Desil
Hairul menyampaikan kekhawatiran tentang ketidakakuratan data desil. Banyak warga yang seharusnya masuk dalam kategori desil 1 atau 2 (sangat miskin) justru terdata di desil yang lebih tinggi, sehingga tidak tercantum sebagai penerima bantuan.
“Bantuan ini adalah paket sembako bersumber dari APBD. Seharusnya ada ruang bagi daerah untuk menyesuaikan data dengan kondisi riil di lapangan melalui usulan pemerintah desa. Namun saat ini, semua penerima mengacu pada BNBA dari DTSEN. Kami hanya bertugas menyalurkan,” paparnya.
FKKD kembali menegaskan bahwa desa tidak memiliki kewenangan untuk mengubah data desil. Bahkan jika terjadi graduasi (pergeseran kesejahteraan) pada penerima, penggantian data hanya bisa dilakukan oleh Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).
“Kami di desa pun bingung dengan data ini. Contohnya, warga A tahun lalu dapat bantuan, lalu tahun ini digraduasi, tapi tiba-tiba namanya muncul lagi sebagai penerima. Ini persoalan akurasi data yang harus dievaluasi bersama agar desil benar-benar mencerminkan kondisi warga,” pungkasnya.
Data Penerima Bantuan Sosial
Sebelumnya, Bupati Lombok Timur Haerul Warisin menegaskan bahwa seluruh penerima bantuan telah melalui verifikasi data yang akurat. Ia menyatakan bahwa penentuan desil sepenuhnya merupakan usulan dari pemerintah desa setempat.
“Penentuan desil itu usulan dari kepala desa. Jadi sasarannya sudah jelas dan data penerimanya sudah ada,” ujar Haerul Warisin.
Bupati Iron menjelaskan bahwa bantuan sembako Ramadan ini diprioritaskan bagi masyarakat dalam desil 1, 2, dan seterusnya, mengacu pada Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). “Penerimanya adalah mereka yang masuk kategori miskin ekstrem dan miskin, sesuai dengan batasan yang telah ditentukan,” imbuhnya.
Pemerintah Kabupaten Lombok Timur menggelontorkan dana sebesar Rp30 miliar untuk program bantuan sosial 2026. Dana tersebut akan dibagikan dalam bentuk paket sembako kepada 198.776 warga yang telah terdaftar.
“Tahun ini kami alokasikan Rp30 miliar, semoga tahun depan tidak turun, bahkan bisa bertahan atau meningkat. Kami akan lihat lagi kemampuan anggarannya nanti,” kata Iron.
Iron memastikan bahwa seluruh proses distribusi sembako yang telah dimulai harus rampung sebelum Hari Raya Idul Fitri, agar masyarakat dapat memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan pokok selama bulan suci dan persiapan Lebaran.
“Program bansos ini adalah wujud nyata kehadiran pemerintah daerah untuk membantu warga yang kesulitan ekonomi, terutama di tengah situasi penyesuaian fiskal yang membatasi ruang gerak anggaran daerah,” pungkasnya.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











